TARAKAN — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Utara menggelar salat Istisqa di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Ladang, Kota Tarakan, Kamis (3/9/26).
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Utara, Syamsi Sarman, bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan salat Istisqa tersebut. Dalam khutbahnya, Syamsi mengajak jamaah untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, khususnya di tengah kondisi kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Syamsi menyampaikan bahwa perbuatan seseorang tidak hanya berdampak terhadap dirinya sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu saling mengingatkan dan mencegah tindakan yang dapat membawa dampak buruk bagi kepentingan bersama.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seorang penumpang pesawat yang membuka atau mengutak-atik pintu darurat ketika pesawat sedang mengudara. Tindakan satu orang, kata dia, berpotensi membahayakan seluruh penumpang.
“Kalau pintu itu terbuka, kemudian pesawat mengalami kecelakaan, yang mati bukan yang membuka pintu saja. Tapi satu pesawat bisa saja akan mati semua,” ujar Syamsi dalam khutbahnya.
Syamsi kemudian memberikan perumpamaan lain melalui perjalanan menggunakan speedboat. Menurutnya, apabila salah satu penumpang membuka jendela atau bagian yang seharusnya tertutup pada ruangan berpendingin, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang tersebut, tetapi seluruh penumpang.
“Itulah kehidupan kita. Perbuatan kita, apakah itu baik atau buruk, akan berdampak kepada orang lain. Perbuatan orang lain, apakah itu baik atau buruk, akan dialami juga oleh kita,” katanya.
Dalam khutbahnya, Syamsi juga mengajak jamaah untuk peduli terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap dan karhutla, khususnya di sejumlah wilayah Kalimantan.
Ia menyebut kondisi kabut asap di Bulungan sebagai salah satu wilayah yang menjadi perhatian. Menurutnya, jarak pandang masyarakat di wilayah tersebut dilaporkan sangat terbatas akibat kabut asap.
“Kita mendoakan saudara-saudara kita yang hari ini ada di Bulungan yang jarak pandangnya cuma enam sampai sepuluh meter,” ujarnya.
Syamsi juga menyampaikan bahwa dampak karhutla di wilayah selatan Kalimantan dapat dirasakan hingga Kalimantan Utara. Ia merujuk pada kondisi angin yang membawa asap dari wilayah selatan menuju utara.
“Walaupun terjadi di Kalimantan Selatan, kita di Kalimantan Utara juga akan mengalaminya. Maka sekali lagi, itulah pentingnya kita selalu peduli kepada sesama,” katanya.
Selain mengajak jamaah meningkatkan kepedulian, Syamsi juga menekankan pentingnya memperbanyak istighfar dan doa dalam pelaksanaan salat Istisqa.
Menurutnya, doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan dan karhutla.
“Hari ini kita memohon ampun, bukan minta ampun atas kesalahan kita saja. Kita mohonkan juga ampun untuk saudara-saudara kita yang lain,” tuturnya.
Ia berharap pelaksanaan salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama untuk memohon rahmat dan turunnya hujan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.
Syamsi kemudian mengajak seluruh jamaah untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan khusyuk, serta memperbanyak istighfar kepada Allah SWT.
Pelaksanaan salat Istisqa tersebut diikuti warga Muhammadiyah, serta ribuan siswa dan siswi dari lingkungan pendidikan Muhammadiyah di Kota Tarakan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum edukasi bagi para pelajar untuk mengenal salat Istisqa, memahami tujuan pelaksanaannya, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat yang terdampak bencana.

