Iraw Tidung Borneo Bersatu Lompatan Pelestarian Adat dan Budaya

by Redaksi Kaltara

NUNUKAN – Kegembiraan, kebahagiaan, dan ucapan syukur tak bisa disembunyikan dari setiap masyarakat yang hadir di pelataran Balai Adat Binusan saat menyaksikan acara penutupan Iraw Borneo Bersatu Tahun 2020 pada Sabtu (14/03).

Semua orang tersenyum dengan bahagia karena Iraw dapat berjalan dengan baik. Tampak di tribun undangan, Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid berbincang ringan dengan Wakil Gubernur Kalimantan Utara Udin Hianggio dan beberapa tokoh adat Tidung sembari menunggu acara dimulai.

Diawali dengan menyanyikan lagu Bebilin yang disambung dengan menari bersama, tampak suasana penutupan itu begitu cair, akrab dan penuh kehangatan. Kebahagiaan juga terpancar dari wajah Bupati Laura, di awal pidatonya Laura mengajak seluruh undangan yang hadir untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena masih diberikan kesehatan sehingga seluruh un dangan dapat bersama menghadiri acara penutupan Iraw. Sebagai ungkapan syukurnya Bupati Luara-pun berpantun :

Indah senja di akhir pekan
Senja teduh langit berawan
Alhamdullilah syukur kepada Tuhan
Acara Iraw berlangsung lancar dan aman

Lebih lanjut Bupati Laura kembali mengulas apa yang telah disampaikannya pada saat acara Pembukaan Iraw tentang khasanah budaya, adat Istiadat, dan silaturahmi.

“Setelah beberapa waktu kita lalui bersama dengan segala kebersamaan maka ketiga hal tersebut telah kita lihat, alami dan lakukan bersama. berbagai sajian tari tarian, seminar, ritual adat, seni beladiri, dan masih banyak pengetahuan lainnya yang telah didapatkan. tentunya akan membersit dalam benak dan sanubari kita, menjadi ingatan semua yang hadir yang nantinya akan menjadi generasi yang siap sedia melestarikan adat dan budaya sebagai kekayaan bangsa”, tutur Laura membuka sambutannya.

Hal ini memang benar adanya, selama 5 hari sejak tanggal 10 Maret, rombongan peserta Iraw Tidung Borneo bersatu telah mulai tiba di Desa Binusan, rombongan ini tak hanya berasal dari wilayah yang ada di Kabupaten Nunukan saja, namun juga yang ada di wilayah provinsi Kalimantan Utara yang meliputi Kabupaten Nunukan, Malinau, Tana Tidung, Bulungan, dan Tarakan.

Itu yang dari Wilayah Kalimantan Utara, diluar wilayah Kalimantan Utara juga hadir Ibu Zakiah dan Bapak Nafsir, Siapakah beliau ?, ternyata dalam sejarah perkembangan dan persebaran suku Tidung, mereka bukan sembarang orang, mereka datang dari Pulau Tidung, Kepulauan Seribu – Jakarta sebagai keturunan ke-5 Raja Pandita, Raja ke-12 kerajaan Tidung Malinau yang diasingkan kolonial Belanda saat masa penjajahan dahulu.

Selain itu juga turut hadir bersama bapak H. Muhammad Idris, seorang keturunan Datu Adil, Raja Kerajaan Tidung Tengara Tarakan yang diasingkan oleh Belanda di Manado pada tahun 1961.

Dan dalam Iraw kali ini, masyarakat Tidung dari dalam negeri berkesempatan berjumpa dan bersilaturahmi dengan rombongan peserta dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Selain silaturahmi, Iraw kali ini dimanfaatkan sebaik baiknya oleh para peserta untuk menggali khasanah budaya Tidung. Aneka festival pun digelar, mulai dari Festival Hadrah, Rudot, dan Kuntaw (seni beladiri khas Tidung). Unjuk kebolehan juga ditampilkan dalam bingkai silaturahmi, Rudot dan Hadrah ditampilkan dari Kabupaten Tana Tidung tepatnya dari Pagun Singkon, dan dari Manjelutung juga menampilkan Tarian Japin.

Sementara itu atraksi Tekiking Bua Tato dari pagun Pelaju Sembakung juga turut tampil, demikian juga tarian japin dari Imbaya taka, Umbus Bejajok, dan masih banyak penampilan dan pagelaran lainnya yang orisinil bernuansa Tidung, selain itu berbagai sanggar tari Tidung juga turut hadir diantaranya adalah Imbaya Taka, Sungai Bilal, Intimung Taka, Baya Tala Bais, dan penampilan Seniman Pagun Bang Alen.

