TANA TIDUNG, Metrokaltara.com — Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Tana Tidung, Markus Yuteng memilih tetap menyempatkan diri turun ke ladang.
Bukan sekadar untuk bertani, aktivitas tersebut menjadi bagian dari cara Markus menjaga hubungan dengan tanah, keluarga, serta tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhurnya.
Dengan tangan yang terbiasa bekerja di ladang, Markus mengikuti kegiatan nugal padi gunung, sebuah tradisi bercocok tanam yang hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat Dayak Belusu di Kabupaten Tana Tidung.
Di sela aktivitasnya sebagai anggota legislatif, Markus kembali menjalani peran yang sejak lama melekat dalam kehidupannya sebagai bagian dari masyarakat Dayak Belusu.
Baginya, jabatan sebagai wakil rakyat tidak boleh membuat seseorang melupakan akar dan jati dirinya.
“Sesibuk apa pun saya sebagai anggota dewan, saya tetaplah masyarakat yang memang punya kewajiban sebagai suami dan sebagai orang Dayak. Bertani ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kami,” ujar Markus.
Menurutnya, bertani bukan hanya persoalan menghasilkan bahan pangan. Bagi masyarakat Dayak Belusu, kegiatan bercocok tanam juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat.
Salah satunya tercermin melalui tradisi nugal, yakni kegiatan menanam padi gunung secara bersama-sama dengan mengedepankan semangat gotong royong.
Dalam tradisi tersebut, pekerjaan di ladang tidak semata-mata dilakukan secara individual. Keluarga, kerabat dan masyarakat dapat terlibat bersama, saling membantu dari proses persiapan lahan hingga penanaman.
“Sudah menjadi tradisi kami menanam padi secara bergotong royong. Ini bukan hanya soal menanam padi, tetapi bagaimana kebersamaan tetap terjaga,” katanya.
Nugal, Jejak Leluhur yang Tetap Hidup
Bagi masyarakat Dayak Belusu, musim tanam merupakan salah satu momentum penting dalam siklus kehidupan masyarakat.
Ketika musim nugal tiba, ladang kembali menjadi ruang pertemuan. Suara orang-orang yang bekerja, canda keluarga, hingga aktivitas menanam benih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut menghadapi tantangan. Modernisasi dan perubahan pola kehidupan masyarakat perlahan membuat sebagian generasi muda semakin jauh dari aktivitas pertanian tradisional.
Namun bagi Markus, tradisi nugal tidak boleh sekadar menjadi cerita masa lalu. Justru, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Bertani itu sudah menjadi darah daging masyarakat Dayak Belusu. Ini warisan dari nenek moyang yang harus tetap kita jaga,” tuturnya.
Ia menilai, semangat gotong royong yang ada dalam tradisi nugal memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Sebab, di tengah kehidupan yang semakin individualistis, masyarakat masih membutuhkan ruang untuk saling membantu dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Menjadi Wakil Rakyat Tanpa Kehilangan Akar
Aktivitas Markus di ladang juga memperlihatkan sisi lain dari seorang anggota legislatif.
Di ruang sidang dan forum pemerintahan, ia menjalankan fungsi sebagai wakil masyarakat. Namun ketika berada di ladang, ia kembali menjadi bagian dari masyarakat yang tumbuh bersama tradisi dan kehidupan agraris.
Tidak ada sekat jabatan ketika pekerjaan di ladang dimulai. Cangkul, benih, tanah dan kebersamaan menjadi pengingat bahwa sebelum menjadi seorang wakil rakyat, ia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki akar budaya dan kehidupan yang tidak terpisahkan dari tanah.
Bagi Markus, menjadi anggota DPRD bukan alasan untuk meninggalkan kehidupan masyarakat.
Sebaliknya, pengalaman hidup sebagai petani dan bagian dari komunitas Dayak Belusu menjadi modal penting untuk memahami persoalan masyarakat secara lebih dekat.
Ia percaya, kebijakan pembangunan akan lebih bermakna ketika lahir dari pemahaman terhadap kehidupan nyata masyarakat.
“Sebagai wakil rakyat, saya punya tanggung jawab kepada masyarakat. Tetapi sebagai suami dan sebagai orang Dayak, saya juga punya tanggung jawab untuk keluarga dan menjaga tradisi yang sudah diwariskan oleh orang tua dan nenek moyang kami,” ujarnya.
Merawat Pangan, Merawat Identitas
Tradisi nugal pada akhirnya bukan hanya tentang padi yang ditanam di ladang.
Di balik setiap benih yang ditanam, ada pengetahuan leluhur, nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam dan harapan agar kehidupan keluarga tetap berjalan.
Padi gunung yang tumbuh dari ladang masyarakat menjadi bagian dari ketahanan pangan sekaligus identitas budaya.
Karena itu, bagi Markus Yuteng, turun ke ladang di tengah kesibukan sebagai wakil rakyat merupakan bentuk sederhana untuk tetap mengingat dari mana ia berasal.
Jabatan bisa datang dan berganti. Kesibukan politik dan pemerintahan juga terus berubah.
Namun tanah leluhur, tradisi gotong royong dan kearifan lokal masyarakat Dayak Belusu adalah bagian dari identitas yang tidak seharusnya hilang ditelan zaman.
Di ladang itulah Markus kembali menemukan makna sederhana tentang kehidupan menanam bersama, bekerja bersama, dan menjaga warisan leluhur agar tetap tumbuh bersama generasi berikutnya. (rko)


