TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Kondisi kebersihan di kawasan Pasar Induk Imbayud Taka, Kabupaten Tana Tidung, menjadi keluhan para penghuni pasar. Tumpukan sampah yang sudah beberapa hari tidak diangkut petugas kebersihan mulai membusuk, menimbulkan bau menyengat hingga mengganggu kenyamanan pedagang maupun pengunjung pasar.
Persoalan ini semakin memprihatinkan lantaran sampah yang menumpuk bukan sekadar sampah kering, melainkan didominasi limbah basah dari aktivitas perdagangan, seperti sisa perut ikan, bulu dan jeroan ayam, serta berbagai sampah organik lainnya.
Berdasarkan keluhan penghuni pasar, sampah tersebut diketahui belum diangkut sejak Jumat. Akibatnya, limbah basah yang dibiarkan terlalu lama mulai membusuk, bahkan dilaporkan telah dipenuhi belatung.
Kondisi tersebut membuat aroma tidak sedap semakin menyengat dan menyebar di sekitar area pasar. Para pedagang dan pengunjung pun terpaksa beraktivitas di tengah lingkungan yang kurang nyaman, terutama mereka yang setiap hari harus berada di kawasan tersebut untuk mencari nafkah maupun memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Salah seorang penghuni pasar mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Mereka berharap petugas kebersihan segera melakukan pengangkutan, mengingat sampah yang menumpuk merupakan limbah basah yang sangat mudah membusuk.
“Sejak Jumat sampah belum diangkut. Ini bukan sampah kering, tetapi sampah basah, seperti perut ikan, bulu dan perut ayam. Sekarang sudah mulai berulat dan baunya sangat tidak sedap. Kasihan anak-anak yang berada di pasar harus mencium bau seperti ini. Kami khawatir kondisi ini bisa berdampak terhadap kesehatan,” keluhnya.
Bagi para penghuni pasar, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut pemandangan yang kurang sedap, tetapi juga berkaitan dengan kenyamanan dan kesehatan lingkungan tempat mereka beraktivitas setiap hari.
Terlebih, pasar merupakan fasilitas publik yang setiap harinya dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah. Aktivitas jual beli bahan pangan, termasuk ikan dan daging, membutuhkan lingkungan yang bersih serta pengelolaan sampah yang memadai.
Jika limbah organik terus dibiarkan menumpuk, pembusukan akan semakin parah dan berpotensi mengundang lalat maupun hama lainnya. Kondisi sanitasi yang buruk juga dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan penyebaran kuman.
Karena itu, pengangkutan sampah di pasar tradisional semestinya menjadi perhatian penting, terutama untuk sampah basah yang membutuhkan penanganan lebih cepat dibandingkan sampah kering.
Para pedagang dan penghuni Pasar Induk Imbayud Taka berharap instansi terkait, khususnya pihak yang bertanggung jawab terhadap pelayanan kebersihan, segera turun tangan melakukan pengangkutan sampah yang telah menumpuk tersebut.
Mereka juga berharap ada evaluasi terhadap jadwal dan mekanisme pengangkutan sampah agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Pasar yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat seharusnya tidak hanya ramai oleh kegiatan jual beli, tetapi juga didukung lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.
Jangan sampai masyarakat yang datang untuk membeli kebutuhan sehari-hari justru harus berhadapan dengan tumpukan limbah membusuk dan bau menyengat. Kebersihan pasar bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari pelayanan publik dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Kini, para penghuni pasar menunggu tindakan nyata dari pihak terkait. Sebab, sampah yang terus membusuk tidak bisa hanya dibiarkan menjadi keluhan, sementara pedagang dan pengunjung setiap hari harus menghirup aroma tidak sedap di tempat mereka beraktivitas. (rko)


