BULUNGAN, MK – Pemerintah Kabupaten Bulungan bersiap meluncurkan produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sarinah, Jakarta, pada tanggal 30 mendatang. Peluncuran ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar produk lokal ke tingkat nasional.
Bupati Bulungan menyampaikan bahwa persiapan peluncuran sudah berjalan dan sejumlah produk telah dipajang di lokasi. Ia bahkan telah meninjau langsung kualitas produk yang akan dipasarkan.
“Insya Allah kita tidak ada halangan, tanggal 30 secara resmi di Sarinah kita akan melaunching produk-produk UMKM,” ujarnya.
Produk yang akan dipasarkan berasal dari berbagai desa di Bulungan, di antaranya cokelat dari kelompok tani di Desa Antutan dan Desa Pejalin, serta aneka camilan hasil produksi ibu-ibu di Desa Mangkupadi.
Menurutnya, produk-produk tersebut sudah mulai mendapat respons positif dari masyarakat. “Saya sudah cek, produk-produk itu sudah terpajang dan Alhamdulillah memang sudah ada konsumsi yang dilakukan,” katanya.
Selain dipasarkan di Sarinah, Pemkab Bulungan juga menjajaki peluang kerja sama dengan pihak bandara agar produk UMKM bisa dijual sebagai oleh-oleh khas daerah.
“Insya Allah kita jajaki kerja sama, termasuk mungkin dari Bandara Tarakan ataupun Bandara Tanjung Harapan, supaya produk UMKM bisa menjadi oleh-oleh bagi siapapun yang datang ke Kabupaten Bulungan,” jelasnya.
Untuk tahap awal, dari 70 produk yang diajukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Desperindakop), sebanyak 30 produk telah lolos proses kurasi.
“Dari 70 yang diajukan untuk dikurasi, yang pasti sudah disetujui ada 30,” ungkapnya.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan stok agar permintaan pasar dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
“Kita pastikan jangan sampai produk ini putus. Ketika dibutuhkan harus ready stock, sehingga bisa memenuhi permintaan,” tegasnya.
Terkait bahan baku, khususnya cokelat, Pemkab Bulungan akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian serta kelompok tani untuk mengatur siklus produksi. Hal ini penting mengingat panen cokelat tidak dilakukan setiap hari.
“Kalau dari sisi teknis, minimal dua kali dalam sebulan kita bisa melakukan panen. Tinggal bagaimana mengatur ritme produksinya,” pungkasnya.(Fy/red)

