TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Setiap hari, jalan poros menuju Desa Bebatu dipadati kendaraan warga yang beraktivitas. Jalan itu menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas masyarakat. Namun, di balik aktivitas tersebut, tersimpan ancaman yang terus menghantui. Deretan tiang listrik milik PLN di sepanjang ruas jalan itu kini tampak miring, bahkan beberapa di antaranya nyaris roboh.
Bukan sehari atau sepekan kondisi itu terjadi. Menurut warga, kemiringan tiang listrik tersebut telah berlangsung hampir empat bulan, namun hingga kini belum terlihat adanya penanganan serius dari pihak PLN.
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Beberapa tiang listrik tampak condong dengan sudut kemiringan yang cukup ekstrem. Tiang-tiang tersebut berdiri di atas kawasan tanah gambut yang berada di sisi drainase. Jika terus mengalami penurunan tanah, bukan tidak mungkin tiang-tiang itu akan roboh ke badan jalan yang setiap hari dilalui masyarakat.
Bagi warga, ancaman terbesar bukan hanya robohnya tiang, tetapi jaringan listrik tegangan tinggi yang dapat membahayakan siapa saja yang berada di sekitar lokasi.
Budi, salah seorang warga Desa Bebatu yang setiap hari melintasi jalan tersebut, mengaku selalu dihantui rasa takut.
“Takut karena tiang listrik banyak yang miring. Kalau dibiarkan terus bisa berbahaya, bisa menimpa pengendara.”
Ia mengatakan kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena tidak pernah terlihat adanya pemeriksaan ataupun perbaikan dari PLN.
“Hampir kurang lebih empat bulan sudah miring. Semakin hari saya lihat semakin miring. Karena ini tanah gambut, di bawahnya ada drainase. Kalau sampai rubuh lalu mengenai air, itu sangat berbahaya karena ini jaringan listrik tegangan tinggi,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Abdi, warga lainnya yang hampir setiap hari menggunakan akses tersebut.

Kondisi Tiang Listrik di Jalan Poros Bebatu Miring dan Sangat Membahayakan Pengendara Yang Melintas Dibawahnya
Menurutnya, jalan poros Bebatu merupakan jalur vital yang digunakan masyarakat untuk bekerja, mengantar anak sekolah hingga mengangkut hasil pertanian. Ia menyayangkan belum adanya tindakan nyata dari PLN.
“Bahaya betul ini. Yang kami takutkan kalau nanti ada orang tertimpa tiang listrik. Jalan ini ramai dilalui warga. Jangan tunggu ada kejadian baru diperbaiki. Kalau sampai terjadi sesuatu, siapa yang mau bertanggung jawab?” katanya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai respons PLN terhadap potensi bahaya yang sudah terlihat jelas di lapangan. Warga menilai ancaman keselamatan seperti ini seharusnya menjadi prioritas untuk segera ditangani, bukan menunggu hingga terjadi kecelakaan.
Jika satu saja tiang roboh, dampaknya bukan hanya memutus aliran listrik menuju Desa Bebatu. Jaringan listrik tegangan tinggi berpotensi membahayakan pengguna jalan, memicu korsleting, hingga mengancam keselamatan jiwa.
Kini warga hanya berharap PLN tidak lagi menutup mata terhadap kondisi tersebut. Mereka meminta petugas segera turun melakukan pengecekan, memperkuat pondasi, atau mengganti tiang yang sudah mengalami kemiringan sebelum bencana benar-benar terjadi.
Sebab bagi warga Bebatu, keselamatan seharusnya tidak menunggu korban. Jangan sampai peringatan yang sudah terlihat selama berbulan-bulan justru diabaikan, lalu baru menjadi perhatian setelah sebuah musibah terjadi. (rko)

