TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Suasana Pendopo Djaparuddin pada Kamis (11/12/2025) pagi tampak lebih ramai dari biasanya. Ratusan perangkat desa dari seluruh penjuru Tana Tidung berdatangan, sebagian mengenakan seragam rapi khas desa masing-masing. Mereka berkumpul dalam satu momentum penting. Musyawarah Daerah (MUSDA) Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Tana Tidung.
Dengan tema “Melalui musyawarah daerah PPDI Kabupaten Tana Tidung kita wujudkan perangkat desa yang memiliki semangat gotong royong, persatuan, berintegritas dan profesional”, acara ini menjadi ruang besar bagi perangkat desa untuk menyatukan komitmen dan memperkuat peran strategis mereka sebagai garda terdepan pembangunan daerah.
Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali hadir didampingi Ketua TP-PKK Vamelia Ibrahim. Tampak pula Asisten II, Kadis PMD, camat, kepala desa se-Kabupaten Tana Tidung, hingga para pendamping desa yang sehari-hari mendampingi jalannya pembangunan di tingkat akar rumput.
Saat memberikan arahan, Bupati Ibrahim Ali berbicara dengan nada tegas namun penuh apresiasi. Ia mengingatkan bahwa perangkat desa bukan hanya pelaksana administrasi, tetapi fondasi utama yang menjaga jalannya pemerintahan di tingkat paling dekat dengan warga.
“Perangkat desa memiliki peran yang sangat vital sebagai ujung tombak pemerintahan dan pelayanan publik. Keberhasilan pembangunan daerah sangat ditentukan oleh kinerja pemerintahan desa dalam mengimplementasikan kebijakan secara tepat dan konsisten,” ucapnya, disambut anggukan peserta yang memenuhi pendopo.
Ia kemudian memaparkan arah kebijakan Pemkab Tana Tidung yang selaras dengan visi dan misi daerah. Pembangunan desa, katanya, tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi harus menjadi upaya serius menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Potensi unggulan seperti pertanian, perikanan, perkebunan, UMKM hingga BUMDes harus dikembangkan maksimal agar mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan mewujudkan desa mandiri.
Di sela penyampaian materi, Bupati juga menyinggung isu penting yang masih menjadi perhatian nasional stunting. Ia menekankan bahwa penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan satu sektor, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh aparatur desa.
“Penguatan Posyandu, edukasi gizi, pemantauan kesehatan ibu dan anak, dan pemanfaatan Dana Desa secara tepat sasaran adalah langkah yang harus dijalankan bersama,” tegasnya.
Suasana pendopo sejenak hening ketika Bupati mengajak perangkat desa untuk tidak sekadar menjalankan peran administratif, tetapi hadir sebagai penggerak kesejahteraan warganya.
Tak berhenti di sana, Bupati juga menyoroti transformasi digital sebagai bagian penting reformasi birokrasi desa. Ia mendorong percepatan digitalisasi desa — mulai dari tata kelola administrasi, pelayanan masyarakat, hingga pengelolaan keuangan desa — demi terciptanya pemerintahan yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel.
Peserta MUSDA terlihat mencatat, berdiskusi, bahkan sesekali bertukar pandang ketika poin-poin penting disampaikan. Kehadiran mereka mencerminkan harapan besar bahwa perangkat desa tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga motor penggerak perubahan.
Pada akhirnya, MUSDA PPDI ini tidak sekadar agenda rutinitas organisasi. Acara ini menjadi momentum memperkuat ikatan antar perangkat desa serta menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan desa sebagai pusat kemajuan Tana Tidung. (rko)



