Dua Sengketa Perbatasan Indonesia-Malaysia Selesai Pekan Depan

by Muhammad Reza

Jakarta – Indonesia-Malaysia akan menandatangani kesepakatan perbatasan minggu depan. Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Badan Informasi Geospasial, Ade Komara Mulyana, menjelaskan ada sembilan perbatasan yang belum disepakati dua negara atau outstanding boundary problems (OBP).

 

Ilustrasi

“Alhamdulillah, dari sembilan OBP ini, dalam dua tahun terakhir (sebanyak) lima di sektor timur sudah ada titik terang. Dari lima ini, dua sudah disepakati yang akan ditandatangani MoU-nya minggu depan di Kuala Lumpur,” kata Ade dalam talkshow Polemik MNC Trijaya di Jakarta, Sabtu, 16 November 2019.

Menurut dia, sembilan batas darat itu terbentang sepanjang 2.000 kilometer di Pulau Kalimantan. Terkait hal ini Indonesia dan Malaysia menelusuri batas tersebut berdasarkan perjanjian Inggris-Belanda. Karena, dalam hukum internasional, penentuan batas wilayah negara ditentukan oleh prinsip Uti Possidetis Juris.

Artinya, perbatasan suatu negara mengikuti batas wilayah dari negara bekas penjajahnya. Untuk Indonesia, perbatasan tersebut mengacu pada wilayah yang diwariskan oleh Belanda. Sementara Malaysia bicara tentang wilayah yang diwariskan oleh Inggris.

Penentuan batas wilayah Indonesia-Malaysia didasarkan pada sejumlah dokumen pada 1800-an hingga awal 1900-an. “Ini yang menjadi patokan kita dalam menentukan batas Indonesia dan Malaysia,” kata Ade

Rinciannya, empat OBP di sebelah barat di atas Kalimantan Barat. Sementara lima lainnya di sebelah timur Kalimantan Utara. Saat ini, Indonesia dan Malaysia sepakat menyelesaikan yang di sektor timur dulu.

Dua OBP tersebut yakni segmen sungai Simantipal dengan luas wilayah sengketa 4.500-an hektare dan segmen nomor pilar C-500 sampai C-600 dengan wilayah sengketa 400 hektar.

Sementara segmen ketiga ada di Pulau Sebatik. Pilar yang dibangun Inggris-Belanda di sana akan dihancurkan dan diganti dengan pilar batas baru hasil kesepakatan Indonesia Malaysia tahun ini.

Segmen keempat dan kelima lokasinya sama di sungai Sinapad Sesai, yang akan diselesaikan dengan cara pengukuran ulang gabungan dimulai dari DAS Sinapad. Berdasarkan hal itu akan disepakati koordinatnya, baru ditentukan daerah tersebut masuk wilayah malaysia atau indonesia.

“Ini akan kita lakukan tahun depan. Tapi, metodologi dan kriterianya sudah kita sepakati. Jadi, apa pun hasilnya itu yang akan kita ambil,” kata Ade. (medcom)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.