BI Kaltara Catat 120 Ribu Pengguna QRIS, Akseptasi Pembayaran Digital Terus Didorong

by Suiman Namrullah

TARAKAN – Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara terus mendorong peningkatan akseptasi pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di seluruh wilayah Kaltara. Langkah tersebut dibarengi dengan penguatan edukasi dan literasi digital kepada masyarakat agar penggunaan transaksi non-tunai dapat dilakukan secara aman dan bijak.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltara, Agus Taufik, mengatakan peningkatan penggunaan QRIS menjadi salah satu fokus BI untuk memperluas inklusi sistem pembayaran digital di masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat ditemui usai membuka kegiatan Katalis (Kaltara Digital QRIS) di Taman Berkampung, Tarakan, Sabtu malam (15/8/26).

“Harapannya bagaimana kita meningkatkan akseptasi pembayaran digital kepada masyarakat di seluruh Kalimantan Utara, sehingga QRIS semakin populer, memasyarakat dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Agus.

Menurutnya, peningkatan transaksi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi masyarakat. Kemudahan dalam menggunakan QRIS, kata dia, juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap berbagai risiko dalam transaksi digital.

Karena itu, BI bersama pemerintah daerah, perbankan, dan para pemangku kepentingan lainnya terus mendorong edukasi dan literasi keuangan serta literasi digital kepada masyarakat.

Agus menyebutkan, penggunaan QRIS di Kaltara menunjukkan perkembangan positif. Dari sisi frekuensi maupun nominal transaksi, penggunaan pembayaran digital terus mengalami peningkatan seiring semakin baiknya dukungan jaringan komunikasi dan telekomunikasi.

“Termasuk pelaku-pelaku usaha UMKM. Ini tentunya ke depan menjadi kewajiban, termasuk dukungan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk menyediakan infrastruktur yang baik,” katanya.

Hingga 2026, jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara tercatat sekitar 120 ribu pengguna. BI meyakini angka tersebut masih akan terus bertambah seiring semakin luasnya promosi, kemudahan layanan, serta dukungan dari sektor perbankan.

“Kita dorong melalui berbagai promosi produk, berbagai kemudahan layanan, kerja sama, terutama dukungan dari perbankan. Dari Himbara, bank swasta nasional, termasuk Bank Pembangunan Daerah, kita dorong untuk semakin memperluas akseptasi digital oleh masyarakat,” jelasnya.

Agus juga mengakui kalangan generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, menjadi kelompok yang relatif cepat beradaptasi dengan layanan digital. Kebiasaan menggunakan platform digital, termasuk perdagangan elektronik, turut mendorong pemanfaatan QRIS sebagai salah satu pilihan pembayaran.

Meski demikian, BI tidak menargetkan pembayaran digital untuk menggantikan transaksi tunai sepenuhnya. Menurut Agus, pembayaran digital dan uang kartal tetap akan berjalan secara paralel dan saling melengkapi sesuai kebutuhan masyarakat.

“Digitalnya kita terus perkuat. Bukan berarti sistem pembayaran tunai atau uang kartal kita hilangkan. Tetap keduanya saling beriringan dan berjalan,” ujarnya.

Di sisi lain, Agus menekankan pentingnya pemerataan infrastruktur telekomunikasi hingga ke berbagai wilayah di Kaltara. Ketersediaan jaringan yang stabil dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas penggunaan transaksi digital, khususnya di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses.

“Kita bersama-sama, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, menghendaki perluasan dan pemerataan jaringan telekomunikasi lebih merata ke seluruh Kalimantan Utara, sehingga masyarakat akan lebih mudah menggunakan transaksi digital tersebut,” pungkasnya.

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses