Pemkab Nunukan Apresiasi Pembinaan Warga Binaan Melalui Keterampilan Membatik

by Redaksi Kaltara

Nunukan, MK – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Nunukan tidak hanya menjadi momentum pemberian remisi bagi warga binaan, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat langsung proses pembinaan yang berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nunukan.

Sebanyak 967 warga binaan pemasyarakatan (WBP) menerima remisi dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026).

Usai penyerahan remisi, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan, Ir. H. Raden Iwan Kurniawan, melihat langsung sejumlah kegiatan pembinaan yang diikuti warga binaan, salah satunya keterampilan membatik.

Dalam kunjungan tersebut, Raden Iwan menyaksikan langsung proses mencanting. Seorang warga binaan tampak tekun menggoreskan malam menggunakan canting pada kain yang telah diberi motif.

Aktivitas tersebut menjadi salah satu bentuk pembinaan keterampilan yang diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi bekal produktif setelah warga binaan kembali ke masyarakat.

Raden Iwan mengapresiasi pembinaan yang diberikan kepada warga binaan selama menjalani masa pidana. Menurutnya, proses pemasyarakatan tidak hanya berkaitan dengan menjalani hukuman, tetapi juga bagaimana memberikan pembinaan dan keterampilan agar warga binaan memiliki kesiapan untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

“Ini merupakan program tahunan pemerintah sebagai bentuk apresiasi kepada para narapidana yang menjalankan program secara terus-menerus dengan kondisi yang baik. Mereka mendapatkan pembinaan dan apresiasi atas proses yang telah dijalani,” ujar Raden Iwan.

Ia menilai, keterampilan membatik merupakan salah satu contoh kegiatan positif yang dapat memberikan manfaat jangka panjang. Keterampilan tersebut diharapkan tidak berhenti selama warga binaan berada di Lapas, tetapi dapat dikembangkan menjadi kemampuan yang bernilai ketika mereka telah kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Pembinaan ini memberikan bekal bagi warga binaan. Selama berada di sini mereka mengikuti berbagai program, salah satunya seperti yang kita lihat tadi, yaitu membatik. Masih banyak program lain yang dilaksanakan di Lapas untuk mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat,” katanya.

Menurut Raden Iwan, keberlanjutan pembinaan juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, dukungan tersebut penting agar warga binaan yang telah mendapatkan keterampilan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menjalani kehidupan secara produktif setelah bebas.

“Harapannya, setelah mereka bebas, bekal yang didapat selama di Lapas ini bisa diterapkan di luar. Jadi ketika kembali ke masyarakat, mereka sudah memiliki kemampuan dan kesiapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik,” tambahnya.

Raden Iwan menegaskan, semangat pembinaan sejalan dengan tujuan pemasyarakatan, yakni mendorong warga binaan agar mampu memperbaiki diri, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Momentum pemberian remisi pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun menjadi pengingat bahwa setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menatap masa depan. Sementara itu, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan menjadi salah satu modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.

Melalui sinergi pemerintah, Lapas, dan masyarakat, pembinaan diharapkan tidak berhenti di balik tembok pemasyarakatan, tetapi dapat berlanjut menjadi kemandirian dan kontribusi positif ketika warga binaan kembali ke lingkungan sosialnya. (**)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses