Bermodal Kebersamaan, Paguyuban Lumajang Tarakan Ukir Prestasi di Pawai Budaya Iraw Tengkayu

by Suiman Namrullah

TARAKAN – Keterbatasan anggaran tidak menjadi penghalang bagi Paguyuban Lumajang Kota Tarakan untuk berkarya. Berbekal semangat gotong royong dan iuran sukarela dari para anggota, paguyuban yang baru pertama kali mengikuti Pawai Budaya Festival Iraw Tengkayu XV berhasil meraih Juara Harapan II pada kategori mobil hias, Sabtu (4/7/26).

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kekompakan, kreativitas, dan kolaborasi mampu menghasilkan penampilan yang mendapat apresiasi, meski dengan sumber daya yang terbatas.

Salah satu inisiator sekaligus sutradara penampilan Paguyuban Lumajang, Yuli Riyanto, mengatakan keikutsertaan paguyuban tersebut tidak semata-mata berorientasi pada perlombaan, tetapi juga bertujuan memberikan motivasi kepada komunitas dan paguyuban lain agar berani berpartisipasi dalam berbagai kegiatan budaya.

Menurut Ryan, sapaan akrabnya, masih banyak komunitas yang merasa ragu untuk tampil karena terkendala pendanaan maupun sumber daya. Padahal, menurutnya, keterbatasan tersebut dapat diatasi melalui kebersamaan dan semangat gotong royong.

“Yang ingin kami sampaikan bukan hanya soal lomba, tetapi semangat bahwa paguyuban yang masih baru sekalipun bisa berkarya. Jangan merasa kecil hanya karena keterbatasan,” ujar Ryan.

Ryan menjelaskan, persiapan diawali dengan iuran anggota sebesar Rp50 ribu per orang. Dana yang terkumpul kemudian diperkuat melalui dukungan berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masyarakat Lumajang, hingga para donatur. Secara keseluruhan, bantuan yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp14 juta.

“Dana awal memang sangat terbatas. Tapi karena semua bergerak bersama, UMKM ikut membantu, donatur juga peduli, akhirnya semua kebutuhan bisa terpenuhi,” katanya.

Ia menyebut dukungan juga datang dari Ketua DPW Partai NasDem Kalimantan Utara Supa’ad Hadianto, Anggota DPRD Kota Tarakan Adyansa, Wakil Wali Kota Tarakan Ibnu Saud, serta masyarakat Lumajang yang berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Selain itu, Ryan memberikan apresiasi kepada tokoh masyarakat Lumajang, Muhammad Hanafi, yang dinilai berperan dalam mengoordinasikan kebutuhan pendanaan sekaligus menggerakkan partisipasi warga selama proses persiapan.

“Kalau saya bertugas menyusun konsep dan menyutradarai penampilan, Mas Hanafi yang memastikan seluruh kebutuhan di lapangan terpenuhi. Beliau terus mengajak warga Lumajang bergotong royong hingga semua kebutuhan bisa tercukupi,” ujarnya.

Dalam pawai budaya tersebut, Paguyuban Lumajang mengangkat tema Gunung Semeru dan sejarah Kerajaan Lumajang. Konsep yang dihadirkan dikemas dalam bentuk pertunjukan teatrikal yang memperkenalkan sejarah dan budaya daerah asal kepada masyarakat.

Ryan mengatakan konsep tersebut dipilih agar penampilan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukasi.

“Kami ingin menghadirkan sebuah cerita. Dari awal hingga akhir perjalanan, kami menyampaikan kisah tentang Lumajang melalui pertunjukan,” katanya.

Meski menghadapi sejumlah kendala teknis, seperti keterbatasan peralatan dan sistem suara, seluruh anggota tetap berupaya menampilkan pertunjukan secara maksimal.

Bagi Ryan, capaian Juara Harapan II menjadi awal yang positif bagi Paguyuban Lumajang yang baru pertama kali mengikuti Festival Iraw Tengkayu. Keberhasilan tersebut juga menjadi motivasi untuk mempersiapkan penampilan yang lebih baik pada penyelenggaraan berikutnya.

“Ini pertama kalinya. Awalnya banyak yang belum percaya diri. Tapi setelah mencoba, ternyata bisa berprestasi. Bahkan sekarang sudah mulai menyiapkan konsep untuk pawai tahun depan,” ungkapnya.

Di akhir keterangannya, Ryan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga Paguyuban Lumajang dapat mengikuti festival dan meraih penghargaan.

“Terima kasih kepada Pak Supa’ad Hadianto, Pak Adyansa, Pak Ibnu Saud, para pelaku UMKM, dan seluruh masyarakat Lumajang di Tarakan. Dukungan mereka membuat kami semakin percaya diri dan membuktikan bahwa kebersamaan mampu melahirkan sesuatu yang membanggakan,” tutupnya.

Keberhasilan Paguyuban Lumajang menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran. Semangat gotong royong, partisipasi masyarakat, dan kerja sama menjadi faktor penting yang mendorong komunitas tersebut mampu tampil kompetitif dalam ajang budaya tingkat daerah.

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses