TARAKAN – Kepala Sekolah Rakyat (SR) Tarakan, Marisa Aulia, menegaskan konsep Sekolah Rakyat tidak hanya sebatas sekolah berasrama atau boarding school seperti pada umumnya, tetapi juga menitikberatkan pada pembentukan karakter dan perbaikan pola hidup anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Menurutnya, sebagian besar peserta didik yang berasal dari kategori desil 1 dan desil 2 memiliki latar belakang kehidupan yang cukup berat, sehingga pendekatan pendidikan yang diterapkan lebih menyentuh aspek kedisiplinan, spiritual, hingga kehidupan sosial.
“Anak-anak yang berada di desil satu dan dua itu fokus kehidupannya lebih banyak pada ekonomi. Kebanyakan hidupnya di jalanan, jadi yang pertama kami perbaiki adalah karakter dan kedisiplinannya,” ujarnya, Selasa (26/5/26).
Marisa menjelaskan, selama tinggal di asrama siswa dibiasakan menjalani pola hidup disiplin agar dapat diterapkan ketika kembali ke lingkungan masyarakat.
Selain itu, pembinaan spiritual juga menjadi perhatian utama melalui kewajiban salat lima waktu, kegiatan mengaji, hingga pembelajaran bersama pada malam hari.
“Kami memastikan anak-anak salat lima waktu, makan teratur tiga kali sehari ditambah dua kali makanan ringan supaya gizinya tercukupi,” katanya.
Ia mengungkapkan, program pemenuhan gizi di Sekolah Rakyat menunjukkan hasil positif terhadap perkembangan kesehatan siswa.
“Alhamdulillah peningkatan gizinya sangat baik. Banyak anak yang dulu bajunya pas saat awal masuk, sekarang sudah tidak muat lagi,” ungkapnya.
Marisa menyebut standar pembinaan di Sekolah Rakyat bahkan dibuat lebih tinggi karena pihak sekolah ingin para siswa memiliki karakter yang lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya.
Di luar jam belajar reguler yang berlangsung hingga pukul 15.30 Wita, siswa juga mengikuti berbagai kegiatan tambahan dan ekstrakurikuler.
Saat ini, Sekolah Rakyat Tarakan memiliki sembilan kegiatan ekstrakurikuler yang dipilih langsung berdasarkan minat dan bakat siswa setelah melalui proses asesmen.
“Kami melihat anak ini sukanya apa, bakatnya apa, atau ingin mencoba apa, lalu kami fasilitasi dengan pelatih,” jelasnya.
Selain pembelajaran akademik dan kegiatan ekstrakurikuler, pihak sekolah juga membiasakan siswa menjalani kehidupan sosial yang lebih baik, termasuk dalam bertutur kata dan berinteraksi dengan sesama.
Marisa mengaku, pada awal masuk banyak siswa yang terbiasa menggunakan kata-kata kasar dalam percakapan sehari-hari. Namun setelah menjalani pembinaan di asrama, perubahan perilaku mulai terlihat.
“Dulu satu kalimat itu hampir tidak selesai tanpa kata-kata kasar. Sekarang Alhamdulillah sudah tidak pernah terdengar lagi,” pungkasnya.

