BULUNGAN – Pengembangan budidaya tambak berkelanjutan yang terintegrasi dengan ekosistem mangrove mulai menunjukkan hasil di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Hal tersebut terlihat dari hasil panen siklus pertama tambak budidaya terhubung mangrove atau Associated Mangrove Aquaculture (AMA) yang ditinjau langsung oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan, Syam Hendarsyah, bersama sejumlah perwakilan instansi pemerintah daerah, universitas, kelompok masyarakat, sektor swasta, serta tim proyek Nature-Based Solutions for Climate-Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (NASCLIM), Selasa (13/10/26).
Kegiatan peninjauan tersebut meliputi panen hasil tambak, monitoring dan evaluasi, serta penyusunan rekomendasi untuk pengembangan program ke depan.
Salah satu hasil yang menjadi perhatian adalah peningkatan produksi udang windu yang dibudidayakan oleh Kelompok Liagu Lestari Barokah. Dengan jumlah benih tebar yang sama, hasil panen udang windu meningkat dari sebelumnya 130 kilogram menjadi 370 kilogram.
Pengurus Kelompok Liagu Lestari Barokah, Jhony Lee, mengatakan peningkatan tersebut mulai terlihat setelah kelompok menerapkan sejumlah materi yang diperoleh melalui kegiatan Sekolah Lapang, termasuk perbaikan kualitas air tambak dan penggunaan mikroorganisme lokal (MOL).
Menurutnya, Sekolah Lapang yang diikuti masyarakat mencakup 12 materi terkait pengelolaan lingkungan dan pengembangan usaha budidaya berdasarkan potensi lokal.
“Kami melihat pertumbuhan udang windu yang semakin baik dan bandeng yang dibudidayakan lebih tahan terhadap penyakit. Ketika mangrove mulai tumbuh, vegetasi ini diharapkan dapat berfungsi sebagai penyaring alami yang turut menjaga kualitas air dan kesehatan tambak,” ujar Jhony.
Program budidaya tambak terhubung mangrove merupakan salah satu pendekatan pengelolaan perikanan pesisir yang mengintegrasikan kegiatan budidaya air payau, seperti udang, ikan, dan kepiting, dengan keberadaan ekosistem mangrove dalam satu kawasan.
Pendekatan ini dinilai relevan untuk wilayah Kalimantan Utara yang memiliki bentang ekosistem mangrove cukup luas, mulai dari Delta Kayan di Kabupaten Bulungan hingga kawasan Sembakung di Kabupaten Nunukan.
Namun, perubahan fungsi kawasan mangrove menjadi tambak dan penggunaan lahan lainnya yang terjadi sejak dekade 1990-an menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Pengelolaan tambak yang tidak memperhatikan aspek lingkungan berpotensi mengurangi fungsi ekologis mangrove, mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir, serta memengaruhi produktivitas perikanan dan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Koordinator Program Pesisir dan Delta Wetlands International Indonesia, Aji Nuralam Dwisutono, menjelaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung kehidupan masyarakat pesisir.
“Ekosistem lahan basah seperti mangrove berperan penting dalam menjaga ketersediaan air, melestarikan keanekaragaman hayati, mengatur iklim, mendukung pembangunan berkelanjutan, serta meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia,” jelas Aji.
Untuk menjawab tantangan tersebut, NASCLIM dikembangkan melalui pendekatan solusi berbasis alam yang dipadukan dengan penguatan mata pencaharian masyarakat. Program lima tahun yang didanai Pemerintah Kanada ini dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan, Syam Hendarsyah, mengatakan pengembangan budidaya tambak yang terhubung dengan mangrove sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurut Syam, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan rehabilitasi mangrove melalui sistem budidaya tambak berkelanjutan.
“Program ini bisa menjadi model pendekatan yang tidak hanya dilaksanakan oleh teman-teman NASCLIM, tetapi juga dapat diimplementasikan di tempat lain. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat di sekitar kawasan pesisir, khususnya kawasan mangrove, dapat dilibatkan secara aktif,” ujar Syam.
Ia menambahkan, pengelolaan perikanan pesisir perlu didukung melalui kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat hingga mitra pelaksana.
Upaya tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas nelayan dan pembudidaya ikan, pengembangan teknologi perikanan, pengawasan sumber daya ikan, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung.
Ke depan, penerapan sistem AMA di desa-desa dampingan NASCLIM diharapkan dapat menjadi salah satu model pengelolaan tambak berkelanjutan yang menggabungkan pemulihan ekosistem mangrove dengan peningkatan produktivitas perikanan.
Pengembangannya tetap memerlukan penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan kemampuan teknis budidaya, serta komitmen dan kolaborasi seluruh pihak agar manfaat ekonomi dan ekologisnya dapat berjalan secara berkelanjutan.

