Santunan Nasional ke-22 Thoriqoh Shiddiqiyyah di Tana Tidung, 63 Fakir Miskin dan Yatim Piatu Terima Bantuan

by Isman Toriko

TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Di tengah kehidupan yang terus bergerak dan tuntutan dunia yang semakin kuat, kepedulian terhadap sesama menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak semestinya hanya dinikmati sendiri.

Pesan itu terasa kuat dalam pelaksanaan Santunan Nasional ke-22 Thoriqoh Shiddiqiyyah yang digelar warga Thoriqoh Shiddiqiyyah di Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka tasyakuran Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus memperingati HUT Dhilal Berkat Rohmat Alloh (Dhibra) Shiddiqiyyah Indonesia.

Pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah Kalimantan Utara, Didik Dwi Hermawan, mengatakan santunan menjadi bagian dari kepedulian sosial warga Shiddiqiyyah kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sebanyak 63 orang menerima santunan dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari kalangan fakir miskin dan anak yatim piatu.

Menurut Didik, pelaksanaan santunan tersebut tidak terlepas dari kesadaran warga Shiddiqiyyah dan para simpatisan untuk berbagi serta membantu sesama.

“Alhamdulillah, atas berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa, dana santunan dapat terhimpun dari kesadaran warga Shiddiqiyyah dan para simpatisan,” ujarnya.

Jangan Sampai Kaya di Atas Kesulitan Orang Lain

Namun, kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyerahan bantuan.

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan moral agar manusia tidak terlena dengan kemewahan dan tipu daya kehidupan dunia.

Dalam mauidhotul hasanah, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Kiai Muhammad Muchtar Muthi, Syekh Muchtarulloh Al-Mujtaba Muthi, mengingatkan pentingnya kepedulian kepada sesama.

Ia menegaskan bahwa kehidupan manusia di dunia pada hakikatnya bersifat sementara. Karena itu, mengejar kemewahan hanya untuk kepentingan pribadi, sementara di sekeliling masih banyak orang yang hidup dalam kesulitan, bukanlah sikap yang seharusnya dikembangkan.

“Kalau mau enak sendiri itu namanya pesta di atas penderitaan orang lain. Kaya silakan, tapi jangan untuk memperkaya diri sendiri,” pesan sang Mursyid.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan pelaksanaan Santunan Nasional ke-22. Sebab, kepemilikan harta tidak hanya dipandang sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial ketika di dalam masyarakat masih terdapat fakir miskin dan anak yatim yang membutuhkan perhatian.

Menurutnya, agama tidak melarang seseorang menjadi kaya. Akan tetapi, kekayaan jangan sampai membuat manusia mencintai dunia secara berlebihan hingga kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Waspadai Tipu Daya Dunia

Sang Mursyid juga mengingatkan bahwa manusia dapat terjebak dalam kehidupan yang sia-sia ketika seluruh orientasi hidup hanya diarahkan pada harta dan kepentingan pribadi.

Keinginan memiliki kekayaan, kata dia, tidak menjadi persoalan selama kekayaan tersebut tidak membuat seseorang lupa terhadap kewajiban sosial dan nilai kemanusiaan.

Karena itu, ia mengajak seluruh warga Shiddiqiyyah untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai jebakan kehidupan.

“Maka kita mohon perlindungan kepada Alloh supaya selamat dari jebakan iblis, tipu daya dunia,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Maulid, Kemerdekaan dan Semangat Kebangsaan

Dalam kesempatan tersebut, sang Mursyid juga mengaitkan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dengan bulan kemerdekaan bangsa Indonesia serta perjalanan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menjelaskan makna Dhilal Berkat Rochmat Alloh, yang dimaknai sebagai berada dalam naungan berkat rahmat Allah Ta’ala.

Nilai tersebut kemudian diharapkan tidak hanya berhenti sebagai pemaknaan spiritual, tetapi juga diwujudkan melalui kehidupan bermasyarakat yang saling menghormati, rendah hati dan memberikan manfaat.

Ia juga menyampaikan harapan terhadap organisasi-organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah yang tergabung dalam Panca Harapan Mursyid.

Organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah diharapkan mampu menjadi organisasi yang bermanfaat bagi masyarakat, menghormati perbedaan, memiliki sikap rendah hati, berbicara berdasarkan fakta, serta terus menjaga keberlangsungan organisasi.

“Panca harapan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, itulah harapan saya,” tuturnya.

22 Tahun Santunan, Gotong Royong Jadi Kekuatan

Pelaksanaan Santunan Nasional ke-22 menjadi gambaran bahwa kepedulian sosial dapat terus tumbuh ketika dikelola melalui kebersamaan dan rasa tanggung jawab.

Sebanyak 63 penerima santunan dari kalangan fakir miskin dan yatim piatu menjadi bagian dari rangkaian panjang gerakan sosial yang telah dilaksanakan selama 22 kali.

Di balik bantuan yang disalurkan, terdapat kesadaran warga dan simpatisan untuk menyisihkan sebagian yang dimiliki demi membantu mereka yang membutuhkan.

Semangat tersebut terangkum dalam prinsip “YADULLOHI ALAL JAMAA’AH”, yang menekankan kekuatan kebersamaan dan gotong royong.

Santunan itu pada akhirnya bukan sekadar pemberian bantuan materi. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi pesan bahwa keberadaan organisasi keagamaan juga dapat mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat.

Dari Tideng Pale, nilai kepedulian itu kembali ditegaskan: ketika kepentingan pribadi tidak menjadi satu-satunya tujuan, maka harta, kebersamaan dan organisasi dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Harapannya, kegiatan Santunan Nasional yang telah berlangsung hingga ke-22 kalinya tersebut dapat terus lestari dan dilaksanakan secara amanah, tepat sasaran serta senantiasa berada dalam limpahan ridha Allah Ta’ala. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses