TARAKAN — Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Tarakan masih menghadapi sejumlah kendala fasilitas dasar. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pasokan listrik yang hingga kini masih mengandalkan generator set (genset).
Wali Asrama SRT 2 Tarakan, Eko Saputra, mengatakan asrama putra dan putri saat ini telah menempati bangunan yang terpisah. Namun, peserta didik dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) masih berada dalam satu kawasan asrama yang digunakan bersama.
Menurut Eko, pemisahan fasilitas berdasarkan jenjang pendidikan akan dilakukan setelah seluruh bangunan selesai dibangun dan dapat difungsikan secara optimal.
“Untuk sekarang masih gabung, SD, SMP, dan SMA. Nanti kalau bangunannya sudah selesai semua, masing-masing jenjang akan dipisahkan. SD sendiri, SMP sendiri, dan SMA sendiri,” ujarnya, Selasa (27/10/26).
Ia menjelaskan, fasilitas di dalam kamar asrama saat ini meliputi tempat tidur, ranjang, lemari, serta kipas angin. Jumlah penghuni setiap kamar bervariasi, menyesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah peserta didik yang menempati ruangan tersebut.
Eko menilai fasilitas yang tersedia cukup membantu kebutuhan sehari-hari anak-anak, termasuk untuk menunjang kebersihan dan kenyamanan selama tinggal di asrama. Meski demikian, penyempurnaan sarana dan prasarana masih diperlukan agar kegiatan pembinaan dan kehidupan sehari-hari peserta didik dapat berjalan lebih optimal.
Salah satu kendala yang paling dirasakan wali asrama adalah belum tersedianya pasokan listrik yang memadai. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, asrama masih menggunakan genset.
Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri, terutama ketika listrik padam pada malam hari. Eko mengatakan situasi gelap dapat membuat anak-anak merasa takut, khususnya peserta didik usia sekolah dasar.
“Kalau malam hari listrik mati, anak-anak yang masih SD biasanya takut, bahkan ada yang menangis dan berteriak karena kondisi gelap,” ungkapnya.
Selain listrik, persoalan ketersediaan air juga sempat menjadi kendala. Eko menyebut aliran air sebelumnya belum lancar karena terdapat bagian pipa yang mengalami kerusakan.
Namun, menurut dia, kondisi tersebut kini telah membaik setelah perbaikan dilakukan sehingga pasokan air sudah kembali lancar.
“Alhamdulillah, sekarang pipanya sudah bagus dan airnya sudah lancar. Tinggal listrik yang sampai sekarang masih menggunakan genset,” katanya.
Eko berharap penyelesaian pembangunan fasilitas SRT 2 Tarakan dapat dipercepat, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar peserta didik yang tinggal di asrama.
Menurutnya, keberadaan bangunan dan fasilitas yang memadai akan mendukung pemisahan ruang berdasarkan jenjang pendidikan, sekaligus membuat aktivitas anak-anak lebih tertata.
Ia menjelaskan, apabila seluruh fasilitas telah selesai, setiap jenjang pendidikan diharapkan memiliki asrama dan ruang makan masing-masing sehingga kegiatan peserta didik tidak lagi terpusat dalam fasilitas yang digunakan bersama.
“Harapannya pembangunan bisa dipercepat supaya kebutuhan pokok seperti air dan listrik dapat teratasi. Kalau semua bangunan sudah selesai, setiap jenjang bisa memiliki asrama dan ruang makan sendiri, sehingga tidak bercampur,” tuturnya.
Penyelesaian fasilitas tersebut dinilai penting untuk menunjang kenyamanan peserta didik selama mengikuti kegiatan pendidikan dan pembinaan di lingkungan SRT 2 Tarakan.

