Akibat Harga Pakan Ayam Naik, Pedagang Telur Naikan Harga Telur Ayam Hingga Rp70 Ribu Per Piring

by Isman Toriko

ALAMI KENAIKAN: Harga telur ayam saat ini tembus diangka Rp 70 ribu per piring.

TANA TIDUNG, MK – Harga telur ayam kembali mengalami kenaikan, hal tersebut diakui pedagang akibat dampak dari kenaikan harga makanan ayam, membuat harga telur ayam di Kabupaten Tana Tidung alami kenaikan, yang saat ini mencapai Rp 70 ribu per piringnya

Naiknya harga telur diakibatkan mahalnya harga makanan ayam ditambah lagi biaya transportasi.

Pedagang telur di Pasar Induk Imbayud Taka Tana Tidung Erna Ningsih (37) mengatakan, kenaikan kembali terjadi sudah dari peternakan tempat ia mengambil dan juga ongkos mobil dan expedisi pun naik.

“Memang naik harganya dari peternakan, dan juga sekarang makanan ayam pun ikut naik makanya ada kenaikan harga telur ayam,” ujar Erna kepada Metro Kaltara, Jumat (2/6).

Ia mengakui, kenaikan harga tersebut baru terjadi berapa Minggu terakhir dan penjualan telur pun masih relatif normal.

“Semula harganya perpiring Rp 65 ribu sekarang naik menjadi Rp 70 ribu perpiring. Namun penjualan masih normal,” jelasnya.

Selain itu katanya, telur yang ia jual berasal dari Sulawesi di mana saat ini juga ada kenaikan telur di Sulawesi yang harganya juga alami kenaikan. Sehingga ketika sampai ke KTT harga pun sedikit lebih mahal ditambah biaya transportasi.

Meski harga telur tidak berpengaruh terhadap penjualan, tapi katanya pembeli tidak seramai dulu karena sudah banyak juga penjual telur.

“Ada aja pembeli meski harga telur naik, cuma memang untuk ramainya, sudah tidak terlalu karena banyak juga kan penjual telur jadi rezeki nya bagi- bagi,” jelasnya.

Mama Aulia (39) salah satu pedagang kue itu mengatakan memang harga telur bervariasi ada yang Rp 65 ribu perpiring dan sekarang sudah 70 ribu. Namun kwalitasnya juga berbeda.

“Sebagai pedagang kue pasti mengeluh karena kalau harga telur naik pasti berdampak juga dengan harga kue karena bahan-bahan semua naik,” katanya.

Kualitas telur di Tana Tidung ini berbeda ada yang dari tawau ada juga yang dari Sulawesi di mana katanya, kualitas telur yang dari Sulawesi tidak diragukan lagi.

“Kalau telur Sulawesi itu bagus malah besar- besar lagi telurnya, jarang ada yang busuk karena masih fresh makanya meski ada kenaikan saya tetap beli karena sudah langganan ya mau tidak mau kan,”ungkapnya.

Warga lainya, Tuti (38) tidak mempermasalahkan kenaikan harga telur, karena menurutnya harga telur di KTT turun naik.

“Kalau saya tidak masalah ada kenaikan, karena selain BBM saat ini juga naik, semua bahan bahan juga alami kenaikan harga,” katanya senyum.

Yang terpenting katanya,ketersediaan telur ayam selalu ready tidak terjadi kekosongan masalah harga nomor dua yang terpenting barangnya ada.

“Biar mahal kalau barangnya tidak ada susah juga kan, biar mahal ada barangnya tidak masalah karena ini kebutuhan juga selama ramadan banyak yang buat kue jadi tidak masalah asalkan ada barangnya,” pungkasnya. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.