Nunukan, MK – Upaya melestarikan budaya daerah terus dilakukan SMPN 1 Nunukan melalui kegiatan kokurikuler, salah satunya diwujudkan dalam Gelar Karya Tari Jepin yang melibatkan ratusan siswa dari berbagai jenjang.
Koordinator kegiatan, Nonik Cahyanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program sekolah yang mengangkat kearifan lokal.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler sekolah yang mengangkat tarian Jepin sebagai bentuk pelestarian budaya daerah,” ujarnya, Rabu(15/04/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9 dengan total sekitar 844 peserta, termasuk guru dan tamu undangan yang turut berpartisipasi.
Menurut Nonik, program ini bukan pertama kali dilaksanakan, sebelumnya, kegiatan serupa pernah digelar dalam bentuk proyek sekitar dua tahun lalu, kini, kegiatan tersebut kembali dihadirkan dengan konsep kokurikuler yang lebih terstruktur.
“Program ini sebenarnya pernah dilaksanakan sebelumnya dalam bentuk proyek sekitar dua tahun lalu, kini, kegiatan tersebut kembali dilaksanakan dengan konsep kokurikuler,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, siswa kelas 9 memiliki peran penting sebagai mentor, mereka yang telah lebih dulu mempelajari tari Jepin membagikan ilmunya kepada adik kelas, yaitu siswa kelas 7 dan 8.
Persiapan kegiatan telah dimulai sejak Januari, latihan dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, selama kurang lebih 50 menit pada hari Senin, Rabu, dan Jumat.
“Dalam proses ini, siswa kelas 9 berperan sebagai pelatih bagi siswa kelas 7 dan 8,” tambah Nonik.
Sebagai bagian dari penilaian, siswa kelas 7 dan 8 diberikan tugas membuat video gerakan tari Jepin, sementara itu, siswa kelas 9 menyusun laporan kegiatan pelatihan yang telah mereka lakukan.
Puncak kegiatan atau gelar karya dijadwalkan berlangsung pada bulan April di stadion, seluruh peserta diwajibkan mengenakan pakaian olahraga selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga agar budaya lokal, khususnya tari Jepin, tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi muda, terutama di lingkungan sekolah.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk melestarikan budaya lokal, khususnya tari Jepin, agar tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi muda,” ungkapnya.
Antusiasme siswa terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung, bahkan, di luar jadwal latihan resmi, banyak siswa yang tetap berlatih secara mandiri.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi kewajiban kurikulum, tetapi juga mulai tumbuh menjadi bagian dari budaya sekolah.
Kegiatan kokurikuler ini sendiri merupakan bagian dari kurikulum wajib yang temanya dapat disesuaikan, untuk semester ini, tema yang diangkat adalah tari Jepin sebagai kearifan lokal.
Nonik berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Harapannya, tradisi ini dapat terus berlanjut dan diwariskan dari siswa ke siswa berikutnya, sehingga tidak hilang seiring waktu,” tutupnya. (**)

