Walhi Malut Sebut IWIP Terlalu Berani Menempatkan Fasilitas Berisiko Dekat dengan Pemukiman Warga 

by Suiman Namrullah

MALUKU UTARA – Kesenjangan tajam antara narasi resmi negara dan realita di lapangan mewarnai kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di kawasan industri nikel Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Panggung seremonial peluncuran ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan 11 proyek hilirisasi senilai puluhan miliar dolar kontras dengan krisis kemanusiaan serta ekologis yang dihadapi warga lokal dan pekerja.

Berikut adalah penyandingan langsung antara klaim orasi kepresidenan dengan fakta-fakta yang belum terucapkan di balik kemegahan industri Weda Bay:

Presiden menyatakan optimisme ekonomi melihat investasi masif dan mengklaim wajah para pekerja tampak cerah tanpa ada kemuraman.

Sementara masa depan kelam warga sekitar. Di kampung-kampung sekitar lingkar tambang dan industri IWIP, warga kehilangan ruang hidup. Perkebunan pala dan cengkih yang menjadi tumpuan ekonomi turun-temurun lenyap tergusur oleh perluasan kawasan.

Disisi lain Pemerintah berkomitmen menjaga mitra investasi asing yang berani menanamkan modal dan menganggap mereka sebagai saudara bangsa.

Namun kondisi realita di lapangan bahwa warga sendiri menjadi asing

Di tanah kelahirannya, hak-hak masyarakat adat dan lokal terpinggirkan. Kemitraan ekonomi yang diagungkan justru memperlebar ketimpangan, di mana warga lokal menanggung dampak ekologis terbesar sementara keuntungan material mengalir keluar.

Sementara itu Presiden menitipkan pesan secara lisan agar manajemen memperhatikan pengelolaan limbah serta menjaga kualitas air dan udara.

Hal berbeda dengan pernyataan presiden, kondisi krisis ekologis nyata dari sumur asin dan merkuri. Aktivitas industri skala besar telah mencemari sumber air bersih warga. Sumur-sumur di pemukiman sekitar berubah menjadi asin akibat intrusi air laut dan kerusakan hidrologis. Selain itu, investigasi lingkungan menunjukkan indikasi paparan merkuri dan logam berat pada ekosistem laut serta aliran darah warga.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara melayangkan kritik keras terhadap PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) karena dinilai terlalu berani menempatkan berbagai fasilitas industri berisiko tinggi sangat dekat dengan pemukiman warga.

Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara (Malut) Astuti N. Kilwouw mencatat bahwa sejumlah infrastruktur berat dan fasilitas beresiko pengelolaan limbah beroperasi hanya jarak dalam radius ratusan meter dari rumah-rumah warga.

WALHI Maluku Utara (Malut) menyoroti bahaya fasilitas pengelolaan limbah industri yang terletak hanya 500 meter dari pemukiman warga, serta fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang berjarak sekitar 700 meter dari rumah warga.

Selanjutnya risiko teknologi HPAL. Ia mengatakan proses ekstraksi nikel menggunakan HPAL memakai tekanan tinggi, suhu tinggi, dan asam sulfat.

Selain itu, volume limbah besar, karena HPAL menghasilkan limbah (tailing) berupa slurry asam yang korosif dan berbahaya, dengan rasio sekitar 100–133 ton limbah untuk setiap 1 ton nikel yang diproduksi.

Atas dasar hal tersebut, Walhi Malut menyoroti ruang hidup masyarakat tidak seharusnya menjadi zona pertaruhan risiko industri yang belum sepenuhnya terjamin aman bagi keselamatan dan kesehatan warga.

Dalam keterangan Walhi Malut di postingan akun Instagramnya, “Menempatkan Fasilitas Berisiko Dekat dengan Pemukiman Warga.”

Dalam postingan tersebut, apa jadinya ketika fasilitas pengelolaan limbah industri hanya berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman, sementara fasilitas HPAL berada sekitar 700 meter dari rumah warga.

Bagi WALHI Maluku Utara, lanjut dia, jarak sedekat ini bukan persoalan sepele. Ruang hidup warga tidak seharusnya menjadi ruang yang harus menanggung risiko industri.

Kata dia, HPAL (High Pressure Acid Leach) bekerja dengan tekanan tinggi, suhu tinggi, dan asam sulfat untuk mengekstraksi nikel. Proses ini menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar atau tailing, yang membutuhkan sistem pengelolaan, pengawasan, dan mitigasi risiko yang ketat.

“HPAL (High Pressure Acid Leach) menggunakan tekanan tinggi, suhu tinggi, dan asam sulfat dalam proses ekstraksi nikel,” jelasnya.

Limbah yang dihasilkan, lanjut dia, berupa slurry asam dengan sifat sangat korosif dan beracun, serta diproduksi dalam jumlah yang sangat besar-diperkirakan mencapai sekitar 100-133 ton limbah untuk setiap 1 ton nikel yang dihasilkan.

“Fasilitas penampungan limbah HPAL (High Pressure Acid Leach) saat ini dinilai memiliki tingkat risiko tinggi dan belum dapat sepenuhnya dinyatakan aman,” ujarnya dalam postingan di akun Instagram yang dikutip pada Senin (12/10).

Proses ini menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar berupa tailing, yang membutuhkan pengelolaan, pengawasan, dan sistem mitigasi risiko yang ketat.

Namun dalam postingan lain di akun Instagram, dalam pidato Presiden Prabowo yang disampaikan di podium, Cerah di Istana. Akan tetapi gelap di Halmahera, apa yang dialami warga.

Weda Bay, Halmahera Tengah. Presiden meresmikan 11 proyek nikel senilai Rp180 triliun dan melepas ekspor perdana baterai mobil listrik.

“Di podium, semuanya terdengar cerah. Kami sandingkan dengan realita yang belum terucapkan,”ujarnya dalam postingan tersebut.

“Saya lihat masa depan Indonesia cerah,” ucap Presiden Prabowo.

Sementara ekonomi di Halmahera gelap. Ekonomi melonjak 32%. Kemiskinan tidak ikut turun.

Produksi kelapa warga anjlok 82%. Pala anjlok 89%. Dulu memetik dari kebun sendiri, kini membeli di pasar.

Masa depan cerah, tapi piring warga makin kosong.

“Yang percaya sama Indonesia… kita anggap saudara,” kata Presiden Prabowo.

Sementara di Halmahera, para investor dijaga sebagai kehormatan. Warga dibiarkan dengan sumur yang asin.

Hampir separuh warga yang diperiksa, darahnya mengandung merkuri di atas batas aman. Masyarakat adat kehilangan hutan tanpa pernah ditanya. “Investor disebut saudara. Warga disebut apa?.

“Orang Indonesia Timur kerjanya keras.. setia,” ujar Presiden.

Hal berbeda, kerja keras di suhu 40 derajat. Setia di tengah bising 90 desibel. Sebagian dari mereka pulang ke Tual dan Sula, dalam peti.

Mereka tak butuh pujian dan jatah makan. Mereka butuh pulang hidup-hidup. (*)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses