Jakarta, MK – Keterlibatan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela dinilai menjadi peluang penting untuk memperkuat industri hulu migas nasional sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi Indonesia.
Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo meyakini PHE memiliki kapasitas untuk mengambil peran strategis dalam proyek gas raksasa tersebut. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki subholding upstream Pertamina itu menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan Blok Masela yang kini memasuki tahap baru setelah bertahun-tahun tertunda.
Proyek ini sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Setelah penantian panjang itu, Blok Masela memasuki babak baru seiring masuknya PHE dengan hak partisipasi sebesar 20% pada tahun 2023. Keikutsertaan Pertamina memberikan dorongan terhadap persetujuan revisi Plan of Development (POD) dari Pemerintah pada November 2023.
PHE resmi mengantongi hak partisipasi sebesar 20 persen di Blok Masela pada 2023. Kehadiran perusahaan pelat merah tersebut turut mendorong persetujuan revisi Plan of Development (POD) oleh pemerintah pada November 2023, membuka jalan bagi percepatan proyek yang sebelumnya telah tertunda hampir tiga dekade sejak kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998.
Sartono mengatakan keterlibatan Pertamina tidak boleh berhenti pada kepemilikan saham semata. Ia berharap kontribusi perusahaan dapat terlihat secara nyata, terutama pada tahap konstruksi melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pelibatan industri nasional, penguatan transfer teknologi, hingga efisiensi biaya proyek. Ia juga menilai PHE memiliki sumber daya manusia yang mampu mendukung pengembangan proyek dari sisi teknis, komersial, maupun pengelolaan lingkungan.
Meski demikian, Sartono mengingatkan bahwa Blok Masela merupakan proyek LNG berskala global yang menuntut standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang tinggi. Karena itu, keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan daya saing bisnis harus menjadi perhatian utama.
“Penguatan kolaborasi teknologi dan tata kelola menjadi kunci agar proyek ini mampu bersaing di pasar LNG dunia,” ujarnya.
Dengan cadangan gas sekitar 18,54 triliun kaki kubik (TCF) dan kapasitas produksi LNG mencapai 9,5 juta ton per tahun, Blok Masela diharapkan mampu meningkatkan ketahanan energi nasional, memperbesar penerimaan negara, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia timur.
Menurut Sartono, keberhasilan proyek tersebut juga harus diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Pasokan gas untuk kebutuhan industri dan pembangkit listrik di dalam negeri, katanya, perlu menjadi prioritas selain potensi ekspor LNG.
Pandangan serupa disampaikan anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha. Ia menilai masuknya PHE memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia karena negara tidak hanya memperoleh bagian penerimaan sebagai pemilik sumber daya, tetapi juga memperoleh manfaat melalui kepemilikan Pertamina dalam proyek tersebut. Satya berharap pengembangan Blok Masela dapat berjalan sesuai rencana setelah mengalami penundaan selama puluhan tahun.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melakukan peletakan batu pertama pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7). Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya tahap baru pembangunan proyek gas alam cair (LNG) yang telah lama dinantikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut proyek dengan nilai investasi sekitar USD20,9 miliar atau setara Rp352 triliun itu diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang besar. Pemerintah memperkirakan penerimaan langsung negara dapat mencapai sekitar USD37,8 miliar, ditambah potensi penerimaan pajak tidak langsung sekitar USD6,43 miliar sepanjang masa pengembangan proyek.
(SAW)

