19 Tahun Tana Tidung, Dari Sebuah Perjuangan, Menjadi Daerah yang Terus Berlari

by Isman Toriko

TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Ada daerah yang tumbuh dengan cepat karena memiliki segala kemudahan. Ada pula daerah yang harus menempuh jalan panjang, melewati keterbatasan, perdebatan dan berbagai tantangan sebelum akhirnya mampu berdiri dan menunjukkan wajahnya sendiri.

Kabupaten Tana Tidung adalah bagian dari cerita itu. Sembilan belas tahun perjalanan bukan waktu yang singkat.

Di balik usia yang kini memasuki angka ke-19, ada banyak cerita tentang bagaimana sebuah daerah berusaha menemukan pijakan, membangun pemerintahan, membuka keterisolasian, menghadirkan pelayanan, serta perlahan mengubah wajah pembangunan.

Dari sebuah daerah yang dahulu masih bergulat dengan keterbatasan, kini Tana Tidung mulai memperlihatkan perubahan.

Jalan dan jembatan terus dibangun. Fasilitas pemerintahan mulai terkonsentrasi. Pelayanan kesehatan diperkuat. Aset daerah mulai ditata dan diamankan. Bahkan, kawasan pusat pemerintahan yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari rencana, kini perlahan berdiri sebagai wajah baru Kabupaten Tana Tidung.

Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang kembali diingat dalam Paripurna Istimewa Masa Sidang II Tahun 2026, dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-19 Kabupaten Tana Tidung, di Ruang Sidang DPRD Tana Tidung, Senin (10/8/2026).

Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali menyampaikan bahwa usia 19 tahun harus menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang telah dicapai, sekaligus menatap jauh ke depan.

Sebab baginya, hari jadi bukan sekadar perayaan. Hari jadi adalah ruang untuk melakukan evaluasi.

Apa yang sudah dilakukan? Apa yang belum selesai? Dan apa yang harus diperjuangkan lebih keras? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menjadi bagian dari refleksi perjalanan pembangunan Tana Tidung.

Ketika Anggaran Harus Efisien, Pelayanan Tak Boleh Berhenti

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah daerah menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Ruang fiskal harus dihitung lebih cermat. Setiap program harus memiliki manfaat yang jelas. Setiap rupiah anggaran dituntut memberikan dampak bagi masyarakat.

Namun Ibrahim menegaskan, efisiensi tidak boleh diterjemahkan sebagai alasan untuk mengurangi kualitas pelayanan.

Justru sebaliknya. Keterbatasan harus melahirkan kreativitas. Birokrasi harus bekerja lebih cepat. Program harus lebih tepat sasaran. Pelayanan harus semakin sederhana dan masyarakat tidak boleh menjadi pihak yang dirugikan.

“Efisiensi anggaran ini tidak menjadi alasan untuk kita tetap lebih kreatif dalam meningkatkan pelayanan publik. Kita akan terus meningkatkan pelayanan yang efektif, lebih efisien, lebih cepat dan lebih tanggap lagi,” ujar Ibrahim.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa pembangunan tidak selalu harus diukur dari seberapa besar anggaran yang dibelanjakan.

Kadang, kemajuan justru lahir dari keberanian pemerintah untuk bekerja lebih cerdas.

Infrastruktur Membuka Jalan, Kesehatan Menjaga Kehidupan

Selama perjalanan pembangunan Tana Tidung, infrastruktur menjadi salah satu wajah paling mudah dilihat masyarakat.

Jalan, jembatan dan berbagai fasilitas dasar menjadi urat nadi yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Bagi masyarakat di daerah yang memiliki bentang wilayah luas, pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek pemerintah.

Ia adalah tentang waktu tempuh. Tentang akses terhadap pendidikan. Tentang bagaimana hasil pertanian dapat dibawa menuju pasar.

Tentang bagaimana seorang warga dapat mencapai pusat pelayanan kesehatan tanpa harus menghadapi perjalanan yang terlalu panjang.

Karena itu, ketika infrastruktur bergerak, sesungguhnya kehidupan masyarakat juga ikut bergerak.

Namun pembangunan tidak hanya berhenti pada jalan dan jembatan. Pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian.

Ibrahim menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas perhatian terhadap pembangunan daerah tertinggal, terdepan dan terluar, termasuk Kalimantan Utara dan Kabupaten Tana Tidung.

