DENPASAR – Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah menggelar Tanwir II Pemuda Muhammadiyah 2026 di Denpasar, Bali, pada 21 hingga 23 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi forum refleksi, evaluasi agenda strategis organisasi, sekaligus perumusan sikap terhadap berbagai isu kebangsaan dan keumatan menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah mendatang.
Mengusung tema “Bertumbuh dan Mengakar Untuk Indonesia Jaya”, Tanwir II menjadi momentum konsolidasi arah gerakan Pemuda Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan sosial, politik, ekonomi, hingga transformasi generasi muda di era digital.
Pembukaan kegiatan dihadiri Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka bersama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Hadir pula Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Ahmad Dzulfikar Tawalla yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Najih Prastiyo, Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah (Kiri), Dzulfikar Ahmad Tawalla, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah (Tengah), Machhendra Setyo, Bendahara PP Pemuda Muhammadiyah (Kiri).
Selain itu, turut hadir Ketua KPU Mochammad Afifuddin, Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar, Gubernur Bali Wayan Koster, pimpinan organisasi kepemudaan lintas iman, akademisi, serta kader Pemuda Muhammadiyah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Ahmad Dzulfikar Tawalla menyoroti tantangan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang diperkirakan akan menggantikan sejumlah jenis pekerjaan di masa mendatang.
Ia mengutip laporan World Economic Forum yang menyebutkan bahwa perkembangan teknologi AI akan membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Karena itu, menurutnya, kader Pemuda Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki niat baik dan moralitas yang tinggi, tetapi juga harus dibekali berbagai keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Pemuda Muhammadiyah harus memiliki kemampuan kognitif, keterampilan teknologi, kemampuan manajemen diri, kepemimpinan, serta kemampuan etika dan green skill,” ujar Dzulfikar di hadapan peserta Tanwir II.
Ia juga menyinggung pandangan terkait budaya organisasi dan aktivitas kepemimpinan di kalangan aktivis muda. Menurutnya, kemampuan berorganisasi dan mengelola jaringan tetap relevan selama didukung kemampuan manajemen manusia, komunikasi publik, negosiasi, dan pengaruh sosial.
Dzulfikar menegaskan bahwa tantangan generasi muda ke depan bukan hanya persoalan moralitas, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan teknologi dan dinamika global.
Melalui Tanwir II ini, PP Pemuda Muhammadiyah berharap dapat memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyiapkan kader muda yang adaptif, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.