Tidak kalah menarik dari pegelaran seni dan budaya, menggali khasanah budaya melalui forum dan diskusi juga digelar dalam bentuk Seminar dengan tajuk “Lestarikan Budaya Tidung”. Kali ini tokoh muda Tidung yang peduli dengan pelestarian budaya Tidung hadir memandu diskusi yang terdiri atas Tim Pengembang Adat Budaya Tidung, Kepala Desa Binusan Rudi Hartono, dan aktivis dan pelestari Budaya Tidung Robby.

Tak kalah menarik dengan penampilan artis Irma Darmawangsa dan Samsul Lida yang dihadirkan untuk menghibur, seakan menambah kesempurnaan rangkaian Iraw Tidung Borneo Bersatu kali ini, Sanggar Tari Badewa Kebanggaan masyarakat Kabupaten Nunukan yang telah melanglang buana seantero negeri dan telah tampil dalam Festival kebudayaan di luar negeri pun hadir menghibur.

Membawakan tari berjudul Walu Umbang, Gerak Gemulai dan rancak lincah kaki para muda mudi Tidung dalam musik khas Tidung yang menuntunnya ini seakan membius para penonton hadir sehingga tak selangkahpun beranjak dari tempatnya berdiri, bahkan mengerdipkan mata saja sayang rasanya.

Bupati berharap agar dengan terselenggaranya Iraw ini menjadi momentum dan menjadi sebuah batu lompatan untuk pelestarian adat dan budaya Tidung, menjadi penyemangat bagi berkembangnya budaya Tidung yang menjadi kebanggaan bersama. Pelestarian adat dan budaya, menurut Bupati terus menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah kabupaten Nunukan, hal ini telah diwujudkan dengan pembangunan Balai Adat dan progam – program lainnya melalui Dinas Pawisata Kepemudaan dan Olahraga, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan instansi pendukung lainnya.

Dari kegiatan Iraw Tidung Borneo Bersatu tahun 2020 ini, Bupati mengajak segenap yang hadir untuk belajar bagaimana semangat, kegigihan dan kemauan dari panitia penyelenggara yang diketuai oleh H. Surai selaku Ketua Umum Panitia ini dapat mewujudkan hasil yang maksimal.

“Dan ini merupakan wujud nyata dari kemauan masyarakat untuk melestarikan adat dan budaya, dan kedepan pemerintah daerah akan terus mendukung even dan kegiatan yang bernuansa budaya untuk dapat terselenggara, apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Tidung ini kiranya dapat menginspirasi kita semua untuk turut berperan aktif dalam pelestarian adat dan budaya”, imbuh Bupati.

Kepada segenap tokoh adat dan tokoh masyarakat Tidung yang turut hadir, Bupati Laura juga tak lupa mengucapkan terima kasihnya.

“Secara pribadi saya kagum akan totalitas dan komitmen tokoh adat dan tokoh masyarakat Tidung yang terus hadir dan berdiri sebagai tonggak pelestari kebudayaan di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi. Saya berharap kiranya jerih lelah bapak dan ibu semua dapat mengantarkan generasi selanjutnya dalam pelestarian adat dan budaya Tidung. Kami juga mohon doa agar kiranya pemerintah daerah kabupaten Nunukan dapat terus menjalankan amanah yang diberikan oleh masyarakat untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat”, ujar Bupati.

Di akhir sambutannya, Bupati mengekspresikan kegembiraan dan ucapan syukurnya dengan menyanyikan lagu Melayu bergenre Pop Melayu berjudul “Cindai”, mengajak para undangan dan masyarakat menyanyi dan menari bersama.

Tak lupa diakhir sambutannya, turut ingin melestarikan budaya Melayu sebagai salah satu kekayaan bangsa, khususnya seni berpantun sebagai media penyampai pesan dan kesan, Bupati laura-pun menutup rangkaian Iraw Tidung Borneo Bersatu tahun 2020 ini dengan pantun :

Sungguh indah desa Binusan
Padi terhampar udara sejuk disajikan
Bila selendang dadai dara telah dikalungkan
Marilah silaturahmi tetap dipertahankan

Desa Atap ada di Sembakung
Lewat sungai pergi ke Tarakan
Mari bersatu seluruh masyarakat Tidung
Lestarikan budaya untuk masa depan

Ke Pasar Baru membeli bakso
Enak dimakan sewaktu hujan
Selamat dan sukses Iraw Tidung Borneo
Semoga bisa jumpa di tahun depan.

(Red/Humas)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: