TARAKAN — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando G. Manik, menyampaikan komitmen Bank Indonesia dalam mendorong percepatan digitalisasi pelabuhan dan sistem pembayaran di Kalimantan Utara. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Pertemuan Media Tahun 2026, yang digelar di Tarakan, Jum’at (30/1/26).
Dalam keterangannya, Hasiando menyebutkan bahwa hingga saat ini terdapat lima pelabuhan di Kalimantan Utara yang diharapkan dapat segera terdigitalisasi. Namun, realisasi digitalisasi tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam beberapa tahun terakhir.
“Harapan kami, selama saya bertugas di Kalimantan Utara, digitalisasi pelabuhan bisa diwujudkan sebagaimana yang sudah diterapkan di provinsi lain dengan karakter wilayah yang hampir sama, seperti Kepulauan Riau yang sudah lebih maju,” ujarnya.
Selain digitalisasi pelabuhan, Hasiando juga memaparkan perkembangan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Utara sepanjang tahun 2023 hingga 2025. Ia menjelaskan bahwa jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara terus menunjukkan tren peningkatan.
“Jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara meningkat secara konsisten dan hingga akhir Desember 2025 telah mencapai sekitar 131 ribu pengguna, dengan tingkat pertumbuhan sekitar 8,1 persen,” jelasnya.
Meski pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya, Hasiando menilai kondisi tersebut masih tergolong wajar. Menurutnya, seiring meningkatnya jumlah pengguna, potensi pertumbuhan akan semakin terbatas, namun tetap menunjukkan tren positif.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tingkat penetrasi QRIS terhadap penduduk usia produktif di Kalimantan Utara saat ini mencapai sekitar 25 persen. Dari total sekitar 392 ribu penduduk usia produktif, masih terdapat potensi pasar yang cukup besar untuk pengembangan transaksi digital.
“Selisih antara jumlah penduduk usia produktif dan pengguna QRIS inilah yang menjadi potensi yang terus kami dorong, meskipun tantangannya cukup besar mengingat kondisi geografis Kalimantan Utara yang terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan, serta luasnya beberapa kabupaten,” tambahnya.
Dari sisi merchant, pertumbuhan juga tercatat positif. Jumlah merchant QRIS di Kalimantan Utara pada tahun 2025 meningkat 18,3 persen dibandingkan tahun 2024, dari sekitar 95 ribu merchant menjadi lebih dari 112 ribu merchant.
Menurut Hasiando, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya adopsi transaksi non-tunai di kalangan pelaku usaha. Bank Indonesia juga terus memetakan kepadatan merchant berdasarkan wilayah guna mendorong pemerataan digitalisasi dan penguatan ekosistem pembayaran di seluruh daerah Kalimantan Utara.


