TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mengubah kebiasaan masyarakat Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Masker yang sebelumnya identik dengan masa pandemi Covid-19, kini kembali menjadi barang yang tidak boleh tertinggal ketika warga keluar rumah.
Bukan hanya orang dewasa. Anak-anak hingga lanjut usia mulai terlihat menggunakan masker, baik ketika beraktivitas di luar rumah maupun saat menjalankan kegiatan sehari-hari.
Kondisi tersebut terjadi setelah pemerintah daerah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap Karhutla yang menyebar ke sejumlah wilayah Tana Tidung.
Imbauan itu mendapat respons positif dari masyarakat. Warga mulai menyadari bahwa asap bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat udara terasa pengap, tetapi juga membawa risiko terhadap kesehatan, khususnya sistem pernapasan.
Suci, salah seorang warga Tana Tidung, mengaku baru mengetahui imbauan penggunaan masker setelah melihat informasi pemerintah daerah melalui media sosial.
“Saya buka HP, tiba-tiba ada berita Ibu Vamelia sama Pak Ibrahim Ali, Bupati kita, meminta warga Tana Tidung pakai masker. Saya pikir Covid, ternyata asap akibat maraknya pembakaran hutan dan asapnya sampai di Tana Tidung,” katanya, Sabtu (5/9/2026).
Sejak mengetahui kondisi tersebut, Suci memilih lebih berhati-hati. Ia bahkan mulai memakaikan masker kepada anak-anaknya yang masih kecil.
“Makanya saya dan anak-anak saya yang kecil juga sekarang saya pakaikan masker. Takut juga menghirup udara yang saat ini sedang dilanda asap,” ujarnya.
Bagi Suci, keselamatan anak menjadi alasan utama. Ia tidak ingin paparan asap yang berlangsung terus-menerus menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak yang dinilai lebih rentan terhadap kualitas udara yang buruk.
Hal serupa dilakukan Norbayah. Ia mengaku kini mulai membiasakan diri menggunakan masker karena khawatir udara yang tercampur asap dapat mengganggu kesehatan.
“Anak saya bilang, Mama harus pakai masker karena udara akibat kebakaran hutan semakin merebak. Takut juga penyakit pernapasan seperti ISPA mengintai,” tuturnya.
Masker Kembali Jadi Pelindung
Fenomena penggunaan masker di tengah masyarakat Tana Tidung menjadi gambaran sederhana bagaimana asap Karhutla mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari warga.
Jika sebelumnya masker digunakan untuk mencegah penularan penyakit saat pandemi, kini benda yang sama kembali digunakan untuk mengurangi paparan asap dan partikel yang berpotensi masuk ke saluran pernapasan.
Di sejumlah tempat, warga terlihat mengenakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Para ibu juga mulai memperhatikan penggunaan masker bagi anak-anak mereka.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting sebagai bentuk kewaspadaan masyarakat sembari menunggu kondisi udara kembali membaik.
Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali, S.P., mengajak seluruh masyarakat tidak menganggap remeh dampak asap Karhutla.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah, serta mengurangi kegiatan di luar ruangan apabila kondisi asap semakin pekat.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat Tana Tidung untuk menjaga kesehatan dan menggunakan masker, khususnya saat berada di luar rumah. Jangan anggap remeh dampak asap Karhutla karena kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Ibrahim Ali.
ISPA Mengintai di Tengah Kepungan Asap
Asap Karhutla tidak hanya membuat udara menjadi keruh. Di dalamnya terdapat berbagai partikel yang dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Paparan asap dapat memicu sejumlah keluhan kesehatan, seperti batuk, tenggorokan terasa gatal atau perih, hidung tidak nyaman, mata perih hingga sesak napas.
Apabila paparan berlangsung dalam waktu lama, gangguan kesehatan pada saluran pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), perlu diwaspadai.
Kelompok masyarakat seperti anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki sensitivitas terhadap asap menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu sampai mengalami gangguan kesehatan untuk mulai menggunakan masker.
Membatasi aktivitas di luar rumah ketika asap tebal, menggunakan masker saat harus keluar rumah, memperbanyak minum air putih dan menjaga kebersihan menjadi langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan asap.
Bupati Ibrahim Ali juga meminta keluarga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak.
“Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, kurangi aktivitas di luar rumah ketika asap cukup tebal. Gunakan masker dan jaga kondisi kesehatan, terutama anak-anak kita,” pesannya.
Dari Layar Ponsel ke Kehidupan Nyata
Bagi sebagian warga, informasi mengenai bahaya asap Karhutla awalnya hanya muncul sebagai berita di layar ponsel.
Namun, ketika asap mulai terasa dan jarak pandang terganggu, informasi tersebut berubah menjadi tindakan nyata.
Masker kembali dikenakan. Anak-anak mulai diminta tidak terlalu sering bermain di luar. Para orang tua menjadi lebih waspada terhadap kondisi udara.
Di tengah kepungan asap, masker kini bukan lagi sekadar benda yang pernah populer pada masa pandemi.
Bagi masyarakat Tana Tidung, masker menjadi simbol kewaspadaan baru: sebuah langkah sederhana untuk melindungi keluarga dari ancaman yang tidak terlihat, tetapi dapat masuk bersama setiap tarikan napas. (rko)


