Balap Perahu Tradisional Meriahkan Konferensi ke-36 GKII Daerah Kayan Hilir 2026

by Redaksi Kaltara

Long Beluah, MK – Balap perahu tradisional menjadi salah satu kegiatan yang memeriahkan rangkaian Konferensi ke-36 GKII Daerah Kayan Hilir Tahun 2026 di Long Beluah. Perlombaan yang berlangsung meriah ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang memadati tepian sungai untuk memberikan dukungan kepada para peserta.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, balap perahu juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan, memperkuat semangat kebersamaan, serta melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Semangat sportivitas dan gotong royong terlihat dalam setiap perlombaan, mencerminkan kekayaan budaya masyarakat di wilayah Kayan Hilir.

Ketua DPRD Kabupaten Bulungan, Riyanto, turut hadir membersamai masyarakat dan menyaksikan secara langsung jalannya perlombaan. Kehadirannya merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.

Riyanto menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tradisi seperti balap perahu tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu mempererat hubungan antarwarga.

“Balap perahu bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi simbol persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong masyarakat. Tradisi seperti ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya daerah kita,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan-kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat dapat terus dilaksanakan sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus memperkenalkan potensi budaya lokal kepada generasi penerus.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat rasa kekeluargaan dan persatuan di tengah masyarakat. Semoga tradisi ini terus hidup dan menjadi kebanggaan Kabupaten Bulungan,” tambahnya.

Pelaksanaan balap perahu tradisional dalam rangka Konferensi ke-36 GKII Daerah Kayan Hilir Tahun 2026 menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat. Diharapkan, kegiatan ini dapat terus menjadi agenda yang mempererat kebersamaan serta menjaga kelestarian tradisi sebagai warisan budaya yang bernilai bagi generasi mendatang. (Fy/red)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses