Tulak Bala Bulan Safar di Pelabuhan Keramat, Rawat Tradisi, Perkuat Kebersamaan Masyarakat Tana Tidung

by Isman Toriko

TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Suasana khidmat menyelimuti Pelabuhan Keramat, Kabupaten Tana Tidung, Rabu pagi, 12 Agustus 2026. Di tengah aktivitas masyarakat, doa-doa dipanjatkan sebagai bagian dari Tradisi Tulak Bala Bulan Safar, sebuah kearifan lokal yang hingga kini masih hidup dan terus dijaga masyarakat.

Tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Di balik rangkaian pelaksanaannya, tersimpan pesan tentang doa, ikhtiar, kebersamaan, sekaligus harapan agar masyarakat Kabupaten Tana Tidung senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan Tulak Bala dihadiri Wakil Bupati Tana Tidung Sabri, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Tana Tidung, Sekretaris Daerah, para Asisten dan jajaran Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat setempat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa tradisi Tulak Bala tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang bertemunya masyarakat dalam suasana penuh kekeluargaan.

Di Pelabuhan Keramat, masyarakat berkumpul dan mengikuti kegiatan dengan penuh kekhidmatan. Doa bersama menjadi inti dari momentum tersebut, dengan harapan agar Kabupaten Tana Tidung diberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan serta dijauhkan dari berbagai musibah dan marabahaya.

Bagi masyarakat, Tulak Bala merupakan bentuk ikhtiar bersama. Doa dipanjatkan, silaturahmi diperkuat, sementara nilai-nilai kearifan lokal terus dirawat agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Wakil Bupati Tana Tidung Sabri menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tradisi Tulak Bala Bulan Safar tersebut.

Menurutnya, tradisi dan kearifan lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Tana Tidung. Karena itu, keberadaannya perlu terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi muda.

“Kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat. Semoga melalui doa dan ikhtiar bersama ini, Kabupaten Tana Tidung senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari segala musibah dan marabahaya,” ujar Wakil Bupati.

Pesan tersebut menegaskan bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai peninggalan masa lalu. Tradisi juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi, memperkuat identitas daerah, sekaligus menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian antar sesama.

Tulak Bala menjadi salah satu contoh bagaimana nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial masyarakat dapat berjalan beriringan.

Ketika masyarakat berkumpul dalam satu momentum, batas-batas perbedaan menjadi lebih cair. Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga duduk dalam semangat yang sama: memanjatkan doa dan membangun harapan untuk daerah yang lebih aman dan penuh keberkahan.

Di tengah perkembangan Kabupaten Tana Tidung yang terus bergerak, pelestarian tradisi lokal menjadi tantangan tersendiri.

Pembangunan, modernisasi dan perubahan pola kehidupan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sebuah daerah. Namun, kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budaya.

Justru, tradisi seperti Tulak Bala dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan kemajuan ekonomi, tetapi juga membutuhkan kekuatan sosial, budaya dan nilai kebersamaan.

Nilai itulah yang terlihat dalam pelaksanaan Tulak Bala di Pelabuhan Keramat.

Tradisi Tolak Bala di Bulan Safar

Masyarakat tidak hanya hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga membawa harapan. Harapan agar keluarga diberi kesehatan, kehidupan masyarakat semakin tenteram, aktivitas ekonomi berjalan lancar, serta daerah dijauhkan dari bencana dan berbagai persoalan.

Bagi generasi muda, momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Tana Tidung.

Sebab sebuah tradisi akan tetap hidup bukan hanya karena dilaksanakan, tetapi karena nilai yang terkandung di dalamnya dipahami dan diwariskan.

Pelaksanaan Tulak Bala Bulan Safar di Pelabuhan Keramat akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda budaya.

Ia menjadi ruang spiritual sekaligus sosial. Ruang untuk berdoa, bersyukur, bersilaturahmi dan menguatkan kembali rasa persaudaraan.

Kehadiran pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat umum menunjukkan adanya semangat bersama untuk menjaga identitas daerah.

Dari Pelabuhan Keramat, doa dan harapan itu kemudian menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk perjalanan Kabupaten Tana Tidung ke depan.

Semangat tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Nilai gotong royong, saling peduli, menjaga persatuan dan menghormati warisan budaya diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Tulak Bala mengajarkan bahwa menjaga daerah bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat pun memiliki peran penting melalui kepedulian, kebersamaan dan kekuatan sosial yang dibangun dari lingkungan masing-masing.

Momentum Bulan Safar menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai perubahan, ada nilai-nilai yang harus tetap dipertahankan.

Nilai tentang kebersamaan, Nilai tentang kepedulian, Nilai tentang doa dan ikhtiar, Serta nilai tentang bagaimana masyarakat menjaga warisan leluhur sembari terus melangkah menuju masa depan.

Dengan semangat tersebut, Tradisi Tulak Bala Bulan Safar diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga keharmonisan masyarakat Kabupaten Tana Tidung—daerah yang terus tumbuh, namun tetap berpijak pada akar budaya dan kearifan lokalnya. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses