Laju Inflasi di Kaltara Masih Terkontrol

by Muhammad Aras

Kegiatan seminar ekonomi dan bisnis prospek, peluang dan tantangan eperkonomian di Kaltara, Rabu (18/10)

Tarakan, MK – Memasuki kuartal ketiga, laju inflasi di Provinsi Kalimantan Utara masih dapat terkontrol dengan baik. Itu terlihat dari Januari hingga September 2017 masih berada pada angka 2,74%, yang artinya masih jauh dari target yang diperkirakan pemerintah yakni sebsesar 4%.

“Kalau kita jaga momentum ini bahwa tiga bulan terakhir mengalami deflasi, 0,24%, sekarang tinggal 3 bulan untuk menjaga inflasi di Kaltara. Sesuai proyeksi kami, kemungkinan inflasi akan dibawah 4% antara 3,6% sampai 4%,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltara, Hendik Sudaryanto, kepada Metro Kaltara, Rabu (18/10)

Ia menjelaskan sebagaimana tugas pokok Bank Indonesia di Kaltara adalah menjaga stabilitas nilai rupiah, khusus untuk daerah yakni menjaga stabilitas harga dengan berkaca pada inflasi tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan dalam menekan laju inflasi adalah  melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Dalam moneter itu kita lihat bahwa lewat tim pengendalian  inflasi daerah itu kita mencoba  untuk melakukan pengendalian inflasi daerah tentunya yang berperan penuh adalah Pemda, karena sisi-sisi yang dipengaruhi daerah adalah terutama sisi suplaynya,” jelasnya.

“Pasokannya, distribusinya, tataniaganya, nah itu nanti dikemas dalam rapat TPID, sejauh mana kita melakukan langkah-langkah pengendalian inflasi. Saat ini kami juga sedang membuat drofmait pengendalian inflasi di Kaltara. Dari situlah diharapkan jangka panjang akan terjadi inflasi daerah yang stabil,” sambung Hendik.

Sementara itu, Former Deputi Bank Indonesia (BI), Dr. Hendar melihat bahwa laju inflasi yang terjadi saat ini di Kaltara dan pada umumnya di Indonesia yakni masih berada dibawah 4%, sehingga dapat diperkirakan untuk kondisi perekonomian di tahun 2018 akan lebih baik dibandikan tahun ini.

“Perkiraan kita untuk 2018 bisa tumbuh antara 5,1% sampai dengan 5,5% artinya ada peluang untuk membayar tapi juga mungkin ada resiko ke bawah. Jadi sekarang perkiraan yang saya liat, APBN dipasang 5,3 persis sama dengan angka pertumbuhan ekonomi AMF yang diterbitkan bulan ini, yakni pertumbuhan Indoensia sekitar 5,3%,” tuturnya.

“Artinya bahwa perekonomian kita akan membaik di 2018 dibanding 2017, tetapi kenaikannya memang mungkin masih belum begitu tajam. Yang penting intruf, jadi kalau misalnya melihat permintaan dunia, global itu kan seiring kenaikannya perumbuhan ekonomi global berati permintaan global juga akan naik. Tertuama dari negara-begara maju sekitar Jepang dan negara-negara Eropa,” terangnya.

Ia menambahkan khusus untuk di Kaltara, banyak potensi yang dapat dikembangkan guna mendongkrak perekonomian menjadi lebih baik. Untuk itu Bank Indonesia (BI) dalam hal ini sebagai  otoritas moneter harus berinisiatif menyikapi potensi-potensi ekspor yang ada bersama dengan Pemerintah Daerah.

“Misalnya kepiting, itu kan luar biasa tetapi tidak bisa dilaksanakan dengan baik karena belum ada yang menjamin fasilitas itu. Saya melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan disini, hanya untuk pembiayaannya dia terkendala dengan belum memenuhi persyaratan perbankan. Hal-hal itu yang perlu diatasi, jadi peran pemerintah pemerintah daerah sangat diharapkan para pengusaha,” tutupnya.

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.