TARAKAN – Kepala Sekolah Rakyat, Marisa Aulia, menjelaskan bahwa program Sekolah Rakyat (SR) dibentuk berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 yang bertujuan mendukung pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Menurutnya, sasaran utama peserta didik di Sekolah Rakyat berasal dari keluarga kategori miskin ekstrem dan miskin yang masuk dalam desil 1 dan desil 2 berdasarkan data pemerintah.
“Tujuan utama dari Inpres itu adalah pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem. Jadi profil murid di Sekolah Rakyat memang berada di tingkat miskin ekstrem dan miskin, yaitu yang masuk dalam desil 1 dan desil 2,” ujarnya, Selasa (26/5/26).
Marisa menegaskan, syarat utama untuk menjadi peserta didik di Sekolah Rakyat bukan semata-mata anak putus sekolah, melainkan harus terlebih dahulu terdata dalam kategori desil 1 dan 2.
“Kalau hanya anak putus sekolah langsung masuk SR itu tidak. Anak tersebut harus memang berada di desil satu dan dua. Jika tidak berada di situ, berarti bukan bagian dari Sekolah Rakyat dan mungkin bisa difasilitasi melalui pendidikan lainnya,” jelasnya.
Ia mengatakan, Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan formal, tetapi juga memberikan dukungan menyeluruh kepada peserta didik, mulai dari kebutuhan makan, pakaian, hingga sarana dan prasarana sekolah.
Selain itu, program tersebut juga turut memberdayakan orang tua siswa agar kesejahteraan keluarga dapat meningkat secara bertahap.
“Di Sekolah Rakyat ini bukan hanya pendidikan saja, tetapi juga membantu anak dari segi makan, pakaian, dan seluruh kebutuhan sekolahnya. Bahkan orang tuanya juga ikut diberdayakan,” katanya.
Untuk tahun ajaran 2025/2026, Sekolah Rakyat menargetkan sebanyak 100 siswa, masing-masing 50 siswa untuk jenjang SD dan 50 siswa untuk jenjang SMP.
Namun hingga saat ini, jumlah peserta didik yang telah terdaftar baru mencapai 47 siswa SD dan 17 siswa SMP.
Marisa menilai, masih minimnya jumlah pendaftar disebabkan masyarakat belum sepenuhnya memahami mekanisme penerimaan siswa di Sekolah Rakyat.
“Masyarakat masih banyak yang belum tahu tentang Sekolah Rakyat, termasuk bagaimana teknis masuknya. Apakah mendaftar seperti sekolah umum atau apakah siswa yang masuk desil satu dan dua langsung mendapat panggilan,” pungkasnya.

