TARAKAN — Pengembangan sektor peternakan ayam petelur dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat kemandirian pangan di Kalimantan Utara (Kaltara). Salah satu konsep yang didorong ialah membangun sentra produksi telur berbasis desa dan kelurahan.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kaltara, Jufri Budiman, S.Pd., M.M., saat menjadi narasumber dalam dialog SAPA KALTARA di Studio RRI Pro 1 Tarakan, Kamis (27/8/26).
Dialog yang dimulai pukul 09.00 WITA itu mengangkat tema “Menuju Mandiri Pangan: Potensi dan Tantangan Ayam Petelur di Kaltara.”
Dalam kesempatan tersebut, Jufri mengusulkan konsep “Satu Desa/Kelurahan, Satu Sentra Telur” untuk diterapkan di wilayah yang memiliki persyaratan dan potensi dalam pengembangan peternakan ayam petelur.
Menurut Jufri, konsep tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, koperasi, BUMDes, serta pihak swasta.
Ia memberikan gambaran, apabila terdapat 10 desa yang masing-masing memiliki peternakan dengan kapasitas 10 ribu ekor ayam petelur, maka total populasi dapat mencapai 100 ribu ekor.
Dengan asumsi tingkat produktivitas sekitar 85 persen, produksi telur secara teoritis dapat mencapai sekitar 85 ribu butir per hari.
“Satu desa atau kelurahan bisa menjadi sentra telur. Kalau 10 desa masing-masing 10 ribu ayam, maka ada 100 ribu ayam. Dengan produktivitas 85 persen, secara kasar bisa menghasilkan 85 ribu butir telur per hari,” ujar Jufri.
Namun, menurutnya, pengembangan peternakan ayam petelur tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan populasi ternak. Ketersediaan dan harga pakan juga menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, Jufri mendorong pengembangan bahan baku pakan lokal, salah satunya melalui peningkatan produksi jagung. Selain itu, potensi perikanan tangkap dan budidaya di Kaltara dinilai dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku tepung ikan untuk pakan ternak.
“Dari sisi bahan pembuatan pakan, Kaltara sebenarnya cukup tersedia. Ada jagung dan hasil perikanan yang bisa menjadi bahan tepung ikan. Ini bisa dikembangkan agar kita dapat menekan harga pakan,” katanya.
Ia menilai pengembangan bahan baku pakan di daerah dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem peternakan yang lebih terintegrasi. Dengan demikian, ketergantungan terhadap bahan baku dari luar daerah diharapkan dapat ditekan dan biaya produksi peternak lebih terkendali.
Dialog SAPA KALTARA tersebut turut menghadirkan Hary Suyanto, S.P., M.P., Koordinator PPL Kementerian Pertanian di Tarakan, serta Surianto Semuel Taro, S.Pi., M.Si., Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara.
Pembahasan mengenai pengembangan ayam petelur ini menjadi salah satu upaya mendorong pemanfaatan potensi peternakan lokal. Penguatan produksi dari tingkat desa hingga daerah diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan telur sekaligus mendukung ketahanan dan kemandirian pangan Kaltara.

