Gambar-Gif

Dikelola Optimal, Kaltara “Rising Star” Mendatang

Monday, November 24th 2014. | Advertorial, Ekonomi & Bisnis, Kaltara
- wisata-kaltara -

kelautan2

 80 Persen Potensi Maritim Belum Dikelola

Jakarta, metrokaltara.com – Pakar Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, mengatakan melimpahnya sumber daya alam (SDA) kelautan dan perikanan dengan posisi geografis yang strategis, membuat Kalimantan Utara (Kaltara) berpotensi besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia, terutama di sektor kemaritiman.

“Potensi yang dimiliki Kaltara luar biasa. Selain potensi SDA perikanan dan kelautan yang melimpah, geografis Kaltara sangat menguntungkan. Bahkan bisa menjadi rising star mendatang seperti Hongkong, Korea Selatan dan China,” kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Megawati itu saat berdialog di Metro TV bersama Penjabat Gubernur Kalimantan Utara Dr H Irianto Lambrie.

Irianto mengatakan potensi perikanan dan kelautan di Kaltara sangat besar. Namun hingga kini baru sedikit yang sudah dimanfaatkan.

 “Masih 80 persen belum terjamah, baru 20 persen termanfaatkan,” ujar Irianto.

Potensi perikanan, dimaksud di antaranya  baik perikanan budidaya berupa areal tambak udang yang sangat luas, serta perikanan tangkap. Kemudian juga potensi rumput laut dan lain-lainnya.

Semua, kata Irianto belum terkelola secara maksimal. Hal ini dikarenakan terkendala kemampuan SDM serta  teknologi. “Tambak misalnya. Selama ini tambak di Kaltara rata-rata masih tambak konvensional. Belum ada budidaya tambak modern. Kita baru akan membuat demplot atau percontohan tambak modern di daerah Sebatik,” kata Irianto lagi.

Begitu pula dengan perikanan tangkap, nelayan-nelayan Indonesia di daerah perbatasan atau di Kaltara rata-rata masih menggunakan alat tangkap tradisional, sementara nelayan ‘tetangga’ dari Malaysia alatnya modern semua. “Belum lagi kendala BBM non subsidi untuk para nelayan yang masih sangat kurang. Nelayan sering kesulitan,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Rokhmin mengutarakan, pemerintah pusat melalui kementrian terkait, harus sigap melihat potensi yang ada di Kaltara ini.

“Saya sendiri melihat langsung kondisi di Kaltara. Nelayan di sana dilarang menggunakan jaring dengan kapasitas besar, karena kapalnya kecil dan tidak berani ke laut lepas. Sementara nelayan Malaysia, bebas mencari ikan dengan peralatan dan kapal yang lebih canggih,” kata guru besar perikanan dan kelautan IPB itu.

Pemerintah, kata dia, harus menyiapkan peralatan tangkap dan membantu kapal kepada nelayan Indonesia. “Nelayan kita harus bersaing dengan nelayan dari luar,” tegasnya.

Kemudian dari segi infrastruktur, harus disiapkan di Kaltara. “Saya mengusulkan, di Tarakan di sekitar pelabuhan itu dibangun kawasan industri pengelolaan hasil perikanan. Jadi hasil tangkap ikan bisa dijual ke luar atau bahkan ekspor sudah dalam bentuk hasil olahan,” ungkapnya.

Kemudian dalam hal pengelolaan tambak, perlu ada revitalisasi tambak, menjadi tambak modern. “Memang peran dari pemerintah pusat sangat diperlukan. Karena ini pasti membutuhkan dana yang sangat besar, ratusan miliar bahkan sampai triliunan,” imbuhnya.

Tingkatkan Pelabuhan Tarakan Menjadi Pelabuhan Ekspor dan Pembangunan KIPI Tanah Kuning

 Menjawab ‘tantangan’ pakar kelautan dan perikanan IPB, Rokhmin Dahuri, Penjabat Gubernur Kaltara, H Irianto Lambrie memaparkan perencanaan peningkatan infrastruktur guna mendukung pemanfaatan potensi SDA yang ada di Kaltara.

Salah satunya, sebut Irianto adalah peningkatan pelabuhan di Kaltara. Yakni, di Tarakan dan Nunukan, serta rencana pembangunan pelabuhan internasional di Bulungan.

“Pelabuhan Tarakan akan kita jadikan sebagai pelabuhan ekspor. Kita sudah komunikasikan dengan beberapa kementrian di pusat, agar membantu percepatan menjadikan pelabuhan Tarakan menjadi pelabuhan ekspor. Termasuk juga peningkatan fasilitas maupun kapasitasnya,” kata Irianto.

Selain di Tarakan, peningkatan pelabuhan juga dilakukan di Nunukan, sebagai daerah perbatasan. “Kenapa Nunukan? Sebagai daerah yang berbatasan langsung ke negara tetangga, pelabuhan Nunukan bisa kita jadikan sebagai sub Hub atau penghubung. Baik ke Malaysia maupun ke Filipina,” terangnya.

Selain peningkatan kedua pelabuhan tersebut, untuk jangka panjang Pemprov Kaltara berencana membangun sebuah kawasan terpadu, yakni KIPI (Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional) Tanah Kuning di daerah Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bulungan. “Di sana (Tanah Kuning) lautnya bagus, kedalamannya bisa menjadi pelabuhan besar. Kemudian sisi daratnya juga luas. Harapan kami, dalam jangka 10-20 tahun mendatang kawasan itu menjadi salah satu pusat perekonomian besar di Indonesia,” kata Irianto optimis.

.

.

Reporter: hmsprov

Editor: Citra Angraynie

Related For Dikelola Optimal, Kaltara “Rising Star” Mendatang