Hendrik Beri Keterangan Tentang Kasus Sabu 1 kilo

Kamis, Februari 28th 2019. | Headline, Hukum & Kriminal, Tarakan

TARAKAN, MK – Dalam agenda sidang yang dijalani Hendrik selaku saksi dalam kasus sabu yang dibawa oleh terdakwa Riski Amelia yang tertangkap di Bandara Juwata beberapa waktu lalu, kini kembali lagi menjalani persidangan untuk mendengarkan keterangan dari Hendrik pada hari Selasa (27/2/2019) di Pengadilan Negeri Tarakan.

Diperiksanya Hendrik dalam beberapa kali persifangan sebagai saksi dalam kasus Sabu yang dibawa oleh Riski Amelia, karena memiliki hubungan dengan kasus tersebut, sehingga Hendrik pun juga harus terlibat dalam kasus tersebut, meskipun hanya sebagai saksi.

Dalam persidangan sebelumnya, Hendrik diketahui memiliki HP saat menjalani hukumannya di Lapas Sungguminasa, Gowa sebelum dipindahkan ke Lapas Tarakan. Namun dipersidangan dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa, diakui Hendrik kalau HP tersebut bisa masuk ke Lapas karena menggunakan jasa titipan dari seseorang yang ada di luar Lapas.

“HP itu yang bisa pakai siapa saja yang mau mengisi pulsa, kalau HP yang ada di Lapas disita petugas baru saya kasih tahu dengan istri nomor baru yang akan digunakan,” terang Hendrik dihadapan Majelis Hakim dan Jakas Penuntut Umum (JPU).

Diakui Hendrik, saat dirinya dipindahkan ke Lapas Tarakan juga belum mendapatkan persetujuan dari Dirjen Pemasyarakatan, karena tersandung perkara baru dirinya kemudian diperiksan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara, sehingga dirinya tetap meminta kepada BNNP Kaltara untuk tetap dipindahkan ke Lapas Tarakan.

“Saat itu pikirian saya sedang kacau, sehingga saya minta dipindahkan ke Lapas Tarakan meski harus di jadikan tersangka,” sebutnya.

Mendengarkan pengakuan dari Hendrik yang tetap bersih keras minta pindah ke Lapas Tarakan meski dijadikan tersangka, akhirnya menjadi tanda tanya Majelis Hakim yang diketuai Toni Irfan. Dimana, Majelis Hakim menyebutkan kenapa harus mengakui perbuatan yang tidak dilakukan, hanya untuk bisa dipindahkan ke Lapas Tarakan.

“Kan tidak masuk akal hukum, kita mau mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan, padahal kalau mau pindah ke lapas lain bisa saja mengajukan permohonan pindah,” ucapnya.

Setelah mendengarkan keterangan Majelis Hakim, Hendrik yang saat itu duduk dikursi pesakitan juga mengaku, saat dirinya dilakukan pemeriksaan di Makassar mendapatkan tekanan dari penyidik BNNP Kaltara. oleh karena itu, Majelis Hakim memerintahkan kepada JPU Debby F Fauzi untuk menghadirkan saksi verba lisan, yakni saksi penangkap agar keterangannya bisa di konfrontir.

“Untuk JPU, di persidangan lanjutan dapat menghadirkan saksi penangkap, biar keterangannya bisa kita konfrontir dengan terdakw, untuk didengarkan bersama-sama,” kata Majelis Hakim.

Saat menjalani persidangan, Hendrik juga mengungkapkan adanya keterlibatan orang lain yang diketahui bernama Daeng yang saat itu mengaku sebagai suami dari Amelia dan Heri teman satu selnya, yang berhubungan dengan Amelia. Hanya saja, kedua orang tersebut sampai saat ini belum diketahui keberadaannya dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Kan Daeng ini teman satu sel saya di Makassar dan Heri di Sungguminasa, tapi saya heran kenapa mereka berdua tidak ikut diperiksa, sementara keduanya ada kaitan dengan kasus ini,” sebut Majelis Hakim.

Sementara Rabshody Roestam, Penasehat Hukum Hendrik menyebutkan, pihaknya mempertanyakan alasan penyidik BNNP Kaltara kenapa tidak melakukan pemeriksaan dan meminta keterangan kepada Daeng dan Heri. Dengan begitu, bisa diketahui peran mereka masing-masing terkait pengriman sabu 1 kg yang akan dibawa Amelia.

“Padahal dari pengakuan terdakwa ini Daeng dan Heri teman satu sel di Makassar dan Sungguminasa, tapi kenapa tidak diperiksan dan bersatus DPO, makanya semuan hanya bisa berasumsi kalau Hendrik yang mengatur pengiriman sabu ke Makassar,” tutupnya.(arz27)

tags: ,

Related For Hendrik Beri Keterangan Tentang Kasus Sabu 1 kilo