Dari Tambak Keluarga, Abdul Hapid Menyulap Bandeng Lokal Menjadi Peluang Usaha 

by Suiman Namrullah

TARAKAN – Dari lingkungan tambak di sekitar tempat tinggalnya, Abdul Hapid melihat sesuatu yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Hasil tambak yang dijual sebagai ikan segar memiliki nilai ekonomi tersendiri, tetapi akan memiliki nilai tambah ketika diolah menjadi produk siap konsumsi.

Pemikiran sederhana itulah yang kemudian mendorong Abdul Hapid, pemuda berusia 31 tahun, warga Lingkas Ujung RT 10, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan, Kamis (20/8/26) untuk merintis usaha pengolahan ikan bandeng atau milkfish.

“Kenapa saya tidak mengambil hasil tambak untuk diolah, kemudian dijual dengan harga yang lebih besar,” ujar Abdul.

Gagasan tersebut tidak muncul begitu saja. Abdul tumbuh dekat dengan dunia tambak karena orang tuanya merupakan petambak. Kedekatan dengan lingkungan tersebut membuatnya mengenal potensi hasil perikanan yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Bandeng akhirnya dipilih sebagai produk utama. Selain karena mudah diperoleh dari tambak, ikan tersebut juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan keluarganya.

Namun, Abdul tidak hanya menjual bandeng. Sejumlah hasil perikanan lain seperti udang dan cumi juga menjadi bagian dari produk yang dipasarkan.

Usaha pengolahan tersebut mulai diproduksi sekitar 2021. Dalam perjalanannya, kegiatan usaha sempat terhenti. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2026, Abdul kembali mencoba menghidupkan usaha tersebut.

Kali ini, ia membawa pengalaman dari perjalanan sebelumnya dan mencoba mengembangkan produk secara bertahap.

Bahan baku bandeng diperoleh dari beberapa sumber. Mulai dari tambak sendiri, tambak keluarga, hingga tambak masyarakat yang berada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Abdul, penggunaan bahan baku dari lingkungan sekitar menjadi salah satu keunggulan produk yang dikembangkannya.

“Bahan bakunya dari tambak sendiri, tambak keluarga, atau tambak-tambak sekitar masyarakat yang ada di lingkungan tempat tinggal,” katanya.

Di balik produk bandeng yang sampai ke tangan konsumen, ada proses pengolahan yang dilakukan secara teliti.

Untuk proses pencabutan tulang, Abdul memiliki pekerja yang secara khusus menangani bagian tersebut. Peralatan yang digunakan masih sederhana, seperti gunting, pinset, dan pisau.

Gunting dan pisau digunakan untuk membantu proses pembelahan serta pengolahan ikan, sementara pinset digunakan untuk mencabut tulang bandeng.

Sederhana dalam peralatan bukan berarti mengabaikan proses. Abdul tetap menjadikan kualitas bahan baku sebagai salah satu perhatian dalam menjalankan usahanya.

Produk yang diolah berasal dari bandeng hasil tambak yang kemudian diproses sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Saat ini, pemasaran produk Abdul masih dilakukan secara bertahap. Ia lebih banyak menyasar konsumen rumah tangga di Tarakan.

Selain konsumsi keluarga, produk tersebut juga ditujukan untuk masyarakat yang membutuhkan olahan ikan untuk berbagai kegiatan, seperti pesta pernikahan, sunatan, maupun acara keluarga.

Kapasitas produksinya pun belum ditetapkan secara khusus karena masih menyesuaikan dengan permintaan konsumen.

Pemasaran dilakukan dengan cara sederhana, yakni melalui keluarga, tetangga, kerabat, dan rekomendasi dari konsumen.

Cara tersebut menjadi strategi awal Abdul untuk memperkenalkan produknya dari lingkungan terdekat sebelum menjangkau pasar yang lebih luas.

Ke depan, ia melihat peluang pasar tidak hanya berada di Tarakan. Nunukan, Malinau, Tana Tidung, Bulungan hingga Tanjung Selor menjadi daerah yang masuk dalam target pengembangan.

Bahkan, Abdul memiliki harapan agar produk olahan ikan lokal tersebut suatu saat dapat menembus pasar yang lebih jauh, termasuk Tawau, Sabah, Malaysia.

Bagi Abdul, mengembangkan usaha pengolahan ikan tidak cukup hanya berbicara tentang produk dan pemasaran.

Ada bagian lain yang menurutnya jauh lebih mendasar, yakni keberadaan petambak dan keberlanjutan produksi tambak.

Sebab, tanpa hasil tambak yang memadai, usaha pengolahan ikan juga akan kesulitan mendapatkan bahan baku.

Karena itu, Abdul berharap perhatian terhadap sektor tambak ikut diperkuat, termasuk dari sisi bibit ikan dan kebutuhan pendukung produksi lainnya.

“Kalau tambaknya memang sudah bagus, untuk bibit ikannya, kemudian kebutuhan lainnya, kita juga tidak akan pernah berhenti mengembangkan produk yang akan kita jual seperti ikan bandeng ini,” ujarnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bagi Abdul, UMKM pengolahan hasil perikanan merupakan bagian dari rantai ekonomi yang lebih panjang.

Petambak menghasilkan ikan. Pengolah memberikan nilai tambah. Kemudian produk sampai kepada konsumen.

Rantai sederhana itu yang ingin terus ia bangun dari Lingkas Ujung tempat dimana ia membangun usahanya.

Abdul juga berharap masyarakat semakin terbiasa mengonsumsi produk perikanan lokal.

Menurutnya, ikan merupakan salah satu sumber pangan yang mudah ditemukan di Tarakan. Dengan memilih produk lokal, masyarakat tidak hanya mendapatkan bahan pangan dari daerah sendiri, tetapi juga ikut membuka ruang bagi usaha kecil untuk berkembang.

“Kalau untuk masyarakat, saya berharap lebih memilih dan mengonsumsi produk ikan lokal karena kualitasnya baik dan mudah dijangkau,” katanya.

Perjalanan Abdul masih panjang. Usahanya belum berada pada skala produksi besar. Pemasarannya pun masih mengandalkan jaringan terdekat.

Namun, dari sebuah pemikiran sederhana tentang bagaimana meningkatkan nilai jual hasil tambak, perlahan lahir sebuah usaha yang mencoba menghubungkan potensi petambak dengan kebutuhan konsumen.

Dari tambak keluarga di sekitar Bumi Paguntaka, Abdul Hapid mencoba memberikan nilai tambah pada seekor bandeng, bukan hanya menjual ikan, tetapi mengolahnya menjadi peluang.

 

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses