Kabut Asap Karhutla Ganggu Pelayaran KTT–Tarakan, Motoris Ekstra Waspada

by Isman Toriko

TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah daerah di Kalimantan Utara dan juga lur daerah semakin meluas ke Kabupaten Tana Tidung. Tak hanya menyelimuti kawasan permukiman dan mengganggu kualitas udara, kabut asap kini turut melanda sejumlah jalur perairan yang menjadi akses utama transportasi masyarakat.

Kondisi tersebut dirasakan para pengguna jasa speedboat rute Kabupaten Tana Tidung (KTT)–Tarakan. Kabut asap yang cukup tebal membuat jarak pandang di atas perairan menjadi terbatas. Situasi ini memaksa para motoris untuk meningkatkan kewaspadaan selama perjalanan.

Feri, salah seorang motoris speedboat rute KTT–Tarakan, mengakui kondisi perjalanan saat ini berbeda dibandingkan biasanya. Sejak kabut asap akibat Karhutla mulai menyelimuti wilayah perairan, dirinya harus ekstra hati-hati ketika mengemudikan speedboat, terutama saat jarak pandang menurun.

“Kalau asap tebal, jarak pandang memang berkurang. Kita harus lebih hati-hati, terutama saat melintas di jalur yang ramai atau ketika ada kapal lain,” ujar Feri.

Menurutnya, dalam kondisi jarak pandang terbatas, kecepatan speedboat harus disesuaikan. Motoris tidak bisa memacu kendaraan air seperti saat kondisi normal karena keberadaan kapal, perahu maupun objek lain di jalur pelayaran harus dapat terpantau dengan baik.

“Sejak ada Karhutla ini kita ekstra hati-hati. Kalau pandangan terbatas, tidak bisa sembarangan melaju. Keselamatan penumpang yang utama,” tegasnya.

Kondisi tersebut ternyata juga menimbulkan kekhawatiran bagi para penumpang.

Rini, salah seorang penumpang speedboat yang hendak melakukan perjalanan menuju Tarakan, mengaku kini merasa was – was setiap kali harus melintasi perairan yang diselimuti kabut asap.

Menurutnya, ketebalan asap membuat perjalanan terasa berbeda. Rasa khawatir muncul karena jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan motoris melihat kondisi di depan speedboat.

“Kalau sekarang mau pulang ke Tarakan rasanya was – was juga. Kabut asapnya sangat tebal, jadi jarak pandang tidak terlalu kelihatan. Kita sebagai penumpang tentu berharap motoris lebih hati-hati selama perjalanan,” ungkap Rini.

Ia berharap kondisi kabut asap tidak semakin parah sehingga mengganggu aktivitas masyarakat yang setiap hari menggunakan transportasi air.

“Semoga asapnya cepat hilang dan Karhutla segera ditangani. Karena masyarakat yang menggunakan speedboat juga merasa khawatir kalau jarak pandang terbatas seperti ini,” tambahnya.

Dampak Karhutla Menembus Jalur Transportasi

Kabut asap yang menyelimuti perairan menjadi bukti bahwa dampak Karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Asap yang terbawa angin dapat menyebar ke kawasan yang lebih luas dan mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Jalur KTT–Tarakan sendiri merupakan salah satu akses transportasi penting bagi masyarakat. Mobilitas warga sangat bergantung pada transportasi air untuk berbagai keperluan, mulai dari bekerja, berdagang, berobat, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, gangguan jarak pandang akibat kabut asap patut menjadi perhatian serius.

Dalam kondisi normal, motoris harus memperhitungkan arus, gelombang, cuaca dan lalu lintas perairan. Ketika jarak pandang ikut terganggu asap, risiko perjalanan menjadi semakin tinggi.

Keberadaan kapal atau speedboat lain yang muncul dari arah berlawanan juga menjadi tantangan tersendiri apabila tidak dapat terlihat dari jarak yang cukup.

Kondisi ini membuat motoris harus lebih mengandalkan kewaspadaan dan pengamatan selama perjalanan. Kecepatan harus disesuaikan dengan situasi agar keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas.

Jangan Anggap Sepele Karhutla

Persoalan Karhutla tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah kebakaran lahan atau kabut asap semata. Ketika asap telah mengganggu jalur transportasi, dampaknya sudah menyentuh aspek keselamatan masyarakat.

Jika kondisi ini terus berlangsung dan jarak pandang semakin menurun, aktivitas pelayaran berpotensi terganggu lebih serius.

Pemerintah bersama aparat dan seluruh pihak terkait perlu mempercepat penanganan titik-titik Karhutla agar sumber asap dapat segera dikendalikan.

Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta ikut membantu mencegah munculnya titik api baru.

Di sisi lain, pengguna transportasi air diminta tetap mengikuti arahan motoris dan mengutamakan keselamatan selama perjalanan.

Karhutla yang bermula dari daratan kini dampaknya terasa hingga ke tengah perairan. Ketika kabut asap mulai menutup pandangan, perjalanan yang biasanya menjadi rutinitas berubah menjadi perjalanan penuh kewaspadaan.

Bagi motoris, setiap perjalanan kini membutuhkan kehati-hatian ekstra. Bagi penumpang seperti Rini, perjalanan pulang ke Tarakan pun tidak lagi sepenuhnya tenang.

Satu hal yang menjadi harapan bersama, Karhutla segera padam, kabut asap berakhir, dan jalur transportasi kembali aman bagi masyarakat. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses