Dari Buah Hutan Jadi Oleh-Oleh Khas Tarakan, Kisah Sushanti Mengangkat Terap ke Pasar Modern

by Suiman Namrullah

TARAKAN — Di balik tumbuhnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Utara, ada cerita tentang orang-orang yang memilih untuk tidak sekadar berjualan. Mereka mencoba melihat potensi di sekitar, mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus membuka jalan bagi pelaku usaha lainnya.

Salah satunya adalah Sushanti Mulyadi, pemilik Lapis Tarakan. Perempuan kelahiran 8 Agustus 1980 itu memulai usahanya sejak 2017 dengan sebuah gagasan sederhana: menghadirkan produk oleh-oleh yang mampu membawa nama Kota Tarakan sekaligus mengangkat bahan pangan lokal.

Pilihan Sushanti jatuh pada buah terap, buah yang tumbuh di sejumlah wilayah Tarakan dan selama ini lebih banyak dikonsumsi secara langsung ketika musim panen.

Di mata Sushanti, buah terap bukan sekadar buah hutan. Di dalamnya terdapat potensi ekonomi yang bisa dikembangkan apabila diolah dengan kreativitas dan inovasi.

Salah satu produk unggulan yang dihasilkan oleh LAPIS TARAKAN, yakni Kue Lapis Terap.

Ia membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menemukan formula yang tepat hingga buah terap dapat diolah menjadi kue. Proses tersebut tidak berhenti pada pencarian rasa, tetapi juga menyangkut tekstur, daya simpan, kemasan, hingga bagaimana produk tersebut dapat diterima masyarakat.

Hasilnya adalah kue lapis terap yang kemudian menjadi salah satu produk andalan Lapis Tarakan.

Tidak berhenti di sana, Sushanti kembali berinovasi dengan memanfaatkan biji terap menjadi kukis kacang terap. Kini, ia juga mengembangkan produk turunan lainnya berupa selai terap.

Bagi Sushanti, setiap inovasi memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menciptakan produk baru.

“Bagaimana caranya saya berinovasi untuk mengangkat nilai ekonomis dari buah terap itu sendiri,” ujarnya, Selasa (25/8/26).

Upaya mengembangkan buah terap menjadi produk pangan memberikan dampak pada mata rantai usaha di tingkat lokal. Ketika membutuhkan bahan baku, Sushanti mengambil buah dari petani dan pemilik kebun di sejumlah wilayah Tarakan, terutama di daerah Juata dan Mamburungan.

Dengan begitu, keberadaan produk olahan terap tidak hanya memberi ruang bagi Lapis Tarakan untuk berkembang, tetapi juga menciptakan hubungan ekonomi dengan masyarakat yang menyediakan bahan baku.

Di sinilah semangat “UMKM Tumbuh, Kaltara Maju” menemukan maknanya.

Pertumbuhan UMKM tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat petani, pengolah bahan baku, pelaku kemasan, pemasaran, hingga pelaku usaha lain yang saling terhubung.

Sushanti melihat bahwa ketika sebuah produk lokal berkembang, manfaatnya semestinya tidak berhenti pada pemilik usaha.

Karena itu, selain mengembangkan produk sendiri, ia juga membuka ruang bagi produk UMKM lokal lainnya untuk dipasarkan melalui toko oleh-oleh yang dibangunnya.

Perjalanan Lapis Tarakan bermula dari rumah. Seiring waktu, usaha tersebut berkembang hingga memiliki toko yang tidak hanya menjadi tempat menjual produk miliknya sendiri.

Sushanti ingin toko tersebut menjadi ruang bagi produk-produk UMKM lokal, khususnya dari Kota Tarakan dan Kalimantan Utara.

Menurutnya, persoalan pemasaran dan keterbatasan tempat menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi pelaku UMKM. Banyak pelaku usaha masih memproduksi barang dari rumah dan kesulitan mendapatkan ruang untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen.

Karena itu, ia memilih untuk ikut membuka akses tersebut.

“Kita ingin mengubah bahwa produk lokal juga unggul dan bisa dibanggakan,” katanya.

Semangat tersebut memperlihatkan bahwa UMKM bukan hanya tentang bagaimana sebuah usaha bertahan dan mendapatkan keuntungan. Lebih dari itu, UMKM dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan.

Perjalanan Sushanti membangun usaha juga tidak selalu berjalan mudah. Pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas penjualan oleh-oleh mengalami perubahan karena mobilitas masyarakat terbatas.

Namun, ia memilih bertahan dengan menyesuaikan produk dan pasar. Ketika wisatawan dan pendatang tidak banyak bepergian, produk diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal.

Dari perjalanan tersebut, Sushanti semakin menyadari pentingnya kemampuan mengelola usaha.

Ia kemudian aktif dalam komunitas UMKM dan mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara maupun sejumlah BUMN.

Materi yang diperoleh tidak hanya mengenai promosi, tetapi juga pemasaran digital, penghitungan harga pokok produksi, penentuan harga jual, pembukuan, pengemasan hingga pengembangan usaha.

Menurut Sushanti, pendampingan semacam itu membuat pelaku UMKM tidak hanya menjadi produsen yang berorientasi pada penjualan.

“Bukan hanya sekadar produksi, jualan, produksi, jualan. Tapi mereka betul-betul mengemas kami selaku UMKM ini menjadi yang betul-betul berwawasan luas,” tuturnya.

Baginya, pengetahuan tersebut menjadi bekal agar UMKM mampu berkembang dan naik kelas.

Dalam beberapa tahun terakhir, produk Lapis Tarakan semakin dikenal sebagai oleh-oleh bagi pendatang yang hendak kembali ke daerah asal.

Para pekerja dari berbagai daerah yang berada di Tarakan turut menjadi bagian dari pasar tersebut. Ketika kembali ke Sumatera, Jawa, Sulawesi maupun daerah lainnya, produk khas Tarakan ikut dibawa sebagai buah tangan.

Sushanti menyebut omzet usahanya saat ini rata-rata berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan, meski angka tersebut dapat berubah sesuai kondisi penjualan.

Namun, bagi Sushanti, ukuran keberhasilan tidak semata-mata berada pada angka penjualan.

Ada kebanggaan ketika bahan yang berasal dari daerah sendiri dapat diolah menjadi produk yang dikenal masyarakat.

Ada pula kepuasan ketika petani mendapatkan pasar untuk hasil kebunnya dan pelaku UMKM lain memperoleh ruang untuk memasarkan produknya.

Kisah Sushanti hanyalah satu dari banyak cerita pelaku UMKM di Kalimantan Utara yang mencoba mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Dari sebuah buah yang sebelumnya belum banyak memiliki nilai ekonomi, lahir produk yang membawa nama Tarakan. Dari sebuah usaha rumahan, tumbuh sebuah toko yang juga memberi ruang bagi pelaku UMKM lainnya.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi daerah dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: keberanian melihat potensi lokal, kemauan untuk berinovasi, dan kesediaan untuk tumbuh bersama.

Sushanti masih ingin terus mengembangkan buah terap menjadi lebih banyak produk. Ia tidak ingin inovasi berhenti pada kue lapis dan kukis.

Sebab, baginya, semakin banyak potensi lokal yang bisa diolah, semakin besar pula kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekonomi.

Dari Tarakan, cerita itu terus bergerak.

UMKM tumbuh, produk lokal semakin dikenal, masyarakat ikut bergerak, dan dari pertumbuhan kecil itulah harapan untuk Kaltara yang semakin maju dibangun.

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses