Jakarta, MK – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Iran untuk menghentikan serangan rudalnya ke Israel dan kembali melanjutkan jalur diplomasi guna meredakan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke wilayah Israel pada Minggu waktu setempat.
Menurut Trump, langkah terbaik yang dapat diambil Teheran saat ini adalah menghentikan aksi militer dan kembali ke meja perundingan.
“Saya pikir sudah cukup. Kembali ke meja perundingan dan capai kesepakatan,” kata Trump dikutip dari Antara.
Trump juga mengungkapkan bahwa AS dan Iran sebenarnya berada di ambang tercapainya sebuah kesepakatan sebelum serangan rudal tersebut terjadi.
Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan cukup besar, namun situasi berubah setelah eskalasi militer terbaru.
“Kami sangat dekat dengan kesepakatan. Saya memperkirakan perjanjian bisa tercapai dalam waktu dekat, tetapi perkembangan ini jelas tidak membantu proses negosiasi,” ujarnya.
Tak hanya kepada Iran, Trump juga berupaya menahan respons Israel agar konflik tidak semakin meluas. Dalam wawancara dengan media AS, Axios, ia mengatakan akan menghubungi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk meminta agar tidak melakukan serangan balasan.
Menurut Trump, kedua pihak telah menunjukkan kekuatan masing-masing dan kini saatnya menahan diri.
“Saya akan berbicara dengan Netanyahu dan meminta agar tidak melakukan pembalasan. Kita tidak membutuhkan serangan tambahan yang dapat memperburuk keadaan,” katanya.
Sementara itu, laporan CNN menyebut Iran menembakkan sedikitnya 10 rudal balistik ke Israel dalam tiga gelombang serangan terpisah. Militer Israel mengklaim seluruh rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka.
Meski tidak menimbulkan dampak signifikan di lapangan, serangan tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di kawasan. Sejumlah sumber di Israel yang dikutip CNN menyebut pemerintah Israel tengah mempertimbangkan respons keras terhadap aksi Iran.
Situasi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah, terutama jika kedua negara kembali melakukan aksi militer balasan dalam waktu dekat.
(SAW)

