MPLS Sekolah Rakyat 59 Tarakan Kembali Ditunda, Pembangunan Baru Mencapai 66 Persen

by Suiman Namrullah

TARAKAN – Ratusan calon siswa Sekolah Rakyat 59 Tarakan masih harus menunggu untuk memulai kegiatan di gedung baru yang berada di kawasan Juata. Agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang sebelumnya direncanakan berlangsung di lokasi tersebut kembali mengalami penundaan.

Penundaan dilakukan karena pembangunan kompleks sekolah belum sepenuhnya rampung dan dinilai belum siap untuk digunakan sebagai lokasi kegiatan belajar mengajar (KBM).

Sebelumnya, MPLS ditargetkan dapat dilaksanakan pada Juli 2026. Namun, jadwal tersebut kemudian bergeser ke akhir Agustus. Hingga awal September, kegiatan di lokasi baru belum dapat dilaksanakan.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Tarakan, Arbain, mengatakan hasil evaluasi yang dilakukan bersama tim verifikasi dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Pemerintah Daerah menunjukkan progres pembangunan fisik sekolah baru mencapai sekitar 66 persen.

Menurut Arbain, kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama penundaan kegiatan di lokasi baru, terutama untuk memastikan keselamatan siswa selama proses pembangunan masih berlangsung.

“Progres fisik gedung baru menyentuh 66 persen, sehingga penundaan ini mutlak demi keselamatan anak-anak dari risiko area proyek. Target MPLS kini kita geser ke pertengahan September atau paling lambat awal Oktober, bergantung kesiapan di lapangan,” ujar Arbain usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Kota Tarakan, Selasa (2/9/26).

Selain bangunan utama, kesiapan fasilitas pendukung juga menjadi bagian penting sebelum Sekolah Rakyat 59 Tarakan mulai beroperasi di lokasi baru.

Kepala Sekolah Rakyat 59 Tarakan, Marisa Aulia, menjelaskan bahwa sekolah tersebut menerapkan konsep pendidikan berasrama sehingga kesiapan fasilitas hunian menjadi salah satu persyaratan penting.

Menurutnya, selain memastikan asrama siap digunakan, pihak sekolah juga perlu memastikan lingkungan kompleks telah aman dari sisa pekerjaan konstruksi dan potensi risiko lainnya.

“Sebagai sekolah berasrama, kami belum bisa beroperasi di lokasi baru sebelum asrama dan minimal tujuh gedung utama siap digunakan secara aman. Meski jadwal pindah bergeser, KBM tetap berjalan lewat kurikulum Multi-Entry Multi-Exit agar siswa yang masuk belakangan tetap bisa mengejar materi,” kata Marisa.

Sementara itu, selama menunggu kesiapan lokasi baru, proses pembelajaran siswa tetap berlangsung. Pihak sekolah menggunakan skema kurikulum Multi-Entry Multi-Exit yang memungkinkan siswa mengikuti pembelajaran sesuai waktu masuknya.

Skema tersebut juga disiapkan untuk menjaga agar siswa yang nantinya masuk setelah kegiatan di lokasi baru dimulai tetap dapat mengikuti materi pembelajaran yang telah berjalan.

Pihak sekolah memastikan penundaan perpindahan lokasi tidak menghilangkan hak siswa untuk memperoleh pembelajaran. Evaluasi akademik dan agenda kenaikan kelas juga tetap direncanakan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, pelaksanaan MPLS di lokasi baru masih menunggu penyelesaian pembangunan dan pemenuhan standar kelayakan fasilitas. Target pelaksanaan sementara diarahkan pada pertengahan September hingga paling lambat awal Oktober 2026, dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kesiapan di lapangan.

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses