Sidang Putusan Sengketa Lahan Berakhir Ricuh

Senin, April 29th 2019. | Headline, Hukum & Kriminal, Tarakan

Tarakan, MK – Sidang putusan perkara sengketa lahan antara Jamiruddin sebagai penggugat dengan Mariyanto selaku tergugat di Pengadilan Negeri Tarakan ruang III berakhir ricuh, Jamiruddin selaku penggunggat tidak menerima putusan hakim yang menolak gugatan dengan perkara nomor: 37/PDT.G/2018/PN.Tar, Senin (29/04).

Ketua Pengadilan Negeri Tarakan, Subagyo saat menenangkan penggugat Jamiruddin dan rekannya, (Foto: Reza, Senin 29/04)

Sidang yang dipimpin Fatria Gunawan SH, selaku hakim ketua dan Yudhi Kusuma SH serta Mahyudin Igo SH, hakim anggota, membacakan putusan perkara dengan pertimbangan menolak gugatan penggugat karena kurang pihak (error inpesona).

“Bahwa dengan tidak di gugatnya Alimuddin, Hj. Sipa, Andi Maneru dan PT Pertamina, maka gugatan penggungat di nyatakan kurang lengkap, dalam pokok perkara menyatakan gugatan penggugat tidak dapat di terima dan menghukum penggugat dengan membayar perkara sebesar Rp.1.546.000.-“ kutipan sebagian putusan hakim ketua Fatria Gunawan SH saat membacakan putusan sidang.

Sambil berteriak dan menunjuk para hakim, Jamiruddin dan rekannya selaku penggugat meminta agar majelis hakim menunjukan letak kesalahan dokumen miliknya, sambil mengejar hakim yang keluar dari ruang persidangan dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.

“Tunjukan pak hajim, dimana letak kesalahan kami, surat bukti penggarapan kami ada, tunjukan kepada kami salahnya dimana?.” Terang Jamiruddin dengan nada tinggi.

Menurut Jamiruddin, dari awal persidangan, kepemilikan dokumen oleh tergugat tidak benar menyangkut nama di surat penggarapan dan kartu tanda penduduk (KTP) berbeda. Begitupun dengan alat bukti lainnya yang tidak masuk akal tapi tidak menjadi pertimbangan hakim.

“Saat awal persidangan sudah sangat jelas dokumen garapan yang dimiliki tergugat tidak benar, nama di surat garapan Mariyanto sementara nama di KTP Heryanto, sehingga ini sangat jelas dokumen tidak sesuasi dengan nama di KTP.” Ungkap Jamiruddin dengan nada kesal.

Lebih lanjut Jamiruddin mengungkapkan, selain nama yang tidak sesuai, tergugat juga mengkelim telah menggarap lahan tersebut sejak tahun 1979, sementara tergugat lahir tahun 1967, artinya umur 12 tahun sudah memiliki lahan.

“Hampir semua data dan dokumen yang dimiliki tergugat tidak masuk akal, dari pengakuan tergugat, umur 12 tahun sudah memiliki lahan, di perparah lagi dengan surat penggarapan yang dimiliki tahun 1984, pemerintah dan kepala desa mana yang berani mengeluarkan surat penggarapan itu pada saat sumur ekspan saat itu masih aktif dan produksi.” Lanjutnya.

Menurut Jamiruddin, ada yang tidak beres dengan putusan yang dibacakan hakim, semua eksepsi penggugat dan keterangan saksi-saksi yang di hadirkan tidak satupun yang menjadi bahan pertimbangan hakim.

“Ini sangat jelas dan kami meyakini apa yang di putuskan hakim tadi bukan keadilan sehingga kami menduga ada indikasi kolusi dalam kasus ini.” Terangnya.

Sementara itu kuasa hukum tergugat Nazamuddin SH ketika dihubungi Metro Kaltara, tidak berkomentar banyak, Nazamuddin masih menunggu proses hukum lebih lanjut.

“Nanti aja, kita masih menunggu proses hukumnya ya, nanti kan banding kalo merasa kalah”. Singkatnya. (Rz/MK*)

 

Simak Video Lengkapnya:

 

 

 

tags: , , ,

Related For Sidang Putusan Sengketa Lahan Berakhir Ricuh