Pemda dan Forkopimda Waspada Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan

by Redaksi Kaltara

TANJUNG SELOR, MK – Pemerintah Kabupaten Bulungan Bersama Forkopimda berkomitmen waspada menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Hal itu disampaikan oleh Bupati Kabupaten Bulungan, Syarwani pada saat apel gelar kesiapsigaan karhutla di Lapangan Agatis, Rabu 13/08.

Bupati Kabupaten Bulungan, Syarwani Mengatakan, Persoaalan karhutla dan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawa pemerintah daerah, dibutuhkan kerjasama dan sinergi lintas sektoral, kelompok masyarakat dan pemuda.

“Saya mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif jika terjadi kebakaran, dan jika bencana terjadi kita dituntun untuk hadir memberikan bantuan dan dukungan. Untuk bersama-sama mengatasi permasalahan karhutla di Bulungan,” katanya kepada Metro Kaltara.

“Pembukaan lading dengan pembakaran adalah bagian dari kultur masyarakat, tetapi harus selalu dalam pengawasan dan kami selalu minta dikomunikasikan terlebih dahulu,” Lanjutnya.

ada 74 desa di Bulungan yang telah membentuk koordinasi dan musyawarah adat sebelum membuka ladang.

“ ini penting agar masyarakat tau dan menjaga api agar tidak meyambar kemana-mana,” Ungkapnya.

Syarwani juga menekankan peran masyarakat desa sebagai relawan pengendali api untuk mengedukasi dan mengawal petani.

“Regulasi bukan satu-satunya kunci, edukasi lapangan jauh lebih penting,” ujarnya. Pemetaan wilayah rawan karhutla juga telah dilakukan. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kodim 0903/Bulungan, potensi tinggi kebakaran ada di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Tanjung Palas Utara dan wilayah hulu Sungai Kayan. Sementara itu, Dandim 0903/Bulungan, Kolonel Inf Prasetyo Ari Wibowo mengatakan apel kali ini menjadi momentum memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana.

“Kami berkordinasi dengan seluruh stakeholder. Di wilayah Kalimantan, hutan yang luas dan kebiasaan masyrakat yang membuka lahan dengan dibakar menjadi potensi yang harus diwaspadai,’ bebernya.

Prasetyo menyebut, TNI memiliki sekitar 700–800 personel yang siap digerakkan, dibantu unsur Polri, Satpol PP, BPBD dan dinas terkait. “Kami juga sudah mengecek kendaraan logistik, peralatan dan dukungan kesehatan. Apel ini membuat kita tahu kemampuan yang ada dan apa yang perlu diperbaiki,” tegasnya.

Selain itu, pemantauan titik api dilakukan dengan aplikasi Sipongi milik BPBD dan aplikasi Fire Monitoring TNI. “Dari pengalaman sebelumnya, titik rawan ada di daerah yang hutannya lebat, akses air terbatas dan pola bertani masih tradisional,” pungkasnya. (Fy/red)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses