Jakarta, MK – Amerika Serikat bersiap memulai operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kapal-kapal dapat keluar dengan aman dari kawasan Teluk.
Donald Trump mengaku operasi ini dilatarbelakangi permintaan sejumlah negara agar kapal mereka bisa melintas dengan aman di Selat Hormuz. Pemerintah AS kemudian merespons dengan menyiapkan misi yang dinamai Project Freedom.
“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan yang dibatasi ini, agar mereka bisa kembali menjalankan aktivitasnya,” ujar Trump.
Sejumlah kapal dilaporkan tertahan di kawasan tersebut dan mulai mengalami keterbatasan logistik bagi awaknya. Operasi pengawalan itu dijadwalkan mulai berjalan pada Senin, 4 Mei 2026 waktu setempat.
Libatkan armada tempur
Komando Pusat AS menyatakan akan mendukung misi tersebut dengan pengerahan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, serta ribuan personel militer.
“Banyak kapal yang terdampar mulai kehabisan makanan dan kebutuhan penting lainnya agar awak tetap bisa bertahan dalam kondisi sehat dan layak,” katanya.
Donald Trump juga mengungkapkan komunikasi dengan Iran menunjukkan perkembangan positif. Sebelumnya, Iran mengajukan rencana 14 poin untuk mengakhiri konflik, meski belum tercapai kesepakatan dengan AS.
“Saya sepenuhnya mengetahui bahwa perwakilan saya sedang melakukan pembicaraan yang sangat positif dengan Iran dan diskusi ini bisa menghasilkan sesuatu yang sangat baik bagi semua pihak,” terang Trump.
Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian karena perannya yang vital bagi perekonomian global. Iran mempertahankan kendali atas jalur tersebut, sementara AS menerapkan blokade balasan terhadap pelabuhan Iran.
Kondisi ini berdampak pada distribusi minyak, gas, dan komoditas penting lainnya. Data intelijen maritim mencatat lebih dari 900 kapal komersial masih berada di kawasan Teluk, mencerminkan tekanan besar terhadap rantai pasok global.
(PRI)

