Lonjakan Utang Dan Menyusutnya Cadangan Devisa Jadi Sorotan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

by Redaksi Kaltara

Jakarta, MK – Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan meski tekanan eksternal global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Analis Mirae Sekuritas Jessica Tasijawa menilai penurunan cadangan devisa dan lonjakan utang pemerintah menjadi risiko yang perlu dicermati ke depan.

Menurut Jessica, ketidakpastian global masih tinggi, terutama terkait kebijakan perdagangan pemerintahan Donald Trump.

Pemerintah AS diketahui mengajukan banding atas putusan pengadilan yang memblokir tarif global 10% di bawah Bagian 122 Undang-Undang Perdagangan 1974, sekaligus menekan Uni Eropa agar segera menyelesaikan kesepakatan dagang sebelum 4 Juli.

“Perkembangan ini menunjukkan meningkatnya kendala hukum dan politik terhadap kebijakan proteksionis Trump. Namun di sisi lain, pelonggaran tarif berpotensi membantu meredakan tekanan inflasi impor dan mendukung sentimen perdagangan global dalam jangka pendek,” ujar Jessica.

Di tengah kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia turut dibayangi penurunan cadangan devisa. Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi USD146,2 miliar pada April 2026 dari USD148,2 miliar pada Maret 2026.

Penurunan itu terutama dipicu pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah di tengah volatilitas pasar global.

Jessica menjelaskan, penurunan cadangan devisa sebesar USD10,3 miliar secara year-to-date (YTD) menunjukkan meningkatnya biaya stabilisasi nilai tukar. Meski demikian, level cadangan devisa saat ini masih dinilai cukup untuk menjaga ketahanan eksternal Indonesia dalam jangka pendek.

Di sisi fiskal, utang pemerintah Indonesia melonjak 19% secara tahunan menjadi Rp9.920,4 triliun per 26 Maret 2026. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga meningkat menjadi 40,75%.

Menurut Jessica, kenaikan tersebut mencerminkan tingginya ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan berbasis pasar di tengah kebutuhan belanja negara yang terus meningkat dan pertumbuhan pendapatan yang belum seimbang.

“Risiko refinancing juga meningkat, terutama dengan jatuh tempo Surat Berharga Negara (SBN) yang diperkirakan mencapai puncaknya sebesar Rp886 triliun pada 2026,” katanya.

Dari pasar keuangan, total lelang SRBI meningkat 20,2% secara mingguan menjadi Rp32,5 triliun. Tenor 12 bulan masih mendominasi dengan penyerapan Rp25,4 triliun meski imbal hasil turun tipis menjadi 6,4%.

Jessica menilai tingginya minat investor pada tenor panjang menunjukkan daya tarik instrumen domestik masih kuat di tengah volatilitas Rupiah. Stabilnya imbal hasil tenor pendek juga mencerminkan kebijakan moneter BI yang tetap terjaga tanpa menciptakan tekanan likuiditas berlebihan.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun menjadi 6,60%, sedangkan tenor dua tahun berada di level 6,28%. Penurunan yield tersebut didukung oleh langkah stabilisasi BI, masuknya kembali aliran modal asing, pelemahan indeks dolar AS, dan stabilnya Rupiah di kisaran Rp17.382 per dolar AS.

Spread obligasi pemerintah Indonesia terhadap US Treasury juga terus menyempit. Meski sentimen investor mulai membaik, kurva imbal hasil yang masih datar menunjukkan pasar tetap berhati-hati terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan tingginya suku bunga global.

(SAW)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses