TARAKAN – Kepala Sekolah Rakyat (SR) Tarakan, Marisa Aulia, menyebut guru dan tenaga pendidik yang bertugas di Sekolah Rakyat merupakan tenaga pilihan yang direkrut langsung oleh Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia.
Menurutnya, proses perekrutan dilakukan secara nasional guna memastikan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter bagi peserta didik yang berasal dari keluarga miskin ekstrem dan miskin.
“Guru dan tenaga pendidik di Sekolah Rakyat merupakan pilihan langsung dari Kemensos. Jadi proses rekrutmennya dilakukan secara nasional,” ujarnya, Selasa (26/5/26).
Marisa menjelaskan, para tenaga pengajar tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan dalam mendampingi siswa yang tinggal di lingkungan asrama.
Selain kegiatan belajar mengajar, guru dan tenaga pendidik juga memiliki peran dalam pembinaan karakter, kedisiplinan, hingga kehidupan sosial siswa sehari-hari.
“Karena konsep Sekolah Rakyat ini bukan hanya pendidikan formal, tetapi juga pembentukan karakter anak,” katanya.
Saat ini, Sekolah Rakyat Tarakan memiliki 12 guru serta 19 wali asuh dan wali asrama yang bertugas mendampingi siswa selama berada di lingkungan sekolah.
Ia menilai keberadaan tenaga pendidik dan pendamping asrama sangat penting mengingat sebagian besar siswa berasal dari latar belakang keluarga prasejahtera dengan tantangan sosial yang cukup kompleks.
“Anak-anak ini perlu pendampingan yang lebih intensif, baik dalam belajar, kedisiplinan, maupun kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Sekolah Rakyat sendiri merupakan program pemerintah yang dibentuk berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang percepatan pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem.
Program tersebut menyasar anak-anak dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 dengan sistem pendidikan berasrama yang dilengkapi fasilitas makan, pakaian, hingga kebutuhan sekolah secara gratis.

