Bangga Produk Lokal, Dekranasda Malinau Dorong Karya Putra-Putri Daerah Tampil di Panggung Nasional

by Isman Toriko

MALINAU, Metrokaltara.com  – Semangat mencintai dan mengangkat produk lokal kembali ditegaskan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi. Di tengah persiapan menuju ajang Grand Final Putri Otonomi Indonesia Tahun 2026, ia berharap seluruh elemen penampilan yang akan dikenakan perwakilan Malinau dapat lahir dari tangan-tangan kreatif putra-putri daerah.

Harapan tersebut disampaikannya saat mengikuti kegiatan ekspose persiapan keikutsertaan Kabupaten Malinau dalam Grand Final Putri Otonomi Indonesia Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Malinau, Kamis (11/6/2026).

Bagi Ny. Maylenty, keikutsertaan Malinau dalam ajang nasional bukan sekadar kompetisi kecantikan dan intelektualitas. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi panggung strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya, kerajinan, dan kreativitas masyarakat Malinau kepada publik Indonesia.

Karena itu, Dekranasda Malinau menyatakan siap memberikan dukungan penuh, khususnya dalam penyediaan kostum dan berbagai aksesoris yang akan digunakan oleh Agnes, perwakilan Kabupaten Malinau pada ajang bergengsi tersebut.

Menurutnya, koordinasi yang selama ini terjalin bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau telah berjalan sangat baik. Sinergi tersebut memungkinkan proses pemilihan dan penyesuaian kostum dilakukan secara cepat dan tepat sesuai kebutuhan penampilan.

“Kami tentunya sangat mendukung kegiatan ini. Kami siap menyiapkan segala sesuatu terkait kostum yang akan digunakan. Koordinasi dengan Dinas Pariwisata juga berjalan sangat baik sehingga dalam satu hari kami bisa memilih kostum bersama Ibu Sekretaris Pariwisata,” ujarnya.

Di balik persiapan busana yang akan dikenakan, tersimpan sebuah cita-cita besar. Ny. Maylenty ingin agar setiap detail yang tampil di atas panggung nasional benar-benar merepresentasikan identitas Malinau. Mulai dari desain pakaian, motif batik, proses jahit-menjahit hingga tata rias, semuanya diharapkan melibatkan talenta lokal.

Baginya, keberhasilan sebuah penampilan tidak hanya diukur dari kemewahan kostum, tetapi juga dari cerita yang menyertainya. Cerita tentang para pengrajin, pembatik, desainer, penjahit hingga perias yang berkarya dari daerah perbatasan dan mampu menghasilkan karya berkualitas nasional.

“Kami ingin sekali yang mendesain baju adalah anak Malinau. Yang membuat batik orang Malinau, yang menjahit juga orang Malinau. Nanti saat lomba bisa disampaikan siapa desainer bajunya, siapa pembuat batiknya, siapa yang menjahit. Bahkan biasanya juga ditampilkan siapa penata rias dan hairdo-nya,” ungkapnya.

Keinginan tersebut sejalan dengan misi Dekranasda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Melalui ajang nasional, para pelaku usaha kreatif Malinau tidak hanya memperoleh ruang promosi, tetapi juga kesempatan membangun jejaring yang lebih luas.

Ny. Maylenty juga mengenang pengalaman saat mendampingi perwakilan Malinau mengikuti kompetisi di Jakarta. Salah satu aksesori yang kala itu mencuri perhatian adalah topi khas yang dikenakan Agnes. Keunikan dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya membuat banyak peserta maupun pengunjung tertarik untuk mengetahui asal-usul produk tersebut.

Dari pengalaman itu, berbagai penyempurnaan terus dilakukan. Dekranasda bersama tim berupaya mencari aksesoris pendukung yang mampu memperkuat karakter budaya Malinau tanpa meninggalkan kesan elegan dan modern.

Setiap detail penampilan dipersiapkan dengan cermat karena mereka memahami bahwa Agnes tidak hanya membawa nama pribadi, melainkan juga membawa identitas Kabupaten Malinau di hadapan publik nasional.

“Apapun itu kami usahakan supaya Agnes tampil lebih baik dan tentunya membawa nama Kabupaten Malinau. Kami bangga bisa mempromosikan produk-produk lokal yang ada di Kabupaten Malinau,” tuturnya.

Melalui dukungan tersebut, Dekranasda Malinau berharap keikutsertaan Agnes pada Grand Final Putri Otonomi Indonesia 2026 tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga menjadi etalase bagi kekayaan budaya dan kreativitas daerah. Sebuah kesempatan untuk menunjukkan bahwa dari wilayah perbatasan Kalimantan Utara, lahir karya-karya berkualitas yang mampu berdiri sejajar di panggung nasional. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses