Jakarta, MK – Minimnya uji coba tidak menghalangi target tinggi tim soft tenis Indonesia di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Pengurus Pusat Persatuan Soft Tennis Indonesia (PP Pesti) membidik dua medali perak dan satu perunggu.
Persiapan menuju Asian Games 2026 sudah dilakukan sejak Maret. Namun, keterbatasan anggaran membuat tim soft tenis Indonesia hanya mendapat satu kesempatan try out ke luar negeri.
Tim manajer soft tenis Indonesia, Qamariah Ferly Montolalu, mengatakan skuad akan terus mematangkan persiapan hingga keberangkatan ke Jepang pada 15 September mendatang.
“Iya karena memang ada keterbatasan anggaran dari Kemenpora juga, kami hanya mendapat kesempatan satu kali try out di Korea pada Juni kemarin,” ungkap Ferly saat ditemui seusai latihan di kawasan Kebayoran Lama, Selasa (11/8/2026).
Dalam try out di Korea Selatan tersebut, tim Indonesia mengikuti dua turnamen internasional, yakni di Incheon pada 15-22 Juni dan Sunchang pada 23-29 Juni. Hasilnya, Indonesia membawa pulang tiga medali perunggu.
Meski hanya memiliki satu agenda uji coba internasional, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk memetakan kekuatan calon lawan di Asian Games.
“Sudah mendapat gambaran calon yang kami hadapi di Asian Games, seperti edisi sebelumnya itu Jepang, Korea, dan Taiwan yang cukup dominan untuk cabor ini,” ujarnya.
Target Dua Perak dan Satu Perunggu
Pada Asian Games 2026, Indonesia akan menurunkan tujuh atlet, terdiri dari lima putra dan dua putri. Mereka adalah Tio Juliandi Hutauruk, Fernando Sanger, Bagus Angga Boedy Pradewa, Rizky Zammy Febrian Laluyan, Muhammad Reza Falevi, Siti Nur Arasy, dan Allif Nafiiah.
Ketujuh atlet tersebut diproyeksikan tampil di lima nomor, yakni beregu putra, ganda putri, tunggal putra, tunggal putri, dan ganda campuran. Dari lima nomor tersebut, Pesti sudah menentukan sektor yang dianggap paling realistis untuk menyumbangkan medali.
“Dua medali perak dan satu medali perunggu. Dari beregu putra, ganda campuran, dan tunggal putri,” kata Ferly.
Target tersebut sekaligus menunjukkan ambisi soft tenis Indonesia untuk memperbaiki capaian pada dua Asian Games sebelumnya.
Pada Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, soft tenis Indonesia mengoleksi satu medali perak dan tiga perunggu. Medali perak diraih Alexander Elbert Sie dari tunggal putra, sedangkan perunggu datang dari tunggal putra, tunggal putri, dan beregu putra.
Sementara pada Asian Games 2022 Hangzhou, yang digelar pada 2023, Indonesia hanya meraih satu medali perunggu dari nomor beregu putra. Dengan demikian, target dua perak dan satu perunggu di Aichi-Nagoya berpotensi menjadi peningkatan dibandingkan pencapaian di Hangzhou
Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan Jadi Tantangan
Ferly menyadari target tersebut tidak mudah. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menjadi tiga negara yang selama ini memiliki kekuatan besar di cabang soft tenis Asia. Karena itu, Indonesia tidak memasang target emas. Pesti memilih sasaran yang dinilai lebih realistis berdasarkan peta persaingan.
“Iya kalau melihat peta kekuatan cukup berat buat kita (untuk mendapat medali emas). Yang realistis bagi kami adalah medali perak dari beregu putra dan ganda campuran,” kata Ferly.
Selain dua perak tersebut, tunggal putri menjadi nomor yang diharapkan memberikan satu medali perunggu. Salah satu andalan di sektor putri adalah Siti Nur Arasy. Ia memiliki modal positif setelah menjuarai nomor tunggal putri Pathum Thani International 2025 di Thailand dengan mengalahkan wakil Taiwan Cheng Jul di final.
Soft tenis sendiri akan mempertandingkan lima nomor di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda campuran, beregu putra, dan beregu putri.
Dengan persiapan yang terus digenjot hingga keberangkatan ke Jepang, tim soft tenis Indonesia berharap keterbatasan uji coba tidak menjadi penghalang untuk memenuhi target medali di Asian Games 2026. (mcy/krs)

