TARAKAN — Keterbatasan perangkat digital dan aturan penggunaan gawai di lingkungan asrama tidak menjadi penghalang bagi Pramesti Enggar Pramita, S.Pd., guru Bahasa Indonesia di SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan, untuk menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan bermakna. Melalui praktik baik bertajuk BUMANTARA (Buka Mata, Nalar, dan Karya), peserta didik diajak belajar teks berita melalui pengalaman jurnalistik yang nyata, mulai dari mengamati peristiwa, memverifikasi fakta, menyusun naskah, hingga memproduksi vlog berita.
Praktik baik yang dimulai sejak September 2022 ini berangkat dari tantangan pembelajaran teks berita kelas XI. Hasil asesmen awal menunjukkan bahwa dari 50 peserta didik yang menjadi dasar data awal, sebanyak 14 peserta didik belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebesar 75%. Peserta didik juga masih membutuhkan pendampingan dalam menyusun naskah sesuai unsur ADIKSIMBA serta membedakan fakta dan opini dalam informasi yang ditemukan secara daring.
Kondisi sekolah berasrama menghadirkan tantangan tersendiri. Ketersediaan perangkat digital terbatas, akses internet tidak selalu stabil, dan penggunaan gawai harus menyesuaikan jadwal serta aturan pondok. Situasi tersebut mendorong Pramesti untuk merancang pembelajaran yang sederhana, adaptif, dan tetap berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Dalam BUMANTARA, kelas dikembangkan menjadi ruang redaksi digital. Peserta didik bekerja dalam kelompok redaksi dengan pembagian peran sesuai minat dan kemampuan, seperti reporter, penulis naskah, pemeriksa fakta, kamerawan, dan editor. Sebelum berita diproduksi menjadi video, peserta didik melakukan wawancara, memeriksa sumber informasi menggunakan Lembar Verifikasi Fakta, menyusun naskah berdasarkan unsur ADIKSIMBA, serta merevisi tulisan melalui umpan balik antarteman.
Kegiatan dilaksanakan melalui lima kali pertemuan, yaitu pengenalan teks berita dan pembentukan kelompok redaksi, penyusunan serta revisi naskah, pengambilan video, penyuntingan, dan penayangan karya disertai evaluasi bersama.
Keterbatasan perangkat diatasi dengan pengaturan giliran penggunaan laptop dan ponsel. Jadwal kegiatan dikoordinasikan dengan pengasuh pondok agar proses pembelajaran tidak mengganggu aktivitas asrama. Peserta didik yang mengalami kesulitan teknis juga memperoleh pendampingan melalui tutor sebaya dan kakak kelas.
Hasil penerapan pada tahun ajaran 2025/2026 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sebanyak 36 dari 50 peserta didik atau 72% mampu menyusun naskah sesuai unsur ADIKSIMBA dengan benar pada percobaan pertama. Sebanyak 14 peserta didik lainnya memperoleh kesempatan melakukan revisi tambahan dengan pendampingan. Seluruh 10 kelompok redaksi juga berhasil menyelesaikan video berita.
Data asesmen menunjukkan rata-rata nilai meningkat dari 75,8 menjadi 86,4, atau naik 10,6 poin. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan pembelajaran, yang dilengkapi dengan pengamatan terhadap proses kerja kelompok, kemampuan memverifikasi informasi, dan kepercayaan diri peserta didik ketika menyampaikan berita.
Lebih dari sekadar menghasilkan video, BUMANTARA menanamkan kebiasaan untuk tidak langsung mempercayai informasi, memeriksa sumber, memisahkan fakta dari opini, dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab. Peserta didik tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga belajar menjadi produsen informasi yang kritis dan etis.
Praktik ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara guru, peserta didik, pengasuh pondok, dan warga sekolah. Penggunaan teknologi tidak harus bergantung pada fasilitas yang kompleks. Dengan perencanaan, pembagian peran, pendampingan, serta koordinasi yang baik, perangkat yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
BUMANTARA memiliki peluang untuk diadaptasi oleh sekolah lain, khususnya sekolah berasrama dan satuan pendidikan dengan keterbatasan perangkat. Alur verifikasi informasi, penyusunan naskah, kerja kelompok, dan produksi karya dapat disesuaikan dengan mata pelajaran, tujuan pembelajaran, serta kondisi masing-masing sekolah.
Melalui partisipasinya dalam Apresiasi GTK Dedikatif, Pramesti berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi sesama pendidik untuk terus berinovasi sesuai kebutuhan peserta didik.
BUMANTARA mengajarkan bahwa keterbatasan bukan akhir dari inovasi. Dengan membuka mata terhadap lingkungan, mengasah nalar untuk memeriksa kebenaran, dan menghasilkan karya yang bertanggung jawab, pembelajaran dapat menjadi pengalaman nyata yang berdampak bagi kehidupan.


