TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Rencana pemerintah membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat Suku Dayak untuk mendaftar sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendapat respons positif dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tana Tidung, Markus Yuteng.
Bagi Markus, kebijakan tersebut tidak semestinya dipandang sebagai pemberian keistimewaan kepada kelompok tertentu. Justru, menurut dia, langkah itu menjadi bagian dari upaya memastikan semakin luasnya ruang pengabdian bagi putra-putri daerah, termasuk masyarakat Dayak Bulusu di Kalimantan Utara, khususnya Kabupaten Tana Tidung.
Markus menegaskan, pada prinsipnya setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mengabdi kepada bangsa dan negara melalui berbagai profesi, termasuk menjadi anggota TNI.
“Seluruh warga negara memiliki hak untuk bekerja dan mengabdi di bidang militer sebagai anggota TNI. Selama ini sebenarnya tidak ada larangan bagi masyarakat Suku Dayak Bulusu di Kalimantan Utara, khususnya di Tana Tidung, untuk mendaftar menjadi anggota TNI,” ujar Markus.
Namun, ia menilai adanya penyesuaian terhadap persyaratan maupun kesempatan bagi masyarakat Dayak Bulusu tetap merupakan langkah positif.
Menurut politikus Partai Hanura tersebut, kebijakan itu dapat membuka ruang yang lebih besar bagi anak-anak muda dari wilayah pedalaman yang selama ini mungkin menghadapi berbagai keterbatasan untuk mengejar cita-cita menjadi prajurit TNI.
Di balik seragam loreng dan proses pendidikan militer yang ketat, kata Markus, terdapat persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana negara menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang tumbuh jauh dari pusat-pusat perkotaan.
Bukan Sekadar Soal Seragam Loreng
Markus melihat kehadiran lebih banyak putra-putri Dayak Bulusu di institusi TNI bukan hanya berkaitan dengan profesi atau karier.
Lebih jauh, keterwakilan tersebut dinilai dapat memperkuat keberagaman di tubuh TNI sekaligus membangun kedekatan antara institusi pertahanan negara dengan masyarakat yang berada di wilayah pedalaman.
“Ini bukan semata-mata soal memberikan keistimewaan kepada masyarakat Dayak. Ini adalah bagaimana ruang pengabdian diperluas untuk seluruh anak bangsa,” tegasnya.
Ia menilai, putra-putri Dayak yang berasal dari wilayah pedalaman memiliki pengalaman sosial dan kedekatan budaya dengan masyarakat setempat. Modal tersebut, menurutnya, dapat menjadi kekuatan tersendiri ketika mereka nantinya mengemban tugas negara di wilayah perbatasan maupun daerah terpencil.
Kalimantan Utara sendiri memiliki karakter geografis yang luas dengan sejumlah wilayah yang berada jauh dari pusat pemerintahan. Karena itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam berbagai institusi negara dinilai penting untuk memperkuat rasa memiliki terhadap NKRI.
Membuka Pintu, Bukan Membuat Jalan Pintas
Meski mendukung penyesuaian kesempatan tersebut, Markus menekankan bahwa kebijakan itu tidak boleh dimaknai sebagai jalan pintas untuk masuk TNI.
Menurutnya, standar profesionalisme, disiplin, integritas dan kemampuan tetap harus menjadi bagian penting dalam proses seleksi.
Penyesuaian kesempatan, kata dia, harus ditempatkan sebagai upaya memberikan akses yang lebih adil, bukan menghilangkan standar yang menjadi fondasi profesionalitas TNI.
Dengan demikian, putra-putri Dayak Bulusu yang mengikuti proses seleksi tetap harus menunjukkan kemampuan dan kesiapan untuk menjalankan tugas sebagai prajurit.
“Kesempatan harus dibuka seluas-luasnya, tetapi kemampuan dan kesiapan tetap harus menjadi dasar. Yang kita dorong adalah pemerataan kesempatan untuk mengabdi,” ujarnya.
Sejarah yang Tak Boleh Hilang
Sebagai salah satu tokoh Dayak Bulusu, Markus juga membawa persoalan tersebut ke dalam perspektif sejarah.
Ia mengingatkan, masyarakat Dayak bukan kelompok yang baru hadir dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejak masa perjuangan melawan kolonialisme hingga mempertahankan kedaulatan negara, masyarakat Dayak telah menjadi bagian dari sejarah panjang Nusantara.
Menurutnya, sejarah tersebut harus terus diingat, terutama oleh generasi muda Dayak.
Markus mengatakan perjuangan masyarakat Dayak dalam menghadapi kolonialisme tidak berdiri sendiri. Dalam berbagai episode sejarah, masyarakat Dayak turut bergerak bersama para raja, tokoh masyarakat dan pejuang dari berbagai wilayah Nusantara.
“Sejarah tidak boleh dilupakan. Orang Dayak sudah berjuang bersama para raja dan pejuang Nusantara,” tegasnya.
Bagi Markus, sejarah tersebut bukan untuk membangun sekat antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sebaliknya, sejarah menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun dari kontribusi banyak suku, daerah dan kelompok masyarakat.
Dari Pedalaman untuk Indonesia
Dukungan Markus terhadap rencana penyesuaian kesempatan bagi masyarakat Dayak Bulusu pada akhirnya bermuara pada satu pesan putra-putri daerah juga memiliki hak yang sama untuk berdiri di garis depan pengabdian kepada negara.
Ia berharap peluang tersebut dapat dimanfaatkan generasi muda Dayak Bulusu dengan mempersiapkan diri sejak dini.
Pendidikan, kesehatan, fisik, mental, disiplin serta wawasan kebangsaan, menurutnya, harus menjadi modal utama bagi mereka yang bercita-cita menjadi prajurit TNI.
Sebab, menjadi prajurit bukan hanya tentang mengenakan seragam. Ada sumpah, tanggung jawab dan pengabdian yang melekat di dalamnya.
Dari pelosok Tana Tidung, harapan itu kini kembali mengemuka: agar anak-anak muda Dayak Bulusu tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa, tetapi juga mendapat ruang untuk berdiri di dalam barisan yang mengabdi dan menjaga Indonesia. (rko)