Salah satu perhatian tersebut diwujudkan melalui pembangunan PHTC RSUD Akhmad Berahim, yang diarahkan untuk meningkatkan rumah sakit dari kelas D menjadi kelas C.

“Kita berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo atas perhatian beliau di daerah 3T, khususnya Provinsi Kalimantan Utara dan Kabupaten Tana Tidung, dengan pembangunan PHTC RSUD Akhmad Berahim dari kelas D ke C,” katanya.

Bagi masyarakat Tana Tidung, peningkatan kualitas rumah sakit memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan kelas.

Ada harapan agar pelayanan kesehatan semakin dekat. Ada harapan agar fasilitas semakin lengkap.

Dan ada harapan agar masyarakat tidak selalu harus meninggalkan daerah hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih memadai.

Pusat Pemerintahan, Simbol Perubahan

Jika ingin melihat salah satu simbol perubahan Tana Tidung, kawasan pusat pemerintahan menjadi salah satu jawabannya.

Kantor Bupati telah berdiri, Kantor DPRD juga telah hadir Perlahan, kawasan tersebut membentuk sebuah wajah baru pemerintahan Kabupaten Tana Tidung.

Namun Ibrahim tidak ingin pusat pemerintahan hanya menjadi kumpulan gedung yang sepi setelah jam kerja berakhir.

Ia memiliki gambaran yang lebih besar. Kawasan itu diharapkan berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Kalimantan Utara.

Karena itu, pemerintah daerah membuka harapan agar perguruan tinggi Islam, yakni IAIN, dapat berdiri di kawasan tersebut.

Jika harapan itu terwujud, pusat pemerintahan bukan hanya menjadi pusat administrasi. Ia dapat menjadi pusat pendidikan, Pusat aktivitas masyarakat, Pusat ekonomi dan pada akhirnya menjadi kawasan yang hidup.

Di sanalah sebuah pembangunan fisik mulai menemukan maknanya. Sebuah gedung bukan lagi sekadar beton dan baja. Tetapi menjadi bagian dari mimpi untuk membangun masa depan.

404,2 Hektare dan Sebuah Kepastian

Pembangunan juga tidak hanya berbicara tentang apa yang terlihat oleh mata.

Ada pekerjaan yang mungkin tidak selalu tampak di jalan, tetapi memiliki arti penting bagi masa depan daerah: mengamankan aset.

Bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kantor ATR/BPN Bulungan dijadwalkan menyerahkan sertifikat lahan seluas 404,2 hektare yang menjadi aset Pemerintah Kabupaten Tana Tidung.

Angka 404,2 hektare mungkin terlihat sederhana dalam sebuah berita.

Namun bagi sebuah pemerintah daerah, angka itu memiliki arti besar, Ada kepastian hukum, Ada perlindungan aset.

Ada dasar yang kuat bagi pemerintah untuk merencanakan pemanfaatan lahan di masa depan.

Dan yang paling penting, ada sebuah pesan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengejar apa yang tampak hari ini.

Pemerintah juga harus menyiapkan fondasi untuk generasi yang belum lahir.

“Inilah yang saya sampaikan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Tana Tidung. Inilah perjuangan kita yang telah mengantarkan kita,” ujar Ibrahim.

Dulu Berdebat, Kini Harus Berjalan Bersama

Namun tidak ada perjalanan daerah yang sepenuhnya mulus.

Ibrahim mengakui, dalam perjalanan pembangunan Tana Tidung, pernah ada hiruk-pikuk.

Ada perdebatan, Ada perbedaan pandangan, Ada kepentingan yang tidak selalu berada pada garis yang sama.

Tetapi sejarah, menurut Ibrahim, tidak harus terus dijadikan alasan untuk terpecah.

Perbedaan masa lalu justru harus menjadi pengalaman untuk membangun kesadaran baru.

Bahwa sebuah kabupaten tidak mungkin maju apabila masyarakatnya terus berjalan dalam arah yang berbeda.

“Walaupun dulu pada saat perjuangan ada hiruk-pikuk, ada perdebatan, ada perbedaan, tapi itu kita jadikan sebagai cambuk untuk menyatukan persepsi, untuk menyatukan Kabupaten Tana Tidung, untuk bisa berlari kencang, menyamai kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Utara,” tegasnya.

