TARAKAN – Sekitar 20 UMKM binaan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara ikut dalam Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Kalimantan Utara di Tarakan. Keikutsertaan tersebut diarahkan untuk mempertemukan produk UMKM Kaltara dengan pasar yang lebih luas, termasuk Jawa Timur dan pasar ekspor.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik mengatakan keterlibatan UMKM merupakan bagian dari kerja sama pihaknya dengan Dinas Perindagkop Provinsi Kaltara. Produk yang dibawa pelaku usaha cukup beragam, mulai dari makanan, batik hingga tenun.
“Kami tentunya kerja sama dengan Dinas Perindagkop Provinsi Kalimantan Utara. Kebetulan ada sekitar 20 UMKM binaan Bank Indonesia yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Terutama dari makanan, kemudian ada batik, tenun, dan sebagainya,” kata Agus saat diwawancarai awak media usai kegiatan Misi Dagang Kalimantan Utara-Jawa Timur, Selasa (8/9/26).
Menurut Agus, misi dagang tersebut memberikan ruang bagi UMKM Kaltara untuk memperkenalkan produk kepada pelaku usaha dari Jawa Timur. Sejumlah produk daerah yang ditampilkan bahkan dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan ke Jatim.
Ia menyebut bandeng, makanan olahan, cokelat hingga kain sebagai beberapa produk yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Keragaman produk itu dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi Kaltara dalam membuka akses pasar di luar daerah.
“Banyak produk unggulan di sini yang bisa kita jual ke Jawa Timur ya. Tadi ada bandeng, kemudian ada makanan, cokelat, kemudian ada kain-kain dan sebagainya. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Kalimantan Utara,” ujarnya.
Perluasan pasar UMKM, lanjut Agus, tidak berhenti pada pertemuan dagang secara langsung. BI juga memiliki program onboarding serta business matching yang diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pihak yang membutuhkan produk maupun layanan usaha mereka.
Skema business matching tersebut mencakup akses pembiayaan dan pasar ekspor. UMKM dapat dipertemukan dengan calon pembeli potensial, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sehingga peluang transaksi tidak terbatas pada pasar lokal.
“Kami fokusnya terhadap program-program pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ya. Nah, melalui onboarding, kemudian juga ada business matching. Business matching untuk pembiayaannya, kemudian business matching untuk ekspor, mempertemukan antara calon-calon pembeli potensial di mana pun, di dalam negeri maupun di luar negeri,” jelas Agus.
Selain mempertemukan UMKM dengan calon pembeli, BI juga mendorong perluasan transaksi melalui kanal digital. Menurut Agus, akses transaksi secara online dapat membantu produk UMKM menjangkau pasar yang lebih luas.
“Termasuk business matching bagaimana agar UMKM di sini juga bisa melakukan transaksi secara online gitu ya, agar pasarnya semakin luas,” pungkasnya.

