TARAKAN — Pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), terus dikebut untuk mengejar target penyelesaian pada akhir November 2026. Hingga memasuki minggu ke-43 pelaksanaan, progres fisik proyek tersebut dilaporkan mencapai 74,7 persen.
Pembangunan fasilitas pendidikan yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis dan Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Kaltara itu sempat menghadapi kendala teknis, terutama pada tahap penyiapan lahan.
Perwakilan penyedia jasa, Reni, menjelaskan bahwa kondisi awal lahan yang berupa rawa membutuhkan pekerjaan pematangan dan penimbunan sebelum konstruksi bangunan dapat dilaksanakan secara optimal.
Menurutnya, proses tersebut membutuhkan waktu tambahan karena permukaan tanah harus ditinggikan hingga sekitar tiga meter dari kondisi awal di seluruh area pembangunan.
“Kendala utama sebelumnya adalah pematangan lahan. Lahan yang diberikan belum siap untuk pembangunan karena berupa rawa. Proses pematangan dan penimbunan itu memotong waktu hingga 77 hari kerja,” ujar Reni, Selasa (27/10/26).
Ia mengatakan, pekerjaan penimbunan juga menghadapi tantangan akibat curah hujan yang tinggi. Kondisi tanah timbunan yang masih rentan tergenang menyulitkan mobilisasi alat berat maupun pengangkutan material ke lokasi proyek.
“Selama proses penimbunan, curah hujan juga tinggi. Karena lahannya merupakan tanah timbunan, mobilisasi peralatan dan material menjadi lebih sulit. Jika lahan sudah siap sejak awal, pembangunan tentu bisa berjalan lebih cepat,” jelasnya.
Kendala tersebut berdampak terhadap jadwal pelaksanaan proyek yang memiliki durasi kontrak 240 hari. Meski demikian, penyedia jasa menyatakan terus melakukan percepatan pekerjaan agar pembangunan dapat diselesaikan sesuai target yang telah ditetapkan.
Di tengah kendala yang dihadapi, sejumlah bangunan di kawasan SRT 2 Tarakan dilaporkan telah selesai dikerjakan dan mulai difungsikan secara bertahap.
Reni menyebutkan, delapan bangunan telah mencapai progres 100 persen. Fasilitas tersebut meliputi asrama putra dan putri SMP, kantin, gedung ibadah, ruang kelas SMP, gedung SMA, dapur, serta gudang.
“Progres pembangunan pada minggu ke-43 sudah mencapai 74,7 persen. Ada delapan gedung yang telah selesai 100 persen dan sudah fungsional,” ungkapnya.
Selain penyelesaian bangunan, penyedia jasa juga telah menyediakan sejumlah fasilitas pendukung kegiatan belajar dan kehidupan siswa di lingkungan sekolah.
Perlengkapan interior dan furnitur, termasuk ranjang, kasur asrama, meja, serta kursi belajar, disebut telah tersedia seluruhnya.
Sementara itu, penyempurnaan kebutuhan listrik dan air masih berlangsung. Sistem mekanikal, elektrikal, dan pemipaan atau plumbing terus diselesaikan, dengan dukungan generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan untuk menunjang operasional.
Reni menegaskan, pihak penyedia jasa berkomitmen mempercepat penyelesaian sisa pekerjaan agar seluruh fasilitas dapat segera digunakan secara optimal.
Pihaknya menargetkan pembangunan SRT 2 Tarakan dapat dirampungkan dan siap diserahterimakan pada November 2026.
“Kami berkomitmen menyelesaikan seluruh pekerjaan. Target kami, pembangunan bisa selesai pada November ini. Kami terus memacu pengerjaan agar seluruh gedung selesai dan siap digunakan sepenuhnya,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, atas kepercayaan yang diberikan dalam pembangunan fasilitas pendidikan tersebut.
Menurutnya, pembangunan SRT 2 Tarakan merupakan bagian penting dalam mendukung peningkatan akses dan kualitas pendidikan di Kalimantan Utara.
Dengan target penyelesaian pada akhir November, percepatan pekerjaan di sisa waktu pelaksanaan menjadi faktor penting untuk memastikan seluruh fasilitas dapat diselesaikan sesuai rencana. Adapun kepastian penyelesaian tetap bergantung pada progres pekerjaan di lapangan dan pemenuhan seluruh persyaratan sebelum serah terima proyek.

