Kebakaran Ludeskan Gereja Paroki Santo Yosep Sebuku–Tulin Onsoi, Jemaat Alami Duka Mendalam

by Redaksi Kaltara

Tulin Onsoi, MK – Duka mendalam menyelimuti ribuan umat Katolik di wilayah Kecamatan Tulin Onsoi dan Sebuku setelah Gereja Katolik Paroki Santo Yosep Sebuku–Tulin Onsoi yang berlokasi di Jalan Pembangunan RT 01, Desa Sekikilan, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, dilalap si jago merah pada Jumat dini hari, 12 Juni 2026.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 01.00 WITA tersebut menghanguskan satu unit bangunan gereja permanen yang selama ini menjadi pusat kegiatan peribadatan, pembinaan iman, dan berbagai aktivitas sosial keagamaan umat Katolik di wilayah itu.

Peristiwa tragis itu pertama kali dilaporkan oleh Gabriel Gaspar kepada petugas pemadam kebakaran sektor Tulin Onsoi. Setelah menerima laporan pada pukul 01.00 WITA, petugas bergerak cepat menuju lokasi kejadian dan tiba dalam waktu sekitar lima menit.

Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan, proses pemadaman mulai dilakukan pada pukul 01.06 WITA dan berlangsung hingga pukul 04.00 WITA, termasuk proses pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

Berdasarkan hasil identifikasi awal, kebakaran diduga disebabkan oleh korsleting listrik yang berasal dari area dapur pastoran. Dalam waktu singkat, api menjalar ke bagian utama bangunan gereja dan membakar sebagian besar struktur bangunan yang terbuat dari material permanen.

Besarnya kobaran api membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah dan berupaya memberikan bantuan semampunya. Namun kondisi bangunan yang sudah mulai dilalap api membuat proses penyelamatan aset gereja menjadi sangat sulit dilakukan.

Dari dokumentasi di lokasi kejadian, tampak bagian atap dan menara gereja mengalami kerusakan paling parah. Struktur bangunan yang sebelumnya menjadi simbol kebanggaan umat kini hanya menyisakan rangka yang hangus dan puing-puing material bangunan yang berserakan.

Meskipun menyebabkan kerusakan berat pada bangunan gereja, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka bakar. Tidak ada laporan warga yang mengalami luka fisik selama proses kebakaran berlangsung.

Petugas juga belum dapat memastikan nilai kerugian material akibat musibah tersebut. Hingga saat ini, taksiran kerugian masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.

Namun bagi umat Katolik di Tulin Onsoi dan Sebuku, kehilangan gereja tidak hanya dihitung dari nilai materi. Gereja Paroki Santo Yosep merupakan rumah rohani yang telah menjadi pusat perjumpaan umat, tempat berlangsungnya misa, sakramen, pendidikan iman anak-anak, pembinaan kaum muda, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dalam upaya penanggulangan kebakaran, sejumlah unsur turut terlibat membantu proses pemadaman. Sektor Pemadam Kebakaran Tulin Onsoi mengerahkan satu unit mobil pemadam dengan personel piket sebanyak dua orang, dua personel off duty, serta seorang Komandan Regu yang segera turun ke lapangan.

Bantuan juga datang dari berbagai pihak, termasuk dua unit mobil pemadam kebakaran milik TNI beserta personelnya. Selain itu, personel Polsek Sebuku dan Tulin Onsoi, personel Batalyon TP 881/BD, anggota Dewan Tulin Onsoi, serta masyarakat setempat turut bergotong royong membantu proses pemadaman dan pengamanan lokasi.

Kebersamaan seluruh unsur tersebut menjadi bukti kuat bahwa musibah yang menimpa Gereja Santo Yosep bukan hanya menjadi duka umat Katolik semata, tetapi juga duka seluruh masyarakat Tulin Onsoi.

Bagi masyarakat perbatasan yang hidup jauh dari pusat kota, Gereja Paroki Santo Yosep memiliki makna yang sangat besar. Bangunan tersebut selama bertahun-tahun menjadi tempat umat mencari ketenangan, memperkuat iman, membangun persaudaraan, serta menjadi pusat berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Musibah kebakaran yang terjadi pada dini hari itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi umat yang menyaksikan rumah ibadah mereka hangus terbakar. Banyak warga tampak tidak kuasa menahan haru ketika melihat bagian-bagian bangunan yang selama ini menjadi tempat mereka beribadah berubah menjadi puing-puing.

Di tengah kesedihan yang dirasakan, semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat mulai tumbuh. Berbagai dukungan dan doa terus mengalir dari umat, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak yang berharap pembangunan kembali Gereja Paroki Santo Yosep dapat segera diwujudkan.

Musibah ini menjadi ujian berat bagi umat Katolik Sebuku dan Tulin Onsoi. Namun di balik puing-puing bangunan yang tersisa, tersimpan harapan bahwa semangat persaudaraan dan iman yang selama ini terbangun tidak akan ikut terbakar oleh kobaran api.

Gereja mungkin kehilangan bangunannya, tetapi semangat umat untuk tetap bersatu, berdoa, dan bangkit kembali diyakini akan menjadi fondasi utama dalam membangun kembali rumah ibadah yang menjadi kebanggaan masyarakat Katolik di wilayah Sebuku dan Tulin Onsoi. (**)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses