KPK Ajak Pejabat Negara Hidup Sederhana

Rabu, Mei 1st 2019. | Headline, Hukum & Kriminal

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajak seluruh agen gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) untuk hidup sederhana. Terpenting, menggaungkan sikap antikorupsi di tengah-tengah masyarakat.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan

“KPK mengajak para agen SPAK di seluruh Indonesia, baik yang menjabat sebagai Kepala Daerah, Polri, TNI, PNS/ASN atau pun masyarakat sipil dan swasta untuk membiasakan hidup sederhana dan mengajak pihak lain untuk berperilaku antikorupsi,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu, 1 Mei 2019.

Menurut Basaria, gaya hidup dan kebiasaan menggunakan barang-barang bermerek dan mahal tidak sejalan dengan semangat kesederhanaan dalam upaya pencegahan korupsi. Pencegahan korupsi dimulai dari diri sendiri.

“Misal harus beli tas yang mahal, beli cincin, beli jam Rolex. Ini yang selalu kita ingatkan pada ibu-ibu,” kata Basaria.

Bagi Basaria, pencegahan bisa dilakukan dalam keluarga sejak dini. Salah satunya, tugas seorang ibu mengawasi dan mendidik anaknya soal kejujuran sejak kecil.

“Untuk suaminya, mengingatkan yang bukan miliknya, jika bawa barang yang jangan menjadi pendorong suami untuk melakukan korupsi,” ujarnya.

Basaria mengakui upaya pencehanan pencegahan korupsi tak berjalan mulus. Mengingat, praktik korupsi yang dilakukan pejabat negara masih saja terjadi, teranyar Bupati Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sri Wahyumi Maria Manalip.

“Kita tidak boleh berputus asa tidak melakukan pencegahan, ini tantangan untuk kita semua,” pungkasnya.

Sri Wahyumi bersama timsesnya bernama Benhur Lalenoh dan seorang pengusaha Bernard Hanafi Kalalo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Talaud tahun anggaran 2019. Sri Wahyumi dan Benhur selaku penerima sementara Bernard pemberi suap.

Sri Wahyumi diduga meminta Benhul mencarikan kontraktor yang bersedia menggarap proyek di Pemkab Talaud dengan catatan mau memberikan fee 10%. Benhul lantas menawarkan Bernard untuk menggarap proyek tersebut.

Sebagai imbalannya, Bernard memberikan fee 10% dalam bentuk barang mewah sesuai permintaan Sri Wahyumi. Beberapa barang mewah itu yakni Handbag Chanel senilai Rp97.360.000, Tas Balenciaga bernilai Rp32.995.00, dan jam tangan Rolex seharga Rp224.500.000.

Kemudian, anting berlian Adelle bernilai Rp32.075.000 dan cincin berlian Rp76.925.000. Terakhir uang tunai sebesar Rp50.000.000.

Suap diduga berkaitan dengan dua proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Talaud yaitu Pasar Lirung dan Pasar Beo. Diduga, terdapat proyek-proyek lain yang dibicarakan oleh ketiga orang tersebut.

Sri Wahyumi dan Benhul disangkakan Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Bernard selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sumber: medcom.id

tags: ,

Related For KPK Ajak Pejabat Negara Hidup Sederhana