TANJUNG SELOR, Metrokaltara.com – Semangat emansipasi perempuan tak lagi berhenti pada simbol dan seremoni. Dalam Seminar Pre-Event Hari Kartini yang digelar di Universitas Kalimantan Utara, Jumat (17/4/2026) , sosok perempuan tampil sebagai motor perubahan—menjaga hutan sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga.
Hal itu ditegaskan oleh , Vamelia Ibrahim Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara yang juga Ketua TP PKK Kabupaten Tana Tidung. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan kebanggaannya terhadap keberanian para women champions dari Desa Long Sam dan Antutan.
“Mereka adalah bukti nyata bahwa di tangan perempuan, hutan tidak hanya terjaga kelestariannya, tetapi juga mampu menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujarnya.
Menurut Vamelia, selama ini sektor kehutanan kerap dipersepsikan sebagai ruang maskulin. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya—perempuan mampu hadir sebagai penjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi. Dari hutan, mereka tidak hanya merawat alam, tetapi juga menumbuhkan harapan.
Dalam sentuhan reflektifnya, Vamelia memaknai emansipasi bukan sekadar kesetaraan formal, melainkan keberanian membuka wawasan dan meningkatkan kapasitas diri. Baginya, perempuan harus hadir sebagai subjek pembangunan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Emansipasi sejati adalah ketika kita terus belajar, berkembang, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki keunggulan dalam melahirkan kebijakan publik yang inklusif dan berperspektif lingkungan. Sebagai legislator dengan perolehan suara terbanyak di Kaltara, sekaligus mengemban peran sebagai Bunda PAUD Nasional 2025, Vamelia menilai kualitas perempuan harus dibuktikan melalui karya, bukan sekadar representasi.
“Kita tidak hadir sebagai pelengkap kuota. Kita adalah penentu arah pembangunan yang lebih humanis dan berkelanjutan,” katanya dengan nada tegas.
Seminar ini juga menjadi ruang inspirasi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Unikal. Vamelia berpesan agar mereka terus mengasah kemampuan dan membangun rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan masa depan.
Mengutip pemikiran , ia mengingatkan, “Teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi.” Pesan itu, menurutnya, relevan sebagai penggerak semangat untuk menjemput kesetaraan melalui kualitas diri yang mumpuni.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi antara dan pihak kampus dalam menghadirkan ruang diskusi yang memperkuat peran perempuan sebagai penjaga iklim.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan pembangunan daerah, kisah perempuan dari Long Sam dan Antutan menjadi penanda: bahwa dari pinggiran hutan, lahir kekuatan yang mampu mengubah wajah masa depan Kalimantan Utara—lebih hijau, inklusif, dan berdaya. (rko)