Ada sesuatu yang kuat dari kalimat tersebut, Menyatukan persepsi, Bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama, Tetapi semua orang harus memiliki tujuan yang sama. Yakni melihat Tana Tidung menjadi daerah yang lebih maju.

Bukan Ibrahim. Bukan Sabri. Tapi Semua

Memasuki usia ke-19, Ibrahim juga menyampaikan pesan yang mungkin menjadi salah satu bagian paling penting dari refleksi hari jadi tahun ini.

Ia tidak ingin pembangunan Tana Tidung hanya dilekatkan kepada nama seorang kepala daerah.

Tidak kepada dirinya. Tidak kepada Wakil Bupati Sabri. Tidak pula hanya kepada DPRD. Sebab sebuah daerah tidak pernah dibangun oleh satu atau dua orang. Pemerintah dapat membuat kebijakan. DPRD dapat menjalankan fungsi pengawasan dan penganggaran. Aparatur dapat melaksanakan program.

Tetapi masyarakatlah yang pada akhirnya menjadi bagian terbesar dari perjalanan pembangunan itu sendiri.

“Kabupaten Tana Tidung tidak boleh dibangun hanya seorang Ibrahim Ali, hanya dengan Sabri, hanya dengan anggota DPRD Kabupaten Tana Tidung dan anggota DPRD Provinsi yang mewakili Kabupaten Tana Tidung,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi ajakan agar seluruh elemen daerah meninggalkan ego masing-masing.

Sebab membangun Tana Tidung bukan perlombaan siapa yang paling berjasa.

Bukan pula tentang siapa yang namanya paling sering disebut.

Pembangunan adalah tentang bagaimana seluruh kekuatan yang ada dapat diletakkan dalam satu arah.

Bahu membahu. Saling menguatkan. Saling mengingatkan, Dan saling mendukung.

“Kabupaten Tana Tidung akan bisa maju ketika seluruh elemen masyarakatnya bersatu, bahu-membahu, dan kita solid untuk saling mendukung untuk membangun Kabupaten Tana Tidung yang kita cintai,” pungkasnya.

19 Tahun, Sebuah Titik, Bukan Garis Akhir

Sembilan belas tahun telah berlalu. Tetapi sesungguhnya perjalanan Tana Tidung baru memasuki babak yang semakin penting.

Apa yang dibangun hari ini akan menentukan wajah daerah beberapa tahun ke depan. Jalan yang dibangun hari ini akan dilalui anak-anak yang kelak tumbuh menjadi generasi penerus.

Rumah sakit yang diperkuat hari ini akan menjadi tempat masyarakat mencari pertolongan ketika membutuhkan.

Kawasan pemerintahan yang dibangun hari ini akan menjadi bagian dari sejarah generasi berikutnya.

Dan aset yang diamankan hari ini akan menjadi warisan bagi pemerintah daerah di masa depan.

Karena itu, Hari Jadi ke-19 tidak seharusnya hanya menjadi panggung untuk mengingat keberhasilan.

Ia harus menjadi alarm untuk terus bergerak. Masih ada jalan yang harus dibuka. Masih ada pelayanan yang harus diperbaiki. Masih ada fasilitas yang harus dibangun. Masih ada masyarakat yang harus dipastikan tidak tertinggal.

Dan masih ada cita-cita besar yang harus diwujudkan. Tana Tidung boleh mengenang masa lalu. Tetapi tidak boleh tinggal di masa lalu. Daerah ini harus terus berjalan. Bahkan berlari.

Sebab setelah 19 tahun berdiri, pertanyaan terbesarnya bukan lagi sudah sejauh mana Tana Tidung berkembang?”

Melainkan:

Seberapa jauh Tana Tidung berani melangkah untuk masa depannya?”

Jawabannya tidak hanya berada di tangan seorang bupati.

Tidak hanya di tangan wakil bupati. Tidak hanya di DPRD.

Tetapi berada di tangan seluruh masyarakat Tana Tidung. Sembilan belas tahun telah menjadi sejarah.

Kini, kebersamaan adalah kunci untuk menulis bab berikutnya.

Paripurna Istimewa tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Tana Tidung Sabri, Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Utara H. Sanusi, unsur Forkopimda, kepala OPD, anggota DPRD, serta sejumlah undangan lainnya. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses