MALINAU, Metrokaltara.com – Semangat menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas daerah kembali digaungkan dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Desa Budaya Tanjung Keranjang, Kecamatan Malinau Kota, Sabtu (13/6/2026). Perayaan yang berlangsung penuh kebersamaan itu menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya melestarikan adat istiadat, seni budaya, dan bahasa daerah sebagai jati diri masyarakat Malinau.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat, Desa Tanjung Keranjang menunjukkan komitmennya untuk tetap menjaga akar budaya yang telah diwariskan para leluhur. Berbagai pertunjukan seni tradisional, olahraga rakyat, serta kegiatan budaya lainnya turut memeriahkan peringatan dua dekade perjalanan desa tersebut.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Malinau, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau, Dr. Kristian, M.Si., hadir sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Desa Tanjung Keranjang yang terus berupaya mempertahankan nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman.
Dalam sambutannya, Kristian menegaskan bahwa status Desa Budaya yang disandang Tanjung Keranjang sejak tahun 2025 bukan hanya sebuah penghargaan atau simbol semata. Predikat tersebut mengandung tanggung jawab besar untuk terus menjaga, memelihara, dan mengembangkan berbagai unsur budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberadaan Desa Budaya menjadi salah satu benteng penting dalam menjaga identitas daerah. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus memperkuat kesadaran kolektif untuk melestarikan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Memelihara dan melestarikan budaya sebagai bagian dari tatanan nilai luhur masyarakat merupakan konsekuensi sebagai Desa Budaya. Nilai-nilai budaya harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujar Kristian.
Ia menambahkan bahwa budaya tidak hanya berbentuk kesenian atau tradisi adat, tetapi juga mencakup pola hidup, nilai-nilai sosial, kearifan lokal, hingga bahasa daerah yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu isu yang menjadi perhatian khusus dalam sambutannya adalah pelestarian bahasa daerah. Kristian menilai bahasa daerah merupakan identitas yang mencerminkan karakter suatu masyarakat sekaligus menjadi media untuk mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, hilangnya penggunaan bahasa daerah akan berdampak pada memudarnya berbagai warisan budaya lain yang terkandung di dalamnya, seperti cerita rakyat, petuah adat, sejarah lokal, hingga nilai-nilai kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak para orang tua, tokoh adat, pendidik, serta seluruh elemen masyarakat untuk terus mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak sejak usia dini.
“Jangan kita bangga apabila anak-anak dan generasi kita tidak mengenal lagi bahasa daerahnya. Karena itu pertanda salah satu unsur budaya kita akan hilang dan punah,” tegasnya.
Pesan tersebut mendapat perhatian dari masyarakat yang hadir. Di tengah semakin dominannya penggunaan bahasa nasional dan bahasa asing dalam berbagai aspek kehidupan, pelestarian bahasa ibu dinilai menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Perayaan HUT ke-20 Desa Budaya Tanjung Keranjang tahun ini mengangkat tema “Menjunjung Tinggi Adat Istiadat, Bersatu Padu Membangun Desa.” Tema tersebut menggambarkan tekad masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus membangun desa secara berkelanjutan melalui semangat persatuan dan gotong royong.
Meski kegiatan dilaksanakan secara sederhana dengan menyesuaikan kebijakan efisiensi anggaran, suasana perayaan tetap berlangsung meriah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Warga dari berbagai kalangan turut hadir dan berpartisipasi dalam rangkaian acara yang telah disiapkan panitia.
Selain menjadi ajang hiburan dan silaturahmi, perayaan tersebut juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Berbagai kegiatan kesenian dan olahraga tradisional yang ditampilkan diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal sekaligus meningkatkan minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikannya.
Kebersamaan yang terjalin dalam perayaan itu mencerminkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Desa Tanjung Keranjang. Nilai-nilai inilah yang selama ini menjadi fondasi pembangunan desa dan sejalan dengan berbagai program inovasi yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Malinau.
Kristian berharap Desa Budaya Tanjung Keranjang dapat terus menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya. Menurutnya, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan identitas dan warisan budayanya.
“Budaya adalah jati diri kita. Ketika budaya tetap hidup, maka nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur juga akan terus menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Malinau Kota beserta jajaran, para tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, serta warga Desa Tanjung Keranjang yang bersama-sama merayakan perjalanan panjang desa mereka.
Peringatan HUT ke-20 Desa Budaya Tanjung Keranjang akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan usia. Di balik kemeriahan yang sederhana, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya menjaga identitas budaya, melestarikan bahasa daerah, dan meneruskan warisan leluhur kepada generasi mendatang agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. (rko)

